Bali Tribune, Rabu 25 April 2018
Diposting : 31 January 2018 15:40
Agung Samudra - Bali Tribune
piodalan
Keterangan Gambar: 
Pelaku Ni Nyoman Pastini dirawat diruang IPCU RSUD Bangli.
BALI TRIBUNE - Gangguan jiwa yang diderita Ni Nyoman Pastini (31) kambuh, ia pun mengamuk. Berbekal golok, Pastini yang menderita gangguan jiwa sejak tamat SMP ini membabat leher ibu kandungnya, Ni Nyoman Tutur (67) di rumahnya Banjar/Desa Belancan, Kintamani, Senin (29/1) lalu. Akibatnya, Ni Nyoman Tutur mengalami luka serius pada bagian leher sebelah kanan dan harus menjalani perawatan intensif di RS BMC Bangli.
 
Menurut anak keempat korban, I Ketut Kartana, saat kejadian rumah dalam keadaan sepi, sehingga tidak ada yang tahu persis peristiwa penganiayaan yang dialami  ibunya itu. Kartana mengaku Senin sore  meninggalkan rumah untuk mencari bambu di tegalan guna persiapan upacara piodalan di rumahnya.
 
Sekitar pukul 17.30 Wita, ia kembali ke rumah dan mendengar suara minta tolong. Ketika itu didapati Ibunya sedang ada di halaman rumah dengan kondisi berdarah-darah. “Tiba di rumah saya sudah menemukan ibu dalam kondisi berdarah-darah di pekarangan rumah, sementara kakak saya Ni Nyoman Pastini masih memegang golok yang berlumuran darah di dapur,“ ujar I Ketut  Kartana ditemui di RSJP Bangli tempat kakanya dirawat.
 
Ia pun segera menghampiri ibunya dan meminta pertolongan keluarga terdekat. Kartana mengakui bila dirinya berusaha merebut golok tersebut dari tangan Pastini. "Saya yang rebut goloknya, tidak ada perlawanan," jelasnya.
 
Beberapa keluarga terdekat berdatangan ke rumah, yang mana sebagian mengurus ibunya  agar segera mendapat perawatan serta sebagian membawa Pastini ke RSJP Bali. "Kami bagi tugas agar penangan lebih cepat," ungkapnya.
 
Anak dari pasangan Ni Nyoman Tutur dan almarhum I Nengah Naja mengatakan  kakaknya  Pastini mengalami gangguan kejiwaan sejak lulus sekolah menengah pertama (SMP). Pastini sudah sering keluar masuk rumah sakit jiwa. Dikatakan, baru kali ini Ia mengamuk hingga menggorok leher ibunya.
 
Ketika kumat, Pastini sering bicara sendiri, dan tiba-tiba tidak bicara. Namun saat kondisi normal Pastini sangat rajin membatu bekerja di ladang seperti mencari pakan ternak. "Bila kejiwaannya stabil sering membantu saya mencari rumput untuk pakan ternak di lading,” sebutnya.
 
Seminggu terakhir Pastini sering kumat. Barang yang ditemui dilempar-lempar seperti perabotan rumah tangga. Sementara itu anggota keluarga yang lain, I Nengah Darmawantara keponakan Ni Nyoman Tutur  mengungkapkan dirinya yang membawa korban ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi.
 
Sebelum dibawa ke rumah sakit, pihaknya sempat membawa ke klinik di Kintamani hanya saja tidak bisa melakukan penanganan. "Katanya tidak ada benang di klinik yang lain tidak ada dokter jaga. Akhirnya kami bawa kesini," jelasnya.
 
Sampai di RS BMC Bangli sekitar pukul 19.00 Wita, dari diagnose dokter dikatakan mengalami pendarahan akibat pembuluh darahnya putus. Akhirnya  sekitar pukul 22.00 Wita korban menjalani operasi dan  baru selesai sekitar pukul 02.00 dini hari. ”Luka di leher sepanjang 11 centimeter, lebar 4 centimeter dan dalam 1 centimeter,” jelasnya. Pasca-operasi kini kondisi Ni Nyoman  Tutur sudah sadar diri dan bisa berkomunikasi dengan keluarga.
 
Direktur RSJP Bali, Gede Bagus Darmayasa mengungkapkan pasien Pastini kini dalam perawatan di ruang IPCU. Dari rekam medik, yang bersangkutan sering masuk rumah sakit, hanya saja beberapa tahun terakhir tidak melakukan kontrol.
 
"Pasien ini merupakan pasien dari tahun 2002, namun pengobatan tidak berkelanjutan. Akibat pengobatan yang tidak teratur atau berkelanjutan mengakibatkan kondisi yang bersangkutan semakin parah," jelasnya.