Diposting : 3 September 2018 22:05
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
Parade Budaya HUT Kota Negara ke-123 dibuka dengan pemukulan bumbung gebyog.
BALI TRIBUNE - Setelah berlangsung dua bulan dengan berbagai rangkaian kegiatan, Peringatan HUT Kota Negara ke-123 akhirnya resmi ditutup dengan Parade Budaya Jembrana 2018, Sabtu (1/9) lalu. Sedikitnya 20 peserta serta kurang lebih 3.500 seniman turut berpartisipasi dalam kegiatan parade  tahun ini. Para peserta mengambil start dari taman makam pahlawan Jembrana, melintasi jalan sudirman dan berakhir di Taman Pecangakan Jembrana.
 
 Sesuai dengan tema besar HUT Kota tahun ini yakni Bhuana Kanti yang berarti sinergitas pembangunan dengan keharmonisan dan keseimbangan berlandaskan Tri Hita Karana, peserta pawai didominasi oleh sajian yang mengusung budaya, adat istiadat serta ritual yang sejak lama menjadi bagian keseharian masyarakat Jembrana dan Bali.
 
Parade dibuka  dengan pemukulan bumbung gebyog oleh Pj Gubernur Bali yang diwakili Karo Administrasi Pengadaan Barang dan Jasa Setda Prov Bali (Drs I Ketut Adiarsa,  MH), bersama  Bupati Jembrana I Putu  Artha,Wabup Kembang Hartawan,ketua DPRD Ketut Sugiasa beserta jajaran Forkopimda lainnya.  
 
Rentetan parade dibuka dengan tari cempaka putih mekepung diiringi gamelan jegog dibawakan oleh anak-anak SMP se-Jembrana. Tari ini juga merupakan ikon seni Jembrana yang menggambarkan keindahan bunga cempaka putih dengan pohonnya yang rindang. Selain itu, turut ditampilkan tarian mekepung dikolaborasikan musik jegog, melibatkan lebih dari 100 orang penari.
 
Berturut-turut  kirab lambang daerah Kabupaten Jembrana ditampilkan, yang berisi barisan barisan Pengasepan, barisan Cane, barisan Tebu, barisan Kober, barisan Bandrang, barisan Tedung Agung, barisan Umbul-Umbul,  barisan Payas Agung Payas Agung,  barisan nusantara dari FAD Jembrana dengan pakaian Bhinneka Tunggal Ika, mengambarkan keragaman serta kerukunan yang telah terjalin selama ini.
 
 Pada barisan pembuka parade ini juga tampil atraksi baleganjur dari SMP Negeri 1 Negara yang merupakan pemenang Festival Baleganjur Kabupaten Jembrana tahun ini. Yang tak kalah menarik adalah tabuh kreasi Buluh Ganjur yang dibawakan oleh seniman Jembrana.
 
Seni tabuh inovasi ini tergolong bentuk transformasi gamelan baleganjur dalam media bambu sebagai hasil alam. Musik ini juga penggambaran ciri khas Kabupaten Jembrana yakni alat musik bambu (buluh). Penampilan seni dari masing-masing kabupaten se-Bali turut memeriahkan parade budaya kali ini. Seperti duta Kabupaten Buleleng yang menampilkan wayang wong Tejakula yang berasal dari warisan budaya leluhur diperkirakan sudah ada sejak pertengahan abad ke-17.
 
 Selain itu duta Kabupaten Karangasem yang menampilakan gebug ende. Penampilan seniman gumi lahar ini mendapat perhatian dari ribuan penonton yang memadati jalan sudirman sedari siang. Tarian ini juga kaya filosofi dipercaya bagian ritual memohon kesuburan serta turunnya hujan. Bentuk kehormatan, panitia parade kali ini juga mengundang duta kesenian luar Bali yakni Banyuwangi dengan fragmen tari Legenda Gunung Tumpang pitu, serta Kesenian dari Kabupaten Kediri menampilkan arak-arakan putri sanggalangit. Bupati Jembrana, I Putu Artha dalam sambutannya menyatakan  Kota Negara memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang dengan berbagai dinamikanya dan terus berkembang sampai sekarang.
 
 Karena itu Bupati Artha meminta dukungan partisipasi dari segenap masyarakat untuk memupuk kebersamaan ditengah kebhinekaan, sehingga Jembrana makin nyaman, rukun dan damai. Terkait dengan parade Budaya yang merupakan event tahunan sekaligus rangkaian pamungkas peringatan HUT Kota Negara ke-123 dikatakannya bertujuan untuk melestarikan seni dan budaya serta menjaga semangat persatuan.
 
“Untuk itu saya  mengucapkan rasa terimakasihnya kepada para bupati/walikota serta para seniman atas dukungan dan partisipasinya dalam kegiatan ini,” tandas orang nomor satu di bumi makepung Jembrana ini.