Bali Tribune, Senin 21 Agustus 2017
Diposting : 8 August 2017 18:28
Komang Arta Jingga - Bali Tribune
Danu Beratan
Keterangan Gambar: 
BENDU PIDUKA- Guna mensucikan kembali kawasan DTW Ulun Danu Beratan pasca aksi penutupan belum lama ini, warga Gebog Pesatakan Beratan menggtelar ritual Guru Piduka bersaranakan banten Bendu Piduka. Tampak ratusan warga saat mengikuti pelaksanaan ritual dimaksud di Jeroan Pura Ulun Danu Beratan, Senin (7/8) sore kemarin.

BALI TRIBUNE - Guna menjaga kesucian kawasan Daerah Tujuan Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan, Gebog Pesatakan Beratan menggelar upacara penyapsap, guru piduka serta bendu piduka, Senin (7/8) sore kemarin. Dipuput sulinggih asal Gria Cau Belayu Marga, ritual ini merupakan upaya tindak lanjut secara niskala pasca aksi penutupan oleh oknum yang mengatasnamakan pengempon pura beberapa waktu lalu.

Di sela-sela kegiatan Manager operasional DTW Ulundanu Beratan, I Wayan Mustika didampingi Sekretaris operasional, I Wayan Parwata menyampaikan, rangkaian upacara ini merupakan hasil rapat Gebog pesatakan Beratan tertanggal 28 Juli 2017 lalu.

Dikatakannya, dalam rapat disepakati untuk menggelar upacara pembersihan areal Pura dan kawasannya untuk menghapus leteh Pura.

Prosesi diawali dengan ritual Rsi Gana di Jeroan Pura dilanjutkan dengan ritual pecaruan manca sanak di masing-masing pelinggih serta kawasan nista mandala (parkir, red).

“Tujuannya adalah untuk menyucikan kembali kawasan Pura yang terkenal dengan keindahan danaunya,”ucap Mustika.

L;anjut dijelaskan Mustika, ritual guru piduka ini dilaksanalan mengingat saat aksi yang dilakukan tanggal 26 ada kegiatan yang dilakukan diluar konteks persembahyangan di areal Pura seperti dharma wacana yang justru sifatnya provokatif dan adanya aksi pemasangan spanduk di areal kawasan.

“Upacara ini salah satu poin hasil rapat pengempon pura pasca aksi, dan atas dasar restu bhagawanta puri dan angga puri yakni puri marga sebagai penganceng, kami sepakat untuk menyucikan kembali pura dan arealnya,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, salah satu obyek wisata di kecamatan Baturiti Tabanan ini sempat terjadi ketegangan akhir bulan Juli kemarin. Pasalnya ada sejumlah warga berbaju adat mengatasnamakan pesatakan Ulun D Beratan melakukan aksi pemasangan spanduk penutupan Pura Ulun Danu Beratan.

Setelah ditelisik, permasalahan ini muncul karena adanya masalah intern antara Gebok Pesatakan yang terdiri dari 15 desa adat dan tiga kelian dengan anggota pesatakan lama. Aksi pemasangan spanduk sendiri hanya dihadiri pesatak lama dan bukan dari Gebok Pesatak.

Selain itu bedasarkan informasi, aksi tersebut juga dipicu karena adanya dugaan penyelewengan dana pembagian pah pahan penghasilan DTW Ulun Danu kepada pengurus pengempon Pura sekitar Rp 37,5 miliar. Dan, kini kasus tersebut tengah ditangani pihak kepolisian di Tabanan.

“Karenanya pesatak lama diberhentikan. Inilah yang diduga memicu permasalahan,” pungkas Mustika.