Diposting : 28 September 2017 21:00
Redaksi - Bali Tribune
Gunung Agung
Keterangan Gambar: 
TERKINI – Kondisi terkini Gunung Agung yang aktivitasnya terus meningkat, Rabu (27/9) sehingga PVMBG mengeluarkan “peringatan bahaya” bagi penerbangan supaya tidak melintas di atas Gunung Agung.

BALI TRIBUNE - Pusat Vulcanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM melalui Pos Pantau Gunung Agung secara resmi mengeluarkan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) atau zona berbahaya bagi pesawat melintas pada Selasa (26/9). Artinya sejak dikeluarkannya zona larangan tersebut, pesawat harus mencari rute lain untuk menghindari bahaya jika tiba-tiba Gunung Agung meletus.

Kabid Mitigasi dan Geologi PVMBG, Kementerian ESDM, I Gede Suantika, kepada wartawan Rabu (27/9), membenarkan terkait telah dikeluarkannya VONA atau larangan melintas di atas Gunung Agung bagi pesawat terbang tersebut. Menurutnya, VONA dikeluarkan untuk arah penerbangan. Terutama untuk menghindari bahaya abu vulkanik yang menyebar di udara, dimana lalu lintas penerbangan di udara sangat padat dan sangat memerlukan informasi sebaran abu vulkanik.

“Abu vulkanik itu halus sekali. Jika pesawat masuk ke dalam wilayah VONA yang merupakan wilayah sebaran abu gunung api yang halus, maka mesin pesawat akan menyedot abu itu, kemudian abu vulkanik yang halus akan terkumpul dalam mesin. Kemudian karena panas di atas 500 derajat, abu ini akan meleleh dan berubah menjadi gelas dan akhirnya akan melapisi turbin. Lama-lama karena menebal, turbin pesawat akan mati dan bisa menyebabkan kecelakaan,” tandasnya.

Suantika mengatakan, untuk Gunung Agung, pihaknya telah mengeluarkan VONA, yang karena kondisi gunung api ini masih kritis dalam level awas, pihaknya memasang ketinggian abu pada level “orange”. Ia menjelaskan, dalam level abu gunung api dimulai dari green, yelow, orange dan red.

“Nah kalau sudah red berarti sudah ada kepulan abu vulkanik di udara. Yelow artinya lontaran abu masih rendah, ini berkaitan dengan tinggi saja sih sebenarnya ya! Kalau ketinggiannya lebih dari 1.000 kaki, itu sudah masuk zona red, nah kalau masih orange dan yelow masih di bawah 1.000 kaki,” terangnya.

Untuk Gunung Agung sendiri kata Gede Suantika, karena belum meletus maka abunya belum muncul, jadi ada gejalanya saja yang diumumkan ke pilot bahwa levelnya orange artinya setiap saat Gunung Agung bisa meletus, dan letusannya akan mampu melontarkan abu ke udara itu sejauh 5-10 kilometer.

“Nah itulah yang ditakutkan. Misal saat ini Gunung Agung dalam kondisi kritis, kemudian tiba-tiba pesawat melintas, nah kalau pilotnya tidak memiliki informasi terkait ini, jadi pesawat asal masuk saja ke atas areal zona merah itu, lalu Gunung Agung tiba-tiba meletus besar maka akan sangat berbahaya,” ulasnya, sembari menegaskan jika eksploitasi Gunung Agung dalam estimsi PVMBG berkisar antara 5-10 kilometer, dan sementara saat ini masih nol.

Terkait saat ini apakah pesawat masih bisa lewat di atas Gunung Agung atau tidak, ia mengaku tidak tahu karena itu tergantung kewenangan dari pihak otoritas bandara, sedangkan pihaknya hanya mengeluarkan Travel Orange. Artinya dengan level Orange ini otoritas penerbangan dan pilot harus mewaspadainya.