Bali Tribune, Minggu 27 Mei 2018
Diposting : 3 January 2018 20:05
Redaksi - Bali Tribune
vulkanik
Keterangan Gambar: 
TERTUTUP ABU - Hektaran tanaman cabai petani di Desa Batusesa, Rendang, tertutupi abu vulkanik dari hujan abu lebat yang terjadi selama dua hari terakhir.

BALI TRIBUNE - Hektaran tanaman cabai dan bunga gumitir terpapar hujan abu lebat dari letusan Gunung Agung yang terjadi selama dua hari terakhir ini. Tanaman cabai dan bunga gumitir milik sejumlah petani ini terancam rusak dan mati, artinya ancaman gagal panen mulai membuat para petani galau.

Ketua Pasemetonan Jagabaya (Pasebaya) Agung lingkar Gunung Agung, I Gede Pawana, kepada wartawan, Selasa (2/1), menyebutkan, dari informasi yang dilaporkan para relawannya yang tersebar di 28 desa terdampak di lingkar Gunung Agung utamanya di KRB III, hujan abu melanda sejumlah desa diantaranya di Banjar Temukus Desa Besakih, Desa Temukus Kecamatan Rendang, Banjar Badeg, Banjar Pura, dan Banjar Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat Karangasem. “Namun hujan abu paling lebat melanda wilayah Desa Batusesa, Rendang. Disana selain menutupi tanaman pertanian, jalan di desa itu juga tertutupi abu vulkanik setebal kain kasa,” ujar Gede Pawana.

Apa yang disebutkan Gede Pawana memang benar, dari pantauan koran ini langsung dari Desa Batusesa, hektaran lahan pertanian warga di desa ini yang ditanami cabai kecil dan cabai besar serta bunga gumitir dan lida buaya hampir seluruhnya terpapar atau ditutupi abu vulkanik yang cukup tebal.

Bahkan beberapa petak tanaman cabai besar yang sudah siap panen, buah cabainya mulai berjatuhan karena cepatnya pembusukan. “Kalau dampak yang paling besar dirasakan oleh petani karena tanaman cabai dan gumitir mereka ditutupi abu vulkanik yang cukup tebal,” tandasnya.

Untuk melihat seberapa parah dampak hujan abu vulkanik yang terjadi pada hari Minggu dan Senin lalu tersebut, pihaknya akan segera turun bersama sejumlah relawan lainnya ke Banjar Temukus, Besakih. Utamanya untuk mengecek kondisi air di embung geomembran yang berlokasi di kaki Gunung Agung di Banjar tersebut. “Kami akan naik untuk mengecek kondisi air di  embung itu, apakah masih layak atau tidak,” tegasnya.

Sebab sejumlah embung yang ada di KRB III banyak yang tidak layak minum, salah satunya embung yang berada di Pasar Agung, dimana airnya berubah warna menjadi kuning kecoklatan seperti air blerang.