Bali Tribune, Selasa 19 Juni 2018
Diposting : 12 April 2018 18:08
Ketut Sugiana - Bali Tribune
evaluasi
Keterangan Gambar: 
SANDAR - Kapal Roro NJA dari Nusa Penida saat sandar di Pelabuhan Padang Bai.

BALI TRIBUNE - Dengan dikuranginya jadwal trip Kapal Roro NJA yang biasa melayari jalur Padang Bai menuju Sampalan, Nusa Penida sejak Maret 2018 lalu dengan alasan adanya perbaikan dermaga, membawa dampak ekonomi yang sangat pincang, karena harga harga kebutuhan pokok, terutama harga sembako di Nusa Penida dikhawatirkan bakal naik.

Kabid Pelayaran Dishub Klungkung Gusti Ngurah Suarba dihubungi, Rabu (11/4), menyebutkan, kondisi penyeberangan dari Padang Bai menuju Nusa Penida sangat terganggu dengan diberlakukannya 1 trip saat ini. Disamping itu penyesuaian tarif  untuk Kapal Roro Nusa Jaya Abadi ini sudah dalam rencana dan baru sebatas dibuat kajiannya. Menurutnya, penyesuaian tarif Kapal Roro ini perlu diubah karena dibuat tahun 2014, dan itu sudah berlangsung lama sekitar  3 tahun belum pernah dievaluasi.

“Pertimbangan penyesuaian harga ini mengikuti inflasi setiap tahun, perlu kita evaluasi. Indikatornya  evaluasi 3 tahun belum dilakukan dan dipertimbangkan juga besaran inflasi tahun ini. Idealnya berapa sih kenaikan tarif? Ini belum dibahas detailnya. Ini masih kajian. Kita bahas dengan stakeholder terkait. Namun saat ini kita belum sampai di sana,” beber Gusti Suarba.

Seperti diketahui masyarakat luas, saat ini tarif Kapal Roro NJA dari Padang Bai menuju Sampalan, Nusa Penida sebesar Rp  31.000  (penumpang per orang). Sementara itu dari Sampalan, Nusa Penida dikenai tarif sebesar  Rp 27.300. Dasar tarif Pergub No 10 tahun 2014. Tarif dasar penumpang Rp 35 ribu, untuk anak-anak Rp 20 ribu. Namun realitanya komponen tiket sudah termasuk ada jasa ke pelabuhan dan tanggungan  asuransi.

”Kalau di Nusa Penida kita yang mengelola di Nusa Penida berdasakan perda Kabupaten Klungkung. Sementara di Pelabuhan Padangbai tarif  ditetapkan oleh ASDP berdasarkan hasil keputusan Direksi. Ke depannya, kita berharap tidak ada perbedaan tarif lagi. Sebelumnya kita nanti kita rapatkan stakeholder terkait untuk membahas solusi ini,” sebut Suarba.
Menurutnya, penyesuaian tarif kedua diabaikan karena tarif biar sama dan menyetarakan  dengan kenaikan inflasi. “Nanti kita koordinasikan dengan ASDP. Karena kewenangan pelintasan  dan tarif itu adalah kewenangan pihak provinsi. Kami hanya mengusulkan berdasarkan kajian,” imbuhnya.

Rencana ini baru internal saja dan belum dilakukan. Untuk sementara tarif masih disubsidi. Dari layanan dan pendapatan operasional Kapal Roro NJA, pendapatannya  Rp 1, 5 sampai 2 miliar  pertahun subsidinya. “Kita upayakan  optimalkan  pelayaran kapal Roro NJA  yang sekarang 1 trip kita akan kordinasikan dengan ASDP,” kata Suarba.

Menurutnya, ancang-ancang kenaikan tarif tergantung kajian. ”Jika diperhitungkan ketemu kenaikan sekitar  17 persenlah, agar operaisonal Kapal Roro NJA bisa optimal, jika sudah optimal bisa layani 2 trip perhari. Jika itu terlaksana, yang jelas pertama berikan peningkatan pelayanan prima. Syukur nantinya bisa meningkatkan PAD Kabupaten Klungkung,” harapnya.