Diposting : 26 April 2016 15:11
I Made Darna - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
Penderita kulit bersisik, Arya Nugraha asal Banjar Tengguan, Bongkasa saat bersama keluarganya beberapa waktu lalu.

Mangupura, Bali Tribune

Penderita penyakit kulit bersisik, I Wayan Abdi Arya Nugraha, 18, sampai saat ini belum mendapat pengobatan dari Pemkab Badung. Padahal, warga asal Banjar Tengguan, Desa Bongkasa, Abiansemal ini sejak kecil kulit sekujur tubuhnya melepuh hingga jari-jari kaki dan tangan putus.

Keluarga Arya Nugraha pun ‘teriak’ ke pemerintah agar diberi perhatian seperti halnya penderita benjolan di hidung atas nama Dodi asal Banjar Abing, Desa Sulangai, Petang. “Saya heran kenapa pemerintah kurang membantu, justru orang asing yang membantu kami,” keluh Ketut Susana, orang tua Abdi Nugraha, Senin (25/4).

Ia pun minta pemerintah memperlakukan putranya sama seperti warga Badung lainnya yang sudah lebih dulu mendapat penanganan. “Sampai saat ini kami belum ada petunjuk maupun informasi kalau anak kami akan diobati pemerintah,” katanya.

Padahal, kata Susana sejak lama pihaknya berharap pemerintah datang memberikan pengobatan anaknya. Sejak istri Bupati Badung Ny Seniasih Giri Prasta berkunjung ke rumahnya, pihaknya bahkan selalu menunggu-nunggu kabar pengobatan anaknya. Namun, sayangnya hal yang ditunggu justru tak kunjung datang. “Saya sejak lama sudah menunggu kelanjutan penanganan setelah dikunjungi tim medis,” terang Susana.

Saat dikunjungi istri Bupati Badung bersama tim medis, Susana hanya diberikan informasi jika di RSUD Mangusada alat medis sudah lengkap, termasuk dokter bedah plastic, dokter anestesi. “Cuma diberikan infromasi begitu, tanpa ada disuruh antar ke sana,” tegas Ketut Susana.

Pengakuan berbeda justru datang dari pihak pemerintah. Dirut RSUD Mangusada dr. Agus Bintang Suryadhi dikonfirmasi terpisah justru mengatakan untuk penanganan Arya Nugraha masih menunggu kesiapan keluarga.

“Untuk yang Bongkasa (Arya Nugraha) kami sudah minta pihak keluarga untuk mengantar ke rumah sakit, sampai sekarang belum diantar oleh keluarganya. Kami masih menunggu kapan akan diantar ke rumah sakit. Kami sudah minta pak camat (Abiansemal) untuk berkomunikasi dengan keluarganya,” kata dr Bintang.

Pada intinya, tegas dr Bintang pihaknya menunggu kesiapan keluarga, kemudian baru dapat diambil tindakan medis. “Prosedurnya nanti tim medis yang akan menentukan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan. Yang jelas kami akan merekonstruksi mengembalikan seperti keadaan semula,” katanya.

Camat Abiansemal, Putu Ngurah Thomas Yuniarta juga mengaku telah menyampaikan informasi tersebut kepada pihak keluarga. “Kami sudah sampaikan kepada keluarga. Tapi pada saat itu dikatakan masih minta waktu karena ada pamannya yang juga masih sakit, agar pikiran tidak terpecah,” kata Thomas.