Kunjungi Puri Gianyar, BIFS Teliti Eksistensi Subak | Bali Tribune
Diposting : 22 August 2016 12:43
rls - Bali Tribune
subak
SUBAK - Akademisi dari berbagai universitas di Indonesia serta Universitas Kyoto, Jepang yang tergabung dalam kegiatan BIFS 2016 mengadakan penelitian terhadap sistem pengelolaan subak di Kabupaten Gianyar.

Gianyar, Bali Tribune

Subak di Kabupaten Gianyar kembali mendapat perhatian serius. Beberapa Akademisi yang berasal dari berbagai universitas di Indonesia serta Universitas Kyoto, Jepang yang tergabung dalam kegiatan Bali International Field School (BIFS) 2016 mengadakan penelitian terhadap sistem pengelolaan subak di Kabupaten Gianyar.

Mereka akan berusaha menelaah bagaimana keberlanjutan subak di Kabupaten Gianyar. Mengingat Subak di Gianyar sudah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia dari UNESCO. Hal tersebut terungkap saat pertemuan BIFS dengan Bupati Gianyar AA Gde Agung Bharata, beserta para ahli budaya Kabupaten Gianyar di Puri Agung Gianyar, akhir pekan lalu.

Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Hasim Djojohadikusumo, mengatakan, ini merupakan kali kedua melakukan penelitian subak Kabupaten Gianyar. Adapun penelitian sistem subak diadakan selama kurang lebih satu minggu, mulai (17/8) dan berakhir (22/8) di Nyuh Kuning, Ubud. Hashim berharap seluruh peserta mendapat pengalaman yang berharga selama penelitian.

“Dengan keberagaman budaya, dan karakter masyarakat yang bersahabat, semoga kalian dapat memetik sesuatu yang bermakna,”ucapnya. Selanjutnya, Hasim berharap kerjasama ini dapat terjalin secara berkesinambungan agar ke depannya subak dapat lebih bermanfaat mengingat air merupakan sumber kehidupan masyarakat.

Bupati Gianyar, AA Bharata, mengatakan, sebuah kehormatan bagi Pemkab. Gianyar telah dipercaya menjadi tuan rumah BIFS 2016. Ini merupakan kesempatan besar untuk membangun hubungan dari sisi budaya antar negara yang berpartisipasi. “Hal ini sejalan dengan komitmen Pemkab Gianyar untuk menjaga warisan pusaka budaya yang kami miliki,”ucapnya.

Bharata berharap, penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan sistem subak sejauh ini. Sebab, seiring perkembangan zaman, peninggalan sejarah seni dan budaya mengalami ancaman, yang salah satunya dari vandalisme. “Saya harap, kesadaran masyarakat akan keberadaan subak ini makin tergugah,”ucapnya.

Bicara prestasi, lanjut Bharata, masyarakat Gianyar telah menorehkan lima pencapaian dalam bidang seni budaya, yaitu tumbuhnya SDM kreatif sebagai sumber dari maestro-maestro seni budaya, berkembangnya alam dan habitat di Kabupaten Gianyar sebagai sentra budaya peradaban Bali Tengah.

Selain itu, di Kabupaten Gianyar terdapat pula berbagai aneka museum terbesar yang mengenalkan nilai-nilai sejarah seni budaya. Terakhir, Gianyar telah mendeklarasikan sebagai Kota Pusaka. “Dengan berbagai kebanggaan tersebut, saya ajak masyarakat ikut mensakralkan apa yang telah ditinggalkan leluhur dan mendukung penuh upaya Pemkab mempertahankan jati diri Kabupaten Gianyar sebagai Soul of Bali,”pungkasnya.