Bali Tribune, Sabtu 23 Juni 2018
Diposting : 28 March 2016 13:21
I Wayan Sudarsana - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
Pregina Perguruan Maha Bajra Sandhi menampilkan tari Asledetan Tatit pada Prarai Parum Param Tarka Tarpana Saji ke-7.

Denpasar, Bali Tribune

Perguruan Maha Bajra Sandhi Denpasar menggelar Prarai Parum Param Tarka Tarpana Saji ke-7 di Gedung Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Sabtu (26/3) malam. Mimbar Dialog Epistemik Kebudayaan yang terkait program budaya mahkota Garba Dhatu Swayambu Lingga Kundalini (Garba- 2000-2020) ini, Maha Bajra Sandhi dipimpin Ida Wayan Granoka Gong, mengangkat tema: ‘Menggunggat Masa Depan Sempurna: Surat Untuk Presiden (Pesan 70 Tahun Indonesia Merdeka)’.

Acara dimulai sekitar pukul 18.30 Wita, diawali ritus budaya mahkota, nyurat (penulisan) aksara mahkota dari sesepuh Maha Bajra Sandhi, Ida Wayan Oka Granoka Gong diikuti para pembicara dialog epistemik kebudayaan sebagai tanda dibukanya Prarai Parum Param Tarka Tarpana Saji ke-7. Acara dilanjutkan penampilan ritus budaya mahkota Maha Bajra Sandhi dengan tabuh Ongkara Dwani, pembacaan Manggala Kekawin Sutasoma, dan Tari Asledetan Tatit.

Usai penampilam ritus budaya mahkota, acara dilanjutkan pembacaan wacana mahkota Pangadistana, Menuju Kemartabatan Baru oleh Ida Wayan Oka Granoka dan mimbar dialog epistemik kebudayaan yang menghadirkan empat pembicara, yakni mantan Rektor Universitas Udayana (Unud) Prof Dr dr I Made Bakta membawakan materi ‘Menuju kepada Ruh-nya Bali’, dilanjutkan pemaparan materi ‘Mencoba Memahami Bali untuk Kemajuan Indonesia’ oleh Guru Besar ITB, Prof Dr Ir Ida I Dewa Gede Raka, dan pemaparan materi berjudul ‘Mengemban dan Mengembangkan Seni Bali dalam Percaturan Global’ oleh Rektor ISI Denpasar Dr I Gede Arya Sugiartha SSkar MHum. Tampil sebagai pembicara terakhir adalah jurnalis dan pemerhati budaya Bali, I Wayan Westa, membawakan materi ‘Windhu Pitu, Derita Mulia: Membaca Surat Granoka untuk Presiden’.

Sesepuh Perguruan Yoga Musik Maha Bajra Sandhi, Ida Wayan Oka Granoka Gong, mengatakan, pelaksanaan Prarai Parum Param, Tarka Tarpana Saji ke-7 diselenggarakan karena adanya keinginan mengkomunikasikan sesuatu kepada masyarakat yang bertumbuh dan berkembang mengenai eksplorasi estetika pembebasan di Maha Bajra Sandi.

“Kita coba untuk sajikan kepada masyarakat yang lebih luas, bahwa ada sesuatu yang perlu kita komunikasikan dengan masyarakat yang bertumbuh berkembang mengenai eksplorasi kami tentang estetika pembebasan di Maha Bajra Sandhi. Mungkin ada manfaatnya bagi masyarakat luas maupun kepada pemerintah, kita coba sajikan,” kata Granoka.

Dikatakan Granoka, Prarai Parum Param merupakan konstelasi besar mengubah cara pandang untuk kembali percaya diri, dan menemukan episentrum berpikir secara integralisitik. Titik balik, memandang dunia dari perspektif Bali, masa depan mahasurgawi (epistemik). Mendirikan “tumpang meru kebudayaan” Rumah Besar rekonfigurasi pendidikan kembali, mendialogkan tiga kekuatan hidup (musik-linguistik-mistik) menuju puncak abad ke-21.

Selain itu, menganjurkan diadakannya penilaian kembali prioritas pembangunan dengan pertimbangan-pertimbangan non-ekonomi diperhitungkan secara bersungguh-sungguh, disamping tata-hubungan ekonomi internasional berlaku penuh rasa kemanusiaan, menuju terjaminnya kelangsungan hidup bersama.

“Pada dialog epistemik ini kami mengundang empat pembicara. Selain itu juga kita mengundang budayawan, penentu kebijakan, pakar, mahasiswa pemerhati dan praktisi. Kita inginkan pertumbuhan baru. Kegiatan ini bukan lagi bicara prestasi dan kemegahan. Tetapi semua energi dipakai untuk investasi untuk pertumbuhan baru, pemikiran baru, kita perlu perspektif baru untuk menatap masa depan. Harus ada paradigma baru dalam menatap masa depan sempurna,” kata Granoka.

Ketua Pelaksana Prarai Parum Param Tarka Tarpana Saji ke-7, Ida Made Adnya Gentorang, mengatakan selain dialog, juga dilaksanakan pameran Surat Rajah Gambar yang dilaksanakan hingga Rabu (30/3) mendatang, ditutup diskusi mengenai aksara dan proses kreatif pembuatan surat Rajah Gambar tersebut. Adapun peserta pameran tersebut dari UPT Perpustakaan Lontar Universitas Udayana (Unud), Koleksi Balai Bahasam Koleksi Fakultas Sastra Unud, Sanggar Lempuyang dan sejumlah karya dari sejumlah seniman lainnya.

Ditambahkannya, agenda Prarai Parum Param Tarka Tarpana Saji ke-7 merupakan bagian dari perjalanan manifesto kebudayaan abad ke-21. “Dengan tema menggugat masa depan sempurna surat untuk presiden, sepintas banyak yang mengira dan menafsir kami akan menggungat bapak presiden RI, Ir Joko Widodo. Sejatinya menggungat masa depan sempurna merupakan momentum pembangkitan jiwa, untuk memenuhi harapan masa depan bangsa dengan pemimpin pemimpin sebagai purusa-purusa penyelamat zaman. Ide-ide gagasan mengenai pembangkitan jiwa inilah yang ingin kami sampaikan kepada bapak Presiden selaku pemimpin bangsa,” kata Gentorang.

Menurutnya, sebagai bentuk pertanggungjawaban kerja 25 tahun seni maestro mengabdi kepada jiwa Ketuhanan Yang Maha Esa, sesepuh perguruan Maha Bajra Sandhi telah menuliskan gagasan-gagasan tersebut pada buku ‘70 Tahun Indonesia Merdeka, Pesan Kode GenetiK 1945 -2015 Surat Untuk Presiden. Buku ini telah diluncurkan pada agenda temu pers tanggal 30 Januari 2016.

“Gagasan-gagasan yang telah di tuliskan tersebut kemudian akan dilengkapi dengan hasil dari dialog epistemik kebudayaan pada Prarari Parum Param Tarka Tarpana Saji ke-7 malam ini (Sabtu malam lalu,-red) untuk diteruskan kepada Presiden sebagai Pesan 70 Tahun Indonesia Merdeka,” tandasnya.