Ny Ayu pastika Bantu Penyandang Tuna Netra Sekeluarga di Tianyar | Bali Tribune
Diposting : 28 July 2016 13:55
redaksi - Bali Tribune
BK3S
PRIHATIN - Ketua (BK3S) Provinsi Bali, Ny Ayu pastika, menyambangi kediaman I Ketut Subrata (26). Subrata, istri (Ni Wayan Astini) serta anaknya mengalami kebutaan. Dalam kesempatan ini, Ayu Pastika menyerahkan bantuan dari Gubernur Bali.

Amlapura, Bali Tribune

Kondisi kebutaan yang diderita satu keluarga, pasangan I Ketut Subrata (26) dan istrinya Ni Wayan Astini (25) beserta buah hatinya yang baru berumur 10 hari mengetuk keprihatinan Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Bali, Ny Ayu Pastika.

Ny Ayu Pastika menyambangi kediaman keluarga malang tersebut di Dusun Tunas Sari, Desa Tianyar Timur, Kecamatan Kubu, Karangasem, Rabu (27/7). Keadaan yang memprihatinkan ini menurut Ayu Pastika memerlukan penanganan segera agar selanjutnya bisa mendukung keberlangsungan hidupnya keluarga kecil ini.

Tidak saja Subrata dan keluarganya, ketidakberuntungan ini juga dialami tiga saudara Subrata masing-masing I Nyoman Sukarya (29) yang merupakan kakak kandungnya, serta dua saudara tirinya, Ni Ketut Murniati (31) dan Ni Made Merta (27) yang bernasib sama.

“Kami berempat sudah buta sejak lahir termasuk istri saya juga buta, namun istri saya mengalami buta sejak sekolah SMA,” rinci Subrata. Ia pun menceritakan awal pertemuan dengan sang istri yang telah memberikannya seorang bayi mungil, bermula saat dirinya menjadi penghuni panti sosial Bina Netra Natwa Mahatnia di Kabupaten Tabanan beberapa tahun silam.

Di tempat itu, selain mendapat pelajaran cara memijat yang menjadi penghidupannya saat ini, Subrata muda berkenalan dengan Ni Wayan Astini hingga pada tahun 2014 lalu, keduanya memutuskan untuk menikah. “Saya lahir di Pulau Sumbawa, setelah besar baru ke Bali dan menetap di panti sosial selama beberapa waktu. Di panti itulah ketemu dengan istri,” ujarnya.

Keputusannya untuk menikah dengan harapan memiliki anak normal agar ada yang bisa menuntun kehidupan mereka pun sirna. Ia pun hanya bisa pasrah akan kondisi tersebut, dan karena keterbatasan kondisi fisik akhirnya Ibu Subrata pun memilih pulang untuk membantu mengasuh cucunya.

kondisi kehidupan keluarga Subrata terbilang sangat jauh dari layak, beruntung dirinya mendapatkan bantuan bedah rumah dari paguyuban galian C dan dari ADD desa, sehingga bisa berdiri rumah mungil untuk tempat berteduh.

“Rumah ini bantuan dari desa dan paguyuban, sebelumnya hanya sebuah gubuk saja,” ujar Subrata lagi. Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia dan istrinya menjalankan profesi sebagai tukang pijat. Itu pun penghasilannya tak menentu, karena tergantung orang yang mau dipijat.

Sebagai tambahan, Ia pun memanfaatkan pelatihan menggunakan telefon genggam dengan panduan suara yang didapat dipanti sosial untuk berjualan pulsa hp dan pulsa listrik. Namun dari kedua pekerjaan yang digelutinya itu, Subrata mengaku mengalami keterbatasan fasilitas pijat seperti ruangan tempat pijat, tempat tidur khusus pijat dan kelengkapannya, minyak massas, serta kekurangan modal berjualan.

“Saya bercita-cita pingin buka tempat massas khusus, bukan sekedar sambilan seperti saat ini. Tapi saya tekendala permodalan untuk membuat tempat dan kelengkapannya, termasuk modal untuk jualan pulsa juga sangat minim. Kalau bisa saya dibantu kredit lunak dari perbankan untuk modal untuk membangun usaha ,” cetus Subrata.

Ia pun berkeluh kesah tentang terhambatnya pengurusan akta perkawinannya, karena belum memenuhi aturan yakni datang langsung ke Didukcapil. Aturan itu diharapkannya dapat dipermudah, mengingat identitas kependudukan yang sangat penting untuk segala urusan termasuk untuk menerima bantuan-bantuan fasilitas dari pemerintah.

Harapan yang disampaikan Subrata pun tak sia-sia, disamping memberikan santunan berupa paket sembako, Ny Ayu Pastika pun langsung mengabulkan permintaan tersebut dengan memberikan modal untuk pembuatan 2 set tempat tidur khusus memijat beserta kelengkapannya, dan juga sekaligus modal untuk berjualan pulsa.

“Kebetulan mereka kan sudah punya keahlian memijat yang sudah didapat di panti sosial, kami tinggal membantu fasilitas untuk mendukung keahliannya, sehingga keahlian itu pun bisa menjadi lapangan pekerjaan yang memberikan penghidupan bagi mereka sekeluarga,” ujar Ayu Pastika.

Kondisi yang dialami keluarga tersebut pun mendorong Ny Ayu Pastika melalui lembaga yang dipimpinnya untuk menciptakan program yang bisa membantu secara berkesinambungan baik berupa bantuan langsung maupun bantuan ketrampilan sehingga kondisi serupa tidak terulang kembali dan keluarga yang mengalami kondisi seperti itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri tanpa ketergantungan dari bantuan pemerintah terus menerus.

“Kondisi ini memberikan gambaran kepada kami untuk membuat program yang bisa membantu masyarakat yang mengalami hal serupa. BK3S sebagai mitra pemerintah akan berkoordinasi lebih lanjut dengan K3S Kabupaten/Kota untuk membahas ini, terkait bagaimana bentuknya, dan penanganannya, apakah diberikan bantuan per bulan, dan sebagainya. Kami akan perhatikan ini, ini juga sebagai dukungan kami kepada Pemprov Bali dalam upayanya mempercepat pengentasan kemiskinan di Bali,” imbuh Ayu Pastika.

Tak cukup sampai disana, Ny Ayu Pastika pun mengharapkan peran serta masyarakat untuk ikut peduli kepada sesama yang membutuhkan. Langkah-langkah positif yang diambil beberapa elemen masyarakat didaerah tersebut pun mendapatkan apresiasi dari Istri orang nomor satu di Bali ini. Peran desa sebagai ujung tombak pemerintahan pun dihimbau lebih aktif memfasilitasi warganya yang mengalami keterbatasan, sehingga mereka pun bisa menikmati hak yang sepatutnya mereka terima.

“Kapasitas kami disini hanya bisa menghimbau, kepada aparat desa tolong mereka nanti dibantu difasilitasi pembuatan identitas kependudukan, bila perlu para petugasnya yang datang kesini. Identitas kependudukan saja mereka belum punya, bagaimana mereka bisa dapat bantuan dari pemerintah nantinya,” pungkas Ayu Pastika yang hadir didampingi staf Humas Pemprov yang juga membawa bantuan dari Gubernur Pastika.