Bali Tribune, Minggu 27 Mei 2018
Diposting : 1 February 2018 18:15
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
Lingkungan
Keterangan Gambar: 
Sejumlah pihak yang hadir dalam Konsultasi Publik Pembangunan TNBB 2018 mengemukakan sejumlah permasalahan.

BALI TRIBUNESejumlah hal mengemuka saat Konsultasi Publik Pembangunan Sarana Prasarana Wisata Alam di Balai Taman Nasional Balai Barat (TNBB), Rabu (31/1).

Dalam pertemuan yang diikuti sejumlah OPD, baik dari Pemkab Jembrana maupun Pemkab Buleleng serta kelompok masyarakat (Pokmas), LSM/Komunitas dan penyedia sarana jasa wisata alam tersebut membahas mengenai berbagai rencana pembangunan di kawasan TNBB yang akan dilaksanakan tahun 2018.

Menanggapi paparan rencana pembangunan TNBB yang disampaikan Kasubag TU TNBB, Wiriawan, Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, I Ketut Suteja menyatakan hingga kini masih ada sejumlah aset milik Pemkab Buleleng berada di kawasan TNBB seperti di Labuan Lalang, Gerokgak.

Sampai saat ini kondisi bangunan yang dibangun tahun 2008 ini telah tercatat di buku aset Dispar Kabupaten Buleleng sudah 70 persen dalam kondis rusak. Bangunan tersebut berupa kios, parkir, dan wantilan.

“Sedangkan aset itu sesuai Perbup harus ada retribusi yang harus masuk, sedangkan kondisinya kini rusak dan berada di kawasan TNBB, ini harus diperhatikan juga dalam pembangunan yang akan dilaksanakan TNBB di Labuhan Lalang agar layak jual dan memenuhi  standar kepariwisataan,” paparnya.

Sementara itu Kepala Bidang Penataan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, Suseni  Indrawati mengatakan sejumlah fasilitas pariwisata seperti hotel di kawasan TNBB secara kewilayahan berada di Kabupaten Buleleng. Pihaknya berharap pembangunan di kawasan TNBB termasuk juga fasilitas pariwisata harus ada kajian lingkungan sesuai UU No: 3/2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Setiap usaha terlebih yang ada di kawasan TNBB harus memiliki kajian apakah itu Amdal, UKl-UPL dan SPPL. Bagimana pengelolaan limbah cair, limbah padat termasuk sampah serta pengolahan limbah cair menggunakan IPAL” jelasnya. 

Pihaknya mengakui selama ini terdapat sejumlah termuan dari pengawasan di beberapa hotel di TNBB terkait pengolahan  limbah serta perizinannya, namun itu menurutnya terkait juga dengan administrasi.

Semenetara itu, Kepala Bidang pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, I Nyoman Wenten meminta seluruh pembangunan sarana prasarana di TNBB juga harus tetap menonjolkan budaya Bali dan keunikan tersendiri yang ada di Bali Barat.

Pihaknya berharap pembangunan yang dilaksanakan berpola tematik. “Harus menonjolkan budaya Bali dan eksotisme Bali Barat serta berpola tematik agar bisa connect dan harus bisa diaplikasikan mengacu pada tema besar pembangunan yang akan diambil tersebut,” ungkapnya.