Diposting : 11 January 2019 23:17
redaksi - Bali Tribune
TINJAU - Wabup I Wayan Artha Dipa turun ke Desa Seraya meninjau rencana pembangunan jembatan penintas di beberapa sungai.
BALI TRIBUNE - Jalan di Desa Seraya banyak dibuat dengan sistim memotong jalur sungai untuk bisa menghubungkan antar desa di wilayah tersebut. Kendati tergolong sungai kering saat musim tandus, namun keberadaan seluruh sungai yang memotong badan jalan tersebut akan sangat membahayakan pada saat musim hujan lebat, dan bahkan beberapa kali warga hanyut ketika melintasi jalan yang di potong oleh sungao tersebut, beberapa korban diantaranya sampai meninggal dunia.
 
Mendapat laporan dari masyarakat terkait kondisi jalan pelintas yang kini secara swadyaya dibangun dengan memamasang tiang penjaga pada sisi sungai oleh masyarakat sekitar itu, Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa didampingi Kepala Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang) I Ketut Sedana Merta serta staf PUPR yang membidangi, Rabu (9/1) turun meninjau lokasi.
 
Beberapa jalan pelintas Desa Seraya Tengah yang rencananya akan dibangun jembatan pelintas di antaranya yang dilalui oleh sungai Yeh Banges, Sungai Perit, Sungai Ibu Dalem, Sungai Buah dan  Sungai Yeh Barak. “Salah satu jalan yang dilintasi sungai ini dulu pernah memakan korban. Kita tidak ingin hal ini terulang terus, untuk itu pemerintah daerah akan mengusulkan serta melaporkan secara akurat nama sungai, lokasi desa serta titik koordinat dan panjang bentang jembatan yang akan direncanakan dibangun di Desa Seraya ini,” ujar Wabup Artha Dipa.
 
Artha Dipa mengatakan, pihak provinsi berjanji akan mendesain jembatan lintas ini di tahun 2019 dan diharapkan tahun 2020 bisa terlaksana. Ini adalah bentuk respon serius dan cepat pemerintah terhadap usulan dari masyarakat. Menghindari laporan fiktif, Artha Dipa turun langsung ke lokasi untuk mendatapkan data yang akurat dan diharapkan data yang dilaporkan ke provinsi itu nantinya  baik, lengkap dan akurat.
 
Wabup Artha Dipa menyebutkan, jalan lintas ini sebelumnya diaspal pada tahun 1987, bekerjasama dengan konsultan Jepang dan didanai oleh ADB (Asian Development Bank). Namun karena pengerjaannya belum sempurna maka dalam rangka penyempurnaan, diusahakan dana dari pusat kurang lebih 800 juta. Setelah itu jalan diambil alih oleh Provinsi hingga saat ini.