Diposting : 20 May 2019 00:08
Tim - Bali Tribune
Bali Tribune/Detik-detik Waisak di Vihara Amurva Bumi dan Pradaksina di Stupa Budha di Pura Pegulingan, Tampaksiring.

balitribune.co.id | Denpasar - Berbeda dengan  suasana  di tempat lain,  detik-detik Waisak di Vihara Amurva Bumi Blahbatuh, Gianyar berlangsung khidmat dan berkhasanah akulturasi budaya. Puncak perayaan detik-detik Waisak digelar pada pukul 05.11 Wita, Minggu  kemarin ditandai dengan meditasi dan persembahyangan Waisak Santuti Cita. Pada kesempatan itu pula, umat  mengumpulkan dana sumbangan (dana paramitha).

Ketua Dayakasabha Vihara Amurva Bumi, Tjandanarsa menyebutkan,sebelum pelaksanaan Puja Bhakti,  menyesuaikan tradisi, umat Budha setempat juga melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan sesajian khas Hindu Bali, yang terdiri dari buah-buahan dan canang (tempat sesaji dari janur). Sesaji diletakan di hadapan Sang Budha, selanjutnya umat menggelar persembahyangan di hadapan Dewa Bumi. Setelah itu umat Budha juga dipercikan air suci sebagai simbol keselamatan.

Diakuinya, tradisi Bali memang cukup kental dalam setiap tahapan prosesi perayaan. Ruangan suci pagoda dan patung-patung suci lainnya, semua dipasangi canang sari. “Tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun, karena keberadaan Umat Budha dan Hindu di Gianyar khususnya, sudah berdampingan sejak abad ke-10,” ujarnya.
Pada kesempatan ini, umat diharapkan senantiasa bertongkat  pada sang Budha. Yakni mengembangkan cinta-kasih dengan cara saling membantu sebagai simbol cinta-kasih dan  menghargai lingkungan,  serta instropeksi diri.

Ditambahkan oleh Romo Pendeta Eka Wiradarma, sehar sebelumnya,   persiapannya seperti  membersihkan patung Budha dan seluruh komplek Vihara memang tetap dilakukan. Umat Budha setempat juga menjalankan rangkaian kegiatan dan persembahyangan. Salah satunya acara ngayah dan persembahyangan di Stupa Budha peninggalan Abad IX di Pura Pagulingan, Tampaksiring. “Umat ngayah ke Pura Pegulingan, Tampaksiring. Mengingat di Pura Pegulingan ada peninggalan agama Budha berupa stupa Budha Raksasa serta peninggalan purbakala lainya yang mencerminkan dwitunggal Hindu Budha sejak abad IX, “ terangnya.

Kegiatan di Pura tersebut diawali dengan acara bergotong royong bersama pengempon pura dari Desa Pakraman Basangambu, Tampaksiring. Umat Budha kemudian menghaturkan sesajen lanjut menggelar persembahyangan   dihadapan Arca Budha di Madya Mandala  pura. Setelah itu Pradaksina dengan mengelilingi  stupa Budha di utama mandalaa pura. Setelah tiga kali mengelilingi stupa dilanjutkan dengan pesembahyangan  bersama dengan disertai  pembacaan Parita.
Kegiataan di Pura Pagulingan itu, merupakan tradisi setahun sekali jelang perayaan Waisak. Melalui tradisi ini pula, sebutnya, menjadikan hubungan umat Hindu dan Budha di Tampaksiring, semakin erat terjalin.

“Hakekatnya, kegiatan ini adalah simbol pembersihan sifat-sifat kotor dalam diri agar dapat menjalankan kehidupan ini lebih baik dan lebih berarti, ,”terang Pendeta Eka Wiradarma.

Sementara dari Benoa, diadakan acara pelepasan ribuan ekor ikan ke habitatnya di laut sekitar Pelabuhan Benoa, menandai  ritual upacara "Fang Shen" atau pembebasan hidup serangkaian Hari Tri Suci Waisak 2563 yang dilakukan umat Buddha di Denpasar, Bali.

Ketua Flourishing Buddhist Center (FBC) Bali, Anny Go di Pelabuhan Benoa, Bali, Minggu,  mengatakan kegiatan kali ini adalah melaksanakan doa-doa dihaturkan sebagai rangkaian upacara "Fang Shen" yang bermakna pembebasan kehidupan atas mahluk hidup sebagai bentuk kasih sayang sesuai ajaran Buddha.
Ia mengatakan pembebasan kehidupan disimbolkan dengan pelepasan ribuan ekor ikan ke habitatnya di laut. Ribuan ikan yang dilepas terdiri dari berbagai jenis dan ukuran.
Upacara ini diyakini memberi kebebasan pada mahluk hidup lain dan tidak terbelenggu untuk memenuhi keinginan dari manusia.

“Maknanya kita mendapatkan pelimpahan karena mendoakan makhluk hidup mendapat kehidupan yang lebih bahagia," katanya.
Anny Go lebih lanjut menjelaskan upacara ritual "Fang Shen" juga merupakan pesan kepada umat untuk selalu menanamkan rasa welas asih dan dharma kepada sesama mahluk ciptaan Tuhan dan lingkungan demi tercapainya kebahagiaan hidup.

Sebelum melepaskan ribuan ikan tersebut, para umat Buddha melakukan puja mantra yang diikuti peserta kegiatan itu, sebagai wujud persembahan kepada Tuhan untuk mengantarkan satwa hidup yang akan dilepas kembali ke habitatnya.

Seorang panitia upacara tersebut sekaligus Wakil Ketua FBC Bali, Agus Arya mengatakan acara ritual pelepasan makhluk hidup, salah satunya ikan ke habitatnya bermakna untuk melepaskan keterikatan oleh penghuni alam ini, seperti manusia itu sendiri.

"Makna dari pelepasan satwa hidup, yakni ikan untuk bisa hidup di alamnya. Sebagai manusia harus memberikan kebebasan, tak terbelenggu untuk memenuhi keinginan dari manusia tersebut. Biarkan mereka hidup, karena apa yang ada di dunia adalah ciptaan Tuhan," ujarnya.