Bali Tribune, Rabu 22 November 2017
Diposting : 6 May 2017 11:55
redaksi - Bali Tribune
I Wayan Gertedeg
Keterangan Gambar: 
I Wayan Gertedeg

BALI TRIBUNE - Sampai saat ini, proyek Pipaninasi Telagawaja masih tengah dilakukan berbagai penyempurnaan oleh pusat melalui Balai Sungai Bali Penida sebagai Leading Sektor dari proyek tersebut. Itulah alasannya kenapa sampai saat ini air dari proyek pipanisasi Telagawaja baru bisa dinikmati oleh masyarakat di Kecamatan Rendang, Selat, Sidemen dan Kecamatan Manggis.

Hal itu diungkapkan oleh I Wayan Geredeg, mantan Bupati Karangasem, saat temu awak media, Jumat (5/5) pagi.Kendati sudah tidak lagi menjabat, namun Mantan Bupati Karangasem dua periode I Wayan Geredeg, masih mencurahkan penuh perhatiannya terhadap Bali, khususnya wilayah Kabupaten Karangasem yang saat ini masih berjuang keras melepaskan diri dari belenggu kemiskinan dan ketertinggalan.

Saat minum kopi bersama awak media di Bumi Lahar Karangasem kemarin Wayan Geredeg menjelaskan banyak hal terkait program yang telah dilaksanakannya sebagai upaya mengentaskan kemiskinan di Karangasem, salah satunya bagaimana mengatasi kekeringan yang sudah puluhan tahun dialami oleh sebagian besar masyarakat di Karangasem.

Salah satunya dengan menggagas dan mengusulkan ke Pemerintah Pusat megaproyek pipanisasi air sungai Telagawaja, Rendang Karangasem. “Proyek pipanisasi air Telagawaja itu digagas dan disetujui oleh pusat karena melihat kekeringan yang dialami oleh masyarakat Seraya, Kecamatan Karangasem, Kecamatan Abang dan Kubu,” ungkap Geredeg. Ini menurutnya sebuah proyek besar untuk mengatasi kesulitan air bersih yang dialami masyarakat di tiga Kecamatan itu dengan anggaran bersifat Multy Years atau bertahap dari Pemerintah Pusat.

Memang diakuinya sampai saat ini, proyek senilai ratusan miliar itu masih tengah dilakukan berbagai penyempurnaan oleh pusat melalui Balai Sungai Bali Penida sebagai Leading Sektor dari proyek tersebut. Itulah kata dia alasannya kenapa sampai saat ini air dari proyek pipanisasi Telagawaja itu baru bisa dinikmati oleh masyarakat di Kecamatan Rendang, Selat, Sidemen dan Kecamatan Manggis. “Kami saat itu berupaya keras bagaimana meyakinkan PU sehingga proyek itu bisa dilakukan dengan sistim Multy Years,” sebut Geredeg yang juga anggota pengurus DPP Partai Golkar Pusat.

Disebutkannya, 92 Persen wilayah Karangasem merupakan lahan kering, artinya Karangasem hanya memiliki 8 persen lahan basah. Kendati demikian Karangasem masih memiliki sejumlah sumber mata air besar seperti, Sungai Telagawaja,  Sumber Air Tauke, Desa Ababi, Sumber Air Putung dan Suungai Yeh Sah di Kecamatan Selat, dan sumber mata air lainnya. “Visi misi saya saat menjabat sebagai bupati, bagimana masyarakat Karangasem bisa menikmati air bersih,” ucapnya sembari menyebut jika itulah yang menjadi salah satu penyebab kemiskinan di Karangasem.

Waktu itu pihaknya berkoordinasi dengan Dinas PU Provinsi untuk mengusulkan proyek pipanisasi Telagawaja dan mendapatkan dukungan dari pusat. “Ada dua yang kami usulkan saat itu yakni Waduk Telagawaja dan Pipanisasi Telagawaja, tapi pipanisasilah yang disetujui pusat,” bebernya. Hanya memang proyek ini belum sempurna, dan karena itulah sampai saat ini pihak Balai Sungai masih teruus melakukan berbagai penyempurnaan, salah satunya penggantian pipa HDPE dengan pipa baja. Karena tekanan air dalam pipa itu sangat tinggi sehingga diganti dengan pipa baja agar tidak mudah meledak, termasuk pembangunan  reservoir pelepas tekanan.

Jadi pihaknya sangat sependapat untuk sementara pipanisasi Telagawaja itu dikelola oleh Balai Sungai hingga betul-betul sempurna. Itu mengingat itu masih membutuhkan biaya sekitar hampir Rp 100 Milyar untuk penyempurnaan. “Karena itu lebih bagus masih dihandle pusat, karena kalau diserahkan ke Pemkab tidak mungkin pemkab mampu menyediakan dana untuk penyempurnaan sebesar itu,” cetusnya sependapat dengan usul Ketua DPRD Karangasem, I Nengah Sumardi.

Sebelumnya Ketua DPRD Karangasem Nengah Sumardi, sangat sepakat dan mendorong agar Balai Sungai mempercepat menuntaskan proyek tersebut  agar air baku dari proyek itu bisa segera mengalir dan dinikmati oleh Masyarakat di Kecamatan Abang, dan Kubu.