Bali Tribune, Sabtu 21 Juli 2018
Diposting : 11 July 2018 22:22
Arief Wibisono - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
Agus Dwi Siswaputra
BALI TRIBUNE - Puluhan kapal ikan yang ludes terbakar di pelabuhan Benoa, Denpasar, Senin dinihari (9/7) Ketua II Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Agus Dwi Siswaputra mengatakan, dirinya belum melihat kejadian ini dari sisi regulasi, tapi yang pasti kapal itu siap beroperasi. "Dengan adanya kejadian ini kita ndak bisa ngomong apa-apa," katanya sembari berharap ini kejadian yang terakhir.
 
Agus Dwi yang dikonfirmasi di Sekretariat ATLI, Senin (9/7) terkait dengan kerugian yang diderita pengusaha dalam musibah ini belum bisa memberikan keterangan lebih jauh, padahal sebelumnya ditaksir kerugian akibat kejadian tersebut mencapai ratusan milyar rupiah. "Untuk dampak yang lain-lain saya no komen dululah," ucapnya berkelit sambil menyarankan untuk menanyakan langsung ke pengusaha kapal berapa nilai pastinya.
 
Dikatakan, tenaga kerja yang kehilangan pekerjaannya akibat musibah ini  mencapai ratusan orang dengan asumsi satu kapal mempekerjakan sekitar 15 sampai 17 orang tinggal dikalikan 40 kapal yang terbakar. "Biasanya segitu tenaga kerja yang ada dikapal," ujarnya.
 
Agus Dwi menerangkan pula dari apa yang dilihat dilapangan hanya 7 kapal yang bukan anggota ATLI, selebihnya anggota ATLI. Ia membantah jika kapal yang mangkrak dan katanya siap operasi ada kaitannya dengan kebijakan Menteri KKP. "Kan sudah ndak ada kebijakan lagi, regulasinya kita ikuti. Apalagi yang mau diikuti," sebutnya seraya beralasan kapal yang mangkrak bisa saja karena dalam perbaikan bukan akibat kebijakan Menteri KKP. 
 
Ia dengan terus terang  mengeluhkan fasilitas kapal dan jumlah kapal yang  tidak memadai. Dikatakan dermaga yang ada kekecilan dibandingkan jumlah kapal yang mencapai ratusan. "Jumlah kapal yang ada dengan kolam yang ada kelihatannya tidak memadai, tapi kayaknya ndak sih," tegasnya mengeluhkan kondisi yang ada.
 
Berapa potensi kehilangan pendapatan atau hasil tangkapan rupanya Agus Dwi juga tidak bisa memberikan jawaban pasti. Ia hanya sepintas mengatakan soal hasil tangkapan nelayan gambling alias untung-untungan. "Kita di ATLI tidak pernah ikut campur dapur anggota, karena namanya kita mancing bisa dapat, bisa juga ndak," kelitnya lagi tapi yang pasti dikatakan kejadian ini berpengaruh, tapi soal berapa nilainya ia beralasan tidak memegang data. "Semua data ada di sekjen, mana neh sekjennya, mungkin masih di lapangan," tuturnya.
 
Menurutnya kabakaran yang terjadi jika dilihat banyak menimpa anggota ATLI yang notabene nelayan longline sama cumi. "Yang paling banyak kebakar kan kapalnya Ketua ATLI, nanti terserah bagaimana ketua saja, apa mau ada statmen atau tida nanti saya hubungi," tutupnya.