Diposting : 15 September 2016 12:36
I Wayan Sudarsana - Bali Tribune
lontar
Keterangan Gambar: 
RUSAK - Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali, Nyoman Suka Ardiyasa, menunjukkan Cakep Lontar yang rusak.

Denpasar, Bali Tribune

Dalam kurun waktu dua bulan sejak direkrut, 716 orang tenaga Penyuluh Bahasa Bali melakukan pendataan terhadap 8.239 Cakep Lontar kuno. Dari ribuan Cakep Lontar itu ditemukan, 2.562 diantaranya dalam kondisi rusak.

“Penyuluh Bahasa Bali di seluruh kabupaten/kota di Bali telah blusukan mendata lontar yang berada di desa tempat tugas mereka masing-masing. Identifikasi data yang dilaksanakan menunjukkan keberadaan lontar di Bali sangat menyedihkan,” kata Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali, Nyoman Suka Ardiyasa di Denpasar, Rabu (14/9).

Dia mengatakan, dari hasil pendataan oleh tenaga penyuluh Bahasa Bali, dari sekitar 8239 Cakep Lontar yang tersimpan oleh warga setempat, sebanyak 2.562 diantaranya dalam kondisi rusak parah. “Naskah lontar itu tersebar di seluruh wilayah,”kata Ardiyasa. Dijelaskan Suka Ardiyasa, dari 8.239 naskah lontar yang berhasil didata, sebanyak 611 naskah lontar berhasil ditemukan di Kabupaten Buleleng, di mana 330 lontar dalam kondisi terawat, dan 281 cakep lontar dalam kondisi rusak.

Menurut pria yang juga ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali ini, pendataan yang telah dilakukan ini merupakan sebuah penemuan yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. “Di sinilah perlu adanya pendekatan dari masing-masing penyuluh Bahasa Bali ke pemilik lontar. Pendekatan-pendekatan secara pribadi dari penyuluh ke pemilik lontar menjadi jembatan Dinas Kebudayaan untuk melaksanakan penyelamatan lebih lanjut,” ujarnya.

Penyuluh Bahasa Bali, tambahnya, diharapkan memberikan kontribusi penuh dalam proses penyelamatan dan pelestarian ini. Selain itu juga, penyuluh bekerja nyata bukan sekadar wacana, sehingga berbagai judul lontar bisa terkumpul meski dalam keadaan kurang terawat. Dikatakan Suka Ardiyasa, dengan pendataan tersebut menunjukkan bahwa setiap kabupaten di Bali, bahkan sampai ke pelosok-pelosok Desa di Bali menyimpan lontar.

Dengan demikian, pihaknya menyimpulkan bahwa sejatinya Bali merupakan museum hidup naskah lontar. Sebagai museum hidup, maka Bali sudah sepantasnya memperlakukan lontar tidak hanya sebagai pusaka melainkan sebagai pustaka. “Saya berharap, pemerintah, akademisi, budayawan, sastrawan dan seluruh lapisan masyarakat Bali memberikan dukungannya pada penyelamatan ini,” harapnya.

Sementara, Koordinator Penyuluh Bahasa Bali untuk wilayah Kota Denpasar, I Gede Gita Purnama, menambahkan, naskah Lontar yang kini berada di antara lemari, lengatan, bésék, sokasi, Bale Suci, Gedong, atau Pamerajan masyarakat Bali merupakan warisan sejarah intelektual yang tak ternilai.

“Namun sebagian besar pemilik lontar kurang memiliki kesadaran untuk menjaga lontar yang dimiliki,”sebutnya.

Hal ini ungkap Gita Purnama sebagai akibat kurangnya pemahaman masyarakat Bali terhadap aksara Bali itu sendiri. “Alasan lainnya, yakni masih melekatnya dalam pikiran sebagian pemilik lontar, bahwa lontar adalah barang pusaka, barang tenget yang tidak boleh di ganggu gugat, bahkan lebih ekstrim tak boleh disentuh,” imbuhnya.

Dijelaskannya, ketiga dampak ini menjadi bukti yang sangat kuat untuk menindaklanjuti langkah awal penyelamatan lontar di Bali. Mulai dari proses pendataan, kemudian dapat dilakukan tindak lanjut untuk mengkonservasi naskah-naskah lontar tersebut. Perawatan dengan baik naskah lontar ini sangat mendesak adanya, sebagai salah satu jalan untuk mengedukasi masyarakat perihal betapa pentingnya menjaga kekayaan intelektual tetua Bali tersebut.

Menurutnya, jika naskah lontar terlanjur rusak, maka konservasi ini mencegah kerusakan yang lebih parah lagi, dan jika memungkinkan melakukan rekonstruksi atau penulisan kembali bagian-bagian yang hilang dari naskah lontar tersebut. “Jika memungkinkan dilakukan usaha digitalisasi sebagai bentuk penyelamatan isi dari naskah lontar,” tandasnya.