Bali Tribune, Senin 21 Agustus 2017
Diposting : 15 December 2016 13:00
Wayan Sudarsana - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
TEROMPET - Tempat pembuatan dan penjualan teropet di Jalan Wibisana, Denpasar. (yan)

Denpasar, Bali Tribune

Perayaan Natal dan Tahun Baru sudah makin dekat. Penjual pernak-pernik Tahun Baru pun sudah mulai terlihat di sejumlah ruas jalan di Denpasar. Seperti di Jalan Wibisana Denpasar, tampak berbagai pernak-pernik Natal dan Tahun Baru seperti terompet nampak sudah mulai dijajakan.

“Persiapan sudah mulai kami lakukan sejak empat bulan lalu dan permintaan sudah mulai dari akhir november lalu,” ungkap pengusaha pembuatan terompet di Jalan Wibisana, Suyatno, Rabu (14/12/2016). Menjelang Tahun Baru ini, pihaknya menyiapkan terompet hingga 25 ribu buah.

“Terompet sudah dipasarkan hampir ke seluruh wilayah di Bali. Permintaannya dari tahun ke tahun makin meningkat. Sampai saat ini sekitar lima ribu terompet sudah dikirim ke berbagai daerah di Bali. Dan, beberapa ribu pesanan masih dalam proses pembuatan,” jelas Suyatno.

Untuk membuat ribuan terompet ini, dia mempekerjakan tiga orang karyawan. Suyatno sendiri sudah menjalani usaha pembuatan terompet sejak 1997 silam. Kini, dia membuat berbagai model terompet bermotifkan animasi (spongebob, marsha, pokemon), juga naga.

Tak ketinggalan, terompet model biasa pun tetap ia sediakan. “Di sini Kami membuat berbagai jenis terompet. Untuk harga jualnya bervariasi, berbeda antara grosir dan eceran. Untuk eceran antara Rp4.000 hingga Rp15.000 per pcs tergantung modelnya,” jelas Suyatno.

Senada dengan itu, pedagang mainan di Jalan Gunung Sanghyang, Sri Suariani, juga mengaku telah mempersiapkan sekitar 800 pcs terompet dengan jenis yang berbeda untuk Tahun Baru kali ini. Dia mengatakan, permintaan grosir sudah mulai banyak.

“Permintaan eceran akan mulai ramai pada pertengahan Desember dan puncaknya mulai dari H-5 Tahun Baru. Kalau sekarang, pembeli grosiran untuk dijual kembali nantinya,” kata Sri Suariani. Dia mengatakan, tersedia berbagai varian terompet di tempatnya.

Mulai dari terompet berbentuk naga, animasi dan terompet biasa. Sri sendiri mengaku akan lebih memaksimalkan penjualan terompet kertas daripada terompet gas karena harganya yang terjangkau. “Anak-anak lebih suka yang model kertas yang juga memiliki banyak pilihan,” katanya.

Dikatakan Sri, kalau terompet kertas, biasanya pembeli datang lagi untuk membeli yang baru kalau terompetnya rusak. Biasanya mereka membeli varian lainnya. Karena itu permintaan terompet kertas biasanya lebih banyak, meski harga jualnya lebih murah dibanding terompet gas.*