Bali Tribune, Sabtu 18 November 2017
Diposting : 28 July 2016 13:48
ayu eka - Bali Tribune
festival
Keterangan Gambar: 
Jumpa pers jelang penyelenggaraan Sanur Village Festival

PEMERINTAH Indonesia dan Bali bisa memanfaatkan Sanur Village Festival (SVF) ke-11 sebagai ajang promosi pariwisata. Usia 11 tahun tersebut adalah sebuah usia yang sudah dikenal oleh banyak orang dan mampu mendatangkan wisatawan untuk datang.

Sanur Village Festival (SVF) yang merupakan sebuah festival kebanggaan masyarakat Sanur tahun ini digelar dengan mengusung tema “Tat Twam Asi”. Ketua Umum SVF 2016, Ida Bagus Sidartha Putra mengatakan bahwa tema yang diusung pada pelaksanaannya yang ke-11 tahun 2016 ini berangkat dari pemaknaan filosofi kandungan ajaran Hindu tentang “aku adalah engkau dan engkau adalah aku”.

Menurutnya, dengan mengedepankan pengenalan jati diri secara universal, tema ini memiliki relevansi pada banyak hal termasuk hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya (Tri Hita Karana).

“Mengemas branding Tat Twam Asi, Sanur Village Festival mengejewantahkan suatu rencana aksi strategis, terpadu dan berkelanjutan dari tema-tema utama Sanur Village Festival sebelumnya. Untuk itu, Tat Twam Asi sekaligus menjadi bagian refleksi dari dasa warsa pelaksanaan Sanur Village Festival,” katanya kepada awak media di Sanur, Denpasar, Rabu (27/7).

Pria yang akrab disapa Gusde ini mengatakan, Sanur telah memberikan ruang bagi bertemunya warga dunia dengan mengedepankan keramahan, toleransi dan keakraban sebagai kekuatan dasar hospitalitas pariwisata. Di samping itu, Sanur juga telah memberikan ruang dalam mewadahi segala bentuk kreativitas masyarakatnya melalui berbagai kegiatan yang berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan.

“Sanur Village Festival dalam upayanya menciptakan branding bagi promosi pariwisata telah membuktikan mampu digulirkan secara berkelanjutan. Pelaksanaan Sanur Village Festival bahkan bisa dibilang sebagai festival desa berskala maupun berselera dunia yang dilaksanakan secara mandiri, paling sukses di Bali,” sebut pria yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Denpasar, ini.‎

Melalui tema utama “Tat Twam Asi”, Sanur Village Festival 2016 dikatakannya akan menguatkan relasi pandang untuk menciptakan kekuatan yang lebih besar dalam menyatukan segala postensi pariwisata, alam, masyarakat, kehidupan tradisi, seni dan budaya serta ragam kreativitas warga yang bakal memacu daya tarik pariwisata.

“Sanur Village Festival telah dikenal masyarakat lokal, nasional maupun internasional. Berbekal inovasi, keberanian, nilai-nilai luhur tradisi, semangat kebersamaan dan membangun desa yang tinggi serta intuisi yang dipegang dalam melihat masa depan, SVF berhasil menguatkan karakternya sebagai festival yang mempromosikan pariwisata di Bali, dan Kota Denpasar khususnya,” katanya.

SVF tahun ini akan berlangsung di area Maisonette, Inna Grand Bali Beach, Denpasar pada 24-28 Agustus 2016 mendatang yang akan dikunjungi oleh ratusan ribu wisatawan asing maupun domestik setiap harinya. SFV disebutkan Gusde memang digelar setiap Agustus yakni masa-masa high season wisatawan asing.

Dia menyatakan ada dua tujuan SVF digelar saat high season yaitu untuk menyuguhkan berbagai aktivitas dan memberikan hiburan bagi wisatawan yang menginap di kawasan Sanur. SVF ini lanjut Gusde mengatakan diadakan pasca tragedi bom Bali kedua 2005 silam. Pasca bom kata dia kunjungan wisatawan ke Bali pun melesu hingga saat itu tidak mengenal high/low season

“Sekarang, untuk menggeser (SVF) ke low season tidak semudah itu karena branding Sanur festival ada di bulan Agustus juga sudah ada tamu fans yang tetap. Wisatawan yang datang sudah langganan biasanya juga wisatawan mengajak teman-temannya untuk datang pada bulan Agustus karena ada festival. Peningkatan permintaan kamar signifikan terlihat juga family yang banyak datang saat festival ini,” bebernya.

Gusde menambahkan bahwa market SVF ini 50 persennya turis lokal dan 50 persennya turis mancanegara terutama asal Australia. “Kebetulan bulan Agustus, Australia banyak datang karena musim dingin di sana. Begitu juga orang Jakarta banyak yang datang saat festival. Sebulan setelah festival disusul kedatangan turis Eropa,” tambahnya.

Gusde yang juga Ketua PHRI Denpasar ini mengatakan Sanur bakal menyiapkan infrastruktur promosi kepariwisataan terintegrasi untuk menggebrak pasar dalam menghadapi persaingan destinasi dan kemasan pariwisata daerah atau negara lain yang kian sengit.