Bali Tribune, Rabu 13 Desember 2017
Diposting : 23 September 2017 14:18
Made Ari Wirasdipta - Bali Tribune
Airport Ngurah Rai
Keterangan Gambar: 
Sejumlah Turis tiba di Airport Ngurah Rai

BALI TRIBUNE - Perkembangan aktivitas Gunung Agung beberapa hari ini tidak hanya menjadi perhatian nasional juga pihak internasional. Salah satunya dari Pemerintah Amerika yang beberapa hari lalu telah mengeluarkan pesan keamanan kepada warga negaranya yang tinggal atau bepergian ke Indonesia bahwa Gunung Agung adalah gunung berapi aktif di Bali Timur, Kabupaten Karangasem baru-baru ini telah menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.

Penduduk AS disarankan untuk menghindari perjalanan ke daerah sekitar Gunung Agung dan selalu memantau perkembangan aktivitas Gunung Agung melalui media lokal. Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali, I Ketut Ardana menganggap bahwa peringatan yang diberikan oleh Pemerintah Amerika terhadap warga negaranya yang sedang berada di Indonesia khususnya Bali merupakan hal wajar.

"Pesan itu hanya warning untuk warga Amerika saja. Warning itu sangat penting disampaikan sebagai pertanggungjawaban negara terhadap warganya. Jadi tidak perlu dikhawatirkan karena negara lain pun punya kewajiban yang sama mengimbau menginformasikan warganya seperti itu," terang Ardana saat dikonfirmasi, Jumat (22/9).

Pihaknya pun mengakui jika selama beredar kabar peningkatan aktivitas Gunung Agung sejumlah partner atau Tour Operator luar negeri sudah menanyakan bagaimana kondisi terkini di Bali. "Pertanyaan tersebut tentu yang terkait dengan masalah keamanan," katanya.

Ardana menyatakan hingga saat ini belum ada laporan pembatalan wisatawan mancanegara ke Bali. "Sementara kegiatan pariwisata masih berjalan normal. Namun tentu untuk program tur yang ke Bali Timur khususnya yang akan melewati Karangasem dan tentu yang ke Besakih juga kita alihkan ke obyek-obyek wisata lainnya," beber Ardana.

Pengalihan obyek wisata itu kata dia akan berlangsung hingga adanya imbauan resmi dari pemerintah. "Yang sekarang sudah ada dari Pemda Karangasem dan juga badan resmi terkait vulkanologi. Jika itu sudah ada dan jika ada booking untuk tur ke kawasan itu sudah pasti anggota berusaha mengalihkannya ke tur-tur alternatif lainnya dan wisatawan diberikan penjelasan yang baik terhadap kondisi tersebut supaya tidak terjadi misunderstanding," jelas Ardana.

Sementara itu, Bali Hotels Association (BHA), Ricky Putra juga menyatakan hal senada jika perkembangan status Gunung Agung akan dinformasikan secara jelas tanpa menutup-nutupi kepada wisatawan. "Begitu kami menerima informasi, kami akan langsung informasikan ke 152 member kami. Baik langsung berkirim email atau berkabar di grup WA. Kami selalu memantau informasi dari pemerintah dan semua GM kami imbau juga menginformasikan hal tersebut langsung ke tamu," ungkapnya.

Hal ini dilakukan, guna mengantisipasi dampak perkembangan pariwisata di Bali. “Karena banyak negara tetangga, mungkin saja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Atau situasi yang tidak menguntungkan dari negara kita. Dan semua anggota betul-betul sangat patuh dan taat kepada aturan. Tidak ada berita yang mereka keluarkan di luar berita dari official BHA," imbuh Ricky.

Pihaknya berharap tidak ada wisatawan yang membatalkan kedatangannya ke Bali dengan info yang belum pasti kebenarannya. Hingga saat ini, okupansi rata-rata hotel member BHA masih baik rata-rata berkisar 74 persen.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali A. A. Gede Yuniartha Putra, juga menegaskan sejauh ini belum ada laporan travel Warning dari berbagai negara terkait ancama letusan Gunung Agung. "Belum ada travel warning dari negara mana pun. Situasinya masih normal-normal saja," ucapnya di Denpasar. 

Ia memastikan bahwa berita soal travel warning itu beredar saat ada peringatan dari Amerika (USA) kepada warganya agar tidak mendekati Gunung Agung. "Warga Amerika yang ada di Bali diperingati untuk tidak mendekati Gunung Agung yang sudah berstatus siaga. Bukan peringatan untuk datang berkunjung ke Bali," imbuhnya.

Sementara Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, adanya pemberitaan yang berlebihan, bahkan banyak informasi menyesatkan atau hoax yang beredar di masyarakat tentang peningkatan status Gunung Agung, telah menyebabkan sebagian masyarakat takut berkunjung ke Pulau Bali. 

Bahkan masyarakat di Bali pun ada sebagian yang ikut panik akibat informasi yang berkembang di media sosial. Bahkan kata dia, beberapa kedutaan asing menanyakan kepada Posko BNPB mengenai kondisi aktivitas Gunung Agung dan penanganannya. 

"Hingga saat ini kondisi pariwisata di Bali masih aman untuk dikunjungi, kecuali di dalam radius yang dilarang oleh PVMBG untuk melakukan aktivitas di sekitar Gunung Agung," tutupnya.