Diposting : 19 October 2017 19:54
Arief Wibisono - Bali Tribune
Epson
Keterangan Gambar: 
M Husni Nurdin (Director Epson Indonesia), Tanaka Toshimitsu (Managing Director Epson South East Asia), Shimizu Tomoya (Country Manager Epson Indonesia), Riswin Li (Head of Product Marketing Department), Ishii Hidemasa (Head of Product Marketing Department Epson South East Asia).

BALI TRIBUNE - Seiring dengan berjalannya waktu Epson Indonesia yang didirikan tahun 2000 kedepannya akan bertransformasi menuju produk yang ramah lingkungan. Artinya produk yang dihasilkan tidak lagi soal teknologi, namun produk yang mudah diterima masyarakat dengan teknologi terkini, namun ramah lingkungan.

Hal itu diungkapkan Director Epson Indonesia, M Husni Nurdin, di sela peluncuran produk baru Epson dan perayaan HUT Epson ke 17 dari Jakarta, Selasa (17/10). “Keputusan transformasi produk yang ramah lingkungan bukan sekonyong-konyong muncul namun Epson telah mengalami fase dalam perjalannya, hingga tranformasi bukan hanya teknologi, tapi juga ramah lingkungan kedepannya,” tutur Husni.

Dipaparkan, Epson telah mengalami 2 fase dalam perjalanannya. Fase pertama dimulai dari tahun 2008/2009 dan fase kedua dari tahun 2009 hingga kini. Tujuan didirikannya Epson di Indonesia semata mata untuk bisa mengembangkan pasar di dalam negeri. “Pada saat itu kita menerima semacam “Legacy” atau warisan produk dotmatrik dan kita sudah dianggap cukup dominan dengan marketshare sekitar 70 persen. Namun mesti diingat saat itu Epson telah memiliki inkjet, projektor, yang juga mesti dikembangkan,” ujarnya.

Membentuk jaringan sales yang kuat dan solid merupakan tugasnya dalam fase pertama ini. Padahal menurut Husni hal itu tidaklah mudah, dimana pihaknya harus melakukan pendekatan pada dealer dealer yang memiliki karakteristik bisnis yang serupa. “Karakter bisnis Epson itu umumnya harga harga produknya tidak murah, jadi diperlukan effort dan ini tidak semua channel mau, tapi kebanyakan hanya mau terima jadi,” katanya.

Dalam fase pertama banyak hal yang dilakukan baik itu evaluasi hingga pendekatan, dan memberikan effort. Tujuan tidak lain agar pihaknya memiliki channel yang kuat. “Fase pertama ini kita sebut fase sales,” ungkap Husni sembari berkata hal ini belum berhenti sampai disini saja, tapi ada tantangan lain disekitar tahun 2000 dengan diluncurkannya inkjet, namun karena kurang begitu siap dari sisi after salesnya yang mengakibatkan turunnya reputasi Epson saat itu.

“Nah, pada saat yang sama pula kita kepukul dengan sistem infusan atau inktank. Jadi kala itu sales sudah naik namun timbul masalah penjualan tintanya tidak mendukung. Jadi secara bisnis model tidak terlalu profitable,” katanya mengingat masa itu. Padahal kala itu pihaknya telah memiliki pemikiran, kenapa tidak membuat produk yang memang dibutuhkan masyarakat Indonesia, kenapa harus melawan pasar. Ide seperti itu sebenarnya sudah dari awal ada, cuma karena suatu kondisi tertentu belum bisa diwujudkan. “Waktu itu di groupnya, Epson pertumbuhannya cukup tinggi rata rata sekitar 13 hingga 14 persen pertahunnya,” tukasnya.

Ia melanjutkan pada fase kedua yang diistilahkan “marketing aporoach”. Mulai tahun 2008 secara sistematis, terstruktur mulai melakukan apa yang dinamakan end user approach termasuk didalamnya mendengarkan berbagai masukan dari para customer. “Dengan adanya masukan tadi kita berusaha memberikan feed back pada kantor pusat untuk menemukan solusinya,” katanya dengan menambahkan keputusan cepat diambil kantor pusat dengan meluncurkan produk L Series sebagai jawaban.

Diakui Husni, dengan adanya jawaban dari kantor pusat tidak serta merta semuanya lancar, pasalnya bisnis model Epson harga yang ditawarkan tiga kali lipat dibandingkan dengan kompetitor. “Tapi kita ndak kuatir, artinya dengan membranding hanya Rp 15 rupiah per lembar, serta lebih efisien masyarakat merdeka mencetak,” sebut pria tinggi besar ini.

Dari berbagai tantangan dan evaluasi, akhirnya Husni menyimpulkan kebutuhan masyarakat Indonesia ialah bisa mencetak sebanyak banyaknya dengan biaya yang rendah atau semurah mungkin. “Awalnya kita mengira dengan menjual satu set printer plus tinta akan selesai, ternyata tidak. Yang penting lagi yaitu purna jualnya. Meski demikian kesiapan Epson yang masih menjadi leader dibidangnya mesti diimbangi dengan komitmen untuk terus tumbuh dan berkembang,” tutupnya.