Diposting : 23 August 2016 12:21
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
festival
Keterangan Gambar: 
DIKECAM - Penampilan sexi performance lady car wash dalam Jembrana Modification Contest 2016 yang menuai kecaman.

Negara, Bali Tribune

Berbagai kecaman warga dan netizen muncul terhadap pelaksanaan Jembrana Modification Contest (JMC) di Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana serangkaian peringatan HUT Kota Negra ke-121. Pelaksanaan kontes modifikasi mobil ini dikecam lantaran mempertontonkan adegan erotis oleh tiga wanita yang hanya mengenakan bikini.

Bahkan dari video yang tersebar luas di dunia maya, Minggu (21/8) malam, adegan erotis dan vulgar itu ditampilkan di tempat umum dan disaksikan tidak hanya peserta kontes, tetapi warga termasuk anak-anak yang saat itu menikmati suasana sore di twin tower Jembrana. Mereka dengan leluasa menikmati serta mengabadikan lekukan tubuh tiga penari striptis, yang diketahui berasal dari Banyuwangi dan telah diamankan di Polres Jembrana.

Salah seorang warga, Wiarjana, menyatakan panitia lengah dan kurang selektif terhadap apa yang ditampilkan. Seharusnya, kata dia, tarian yang ditampilkan sesuai dengan adat istiadat dan budaya lokal. “Tarian itu mengandung unsur pornoaksi, tak sesuai kultur kita,” sambungnya. Ia berharap ada evaluasi terhadap panitia penyelenggara agar kontennya sesuai dengan  norma dan budaya yang ada di lingkungan sekitar.

 Sejumlah LSM juga mengecam event yang diikuti oleh pecinta mobil yang kebanyakan pesertanya dari luar Jembrana. Forum Transparansi Masyarakat Jembrana melalui ketuanya, I Ketut Sujana Senin (22/8) menyatakan tarian panas itu tidak sesuai tema Jembrana Festival HUT Kota Negara ke-121, yang mengangkat pembangunan dari desa dan kelurahan.

“Tampilan seperti itu lebih kepada menggambarkan selera masyarakat gaya hidup dan mental oknum pejabat di Pemkab Jembrana. Terlebih tarian tersebut dipertontonkan di ruangan terbuka dan disaksikan anak-anak,” sindirnya.

Pihaknya mempertanyakan pencanangan revolusi mental yang selama ini didengung-dengungkan. Perlu juga dipertanyakan reaksi Wakil Bupati Jembrana yang sekaligus  sebagai Ketua Panitia HUT Kota yang saat itu meninggalkan tempat acara tanpa menghentikan atau memerintahkan penghentian striptis tersebut. Pihaknya juga mempertanyakan apakah hal itu bisa dianggap sebagai bentuk cuci tangan yang biasanya akan menyalahkan EO atau bahkan bawahannya.

 “Ini masalah serius, saya harap DPRD Jembrana sebagai bentuk representasi masyarakat Jembrana perlu kiranya memanggil Ketua Panitia HUT Kota yang juga Wakil Bupati Jembrana,” pintanya.

Wakil Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan yang juga Ketua Umum Panitia Jembrana Festival 2016 HUT Kota Negara ke-121 dan HUT Kemerdekaan RI ke-71, saat memberikan keterangan pers mengaku sangat menyesalkan tarian tidak etis yang terjadi saat gelaran kontes, yang teknisnya dilaksanakan komunitas mobil modifikasi.

Wabup Kembang menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali khususnya Jembrana, atas pertunjukan tarian tidak etis tersebut. Pihaknya merasa tidak digubris, karena jauh sebelum acara dimulai, sudah mengingatkan dan menyampaikan bahkan sampai ke hal teknis termasuk aturan berpakaian harus sopan.

“Ini menjadi pelajaran sangat berarti, ke depan kami harus lebih teliti dan lebih detail lagi serta lebih selektif lagi dalam memilih acara yang akan ditampilkan,” ucapnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Panitia Kontes Mobil Modifikasi, Alex Trio juga meminta maaf kepada Pemkab Jembrana khususnya Panitia Jembrana Festival 2016 dan warga Jembrana atas kelalaiannya, sehingga terjadinya peristiwa itu.

Alex mengakui kurang cermat dalam mengontrol aktivitas sebelum acara berlangsung. Alex beralasan, adegan vulgar itu terjadi karena animo peserta dan pengunjung begitu heboh.