Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Bagi Bali, Industri Wisata Tetap Utama

Bali Tribune / Heru Lelono adalah Pangamat Kebijakan Publik dan Mantan Stafsus Presiden. Kini Tinggal di Bali

balitribune.co.id | Sial, itu kata singkat yang pantas diberikan kepada Bali dengan berbagai keindahan obyek wisatanya. Virus ganas Covid-19 yang bermula dari Wuhan China, mendadak merebak oleh lalu lalang manusia keberbagai penjuru dunia. Tentang Covid-19 sudah terlalu banyak dibahas diberbagai forum, termasuk di media. Intinya, virus tersebut lebih mudah menyerang manusia yang tidak dalam kondisi fit kesehatannya. Jadi menjaga kondisi kesehatan dan kebersihan badan adalah kunci utama menghindari virus ini. Bila demikian, adakah pelajaran atau hikmah yang bisa diambil dengan merebaknya Covid-19?

Bagi industri wisata Bali, dampak Civid-19 yang tergolong 'mendadak' ini memang sangat memukul. Dikatakan mendadak karena memang penyebaran virus ini terjadi karena banyaknya kemudahan manusia masa kini untuk berlalu lalang, berpindah tempat dari satu tempat ketempat lain, dari satu negara kenegara yang lain. Misalnya Covid-19 ini berasal dari China, dan orang yang masuk Indonesia pernah melalui negera tersebut, maka kemungkin penyebaran ke Indonesia sangatlah mungkin.

Disebut mendadak, juga karena tanggapan awal pemerintah dalam hal ini Kemeterian Kesehatan yang seakan meremehkan kasus penyebaran virus ini. Pernyataan-pernyataan yang menganggap enteng masalah ini, membuat masyarakat banyak yang panik. Akibatnya segala sikap berorientasi jangka pendek, tanpa mampu menyusun rencana atau gagasan yang lebih matang bagi menghindari dampak virus berbahaya ini. Demikian pula bagi pelaku usaha wisata di Bali. Karena pemerintah pusat pada awalnya masih nampak menganggap enteng kasus ini, maka yang terjadi adalah keterlambatan informasi. Hal itu berakibat pada ketidak siapan pelaku usaha wisata di Bali mengambil sikap dan menentukan strategi bisnisnya. Salah satu contoh konkrit adalah ketika maskapai penerbangan masih membawa rombongan turis dari China masuk ke Bali pada akhir bulan Januari atau Februari 2020. Padahal virus ini telah menyerang di China sejak pertengahan bulan Desember tahun 2019. Tuhan Yang Maha Penyayang memberikan berkah keindahan alam dan keramahan penduduknya bagi Pulau Bali. Dunia mengenalnya dengan sangat baik. Bahkan banyak rumor mengatakan, banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali daripada Indonesia sendiri. Berkah Tuhan yang selama ini dikelola dengan baik oleh masyarakat Bali dengan mempertahankan tradisinya, mempertahankan keunggulan kemampuan artistisknya, dan mengembangangkannya sebagai industri wisata. Industri yang memberikan manfaat besar bagi masayarakat Bali untuk memenuhi jalan hidupannya.

Usaha turunan untuk memenuhi jalannya industri wisata ini juga cukup banyak. Dimana semua usaha tersebut harus sesuai dengan kondisi alam dan kehidupan masyarakat Bali sendiri. Pertanian, perikanan, peternakan, juga makanan, adalah beberapa sektor yang harus dikembangkan oleh masyarakat Bali, tentu dengan dukungan konkrit dari pemerintah. Bukan mengutamakan usaha yang kurang tepat, seperti pabrik rokok, industri tambang besar atau usaha lain yang mungkin bisa merusak lingkungan. Sebagai contoh usaha perikanan. Masih cukup besar potensi Bali untuk mengembangkan usaha disektor ini. Seperti perlunya pembangunan Cold Storage yang memadai. Perlu pelabuhan bagi nelayan yang lebih layak. Dibidang pertanian, masih banyak peluang membangun usaha pengolahan hasil pertanian dan perkebunan yang cukup maju di Bali. Demikian pula disektor peternakan. Kebutuhan daging dan telor sebagai pendukung industri wisata Bali sangatlah besar. Ada pengamat atau politisi yang mengatakan "Bali harus meninggalkan ketergantungannya kepada industri wisata".

Menurut saya mungkin niatnya baik, namun hal tersebut hampir mustahil terlaksana. Selain Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan segala keindahan bagi Bali, juga karena masyarakat Bali dan berbagai usaha utama yang selama ini berjalan lebih banyak dibidang industri wisata. Industri yang selama ini menghidupi masyarakat Bali. Lebih tepat bila kita mengatakan "Covid-19 ini membuka mata hati Bali untuk membangun potensi usaha diluar wisata, tetapi terus mengembangkan kebijakan yang lebih baik serta lebih arif bagi industri wisata sebagai hal yang utama". Bagi Bali, industri wisata harus tetap hal yang utama. Masih banyak peluang diraih untuk menyusun kebijakan dan kearifan bagi pengembangan wisata di Bali.

Koreksi terhadap berbagai kebijakan juga harus difahami oleh para pelaku usaha wisata. Salah satu pergeseran kearifan yang perlu dilakukan adalah keseimbangan perlakuan pelaku usaha wisata kepada wisatawan mancanegara dan wisatawan dalam negeri. Sudah bukan rahasia lagi, masih banyak ditemui di Bali, pelaku usaha memperlakukan wisatawan asing bak raja, dan sebaliknya bagi wisatawan dalam negeri. Bahkan dimasa lalu, ada usaha yang tidak menerima lembar uang rupiah untuk transaksinya. Semoga sekarang tidak ada lagi. Padahal bila dihitung, jumlah masyarakat diberbagai daerah di Indonesia pasti sangat banyak yang menilai Bali sebagai destinasi wisata utama. Kebijakan pemerintajh pusat dan daerah juga menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan dan perkembangan industri wisata di Bali.

Sekali lagi kearifan menjadi kunci. Persoalan mudah tapi penting, seperti kata halal, tidak sepatutnya diperdebatkan menjadi persoalan yang besar. Kebutuhan wisatawan yang beragama Islam hanyalah ingin bisa menemukan makanan halal yang mudah di Bali. Sesederhana itu. Bahkan di negeri wisata besar lain seperti Singapura, sticker Halal Food menjadi hal umum di berbagai restaurant disana. Para pengusaha di Singapura yang mayoritas bukan muslim, melihat peluang untuk lebih memperbesar pasar dan keuntungan dengan menarik wisatawan dan tamu yang beragama Islam. Ini bukan persoalan Agama, ini persoalan peluang mengembangkan usaha dan keuntungan.

Bali harus mengembangan peluang dan keuntungan bagi masyarakatnya. Undang sebanyak-banyaknya wisatawan dari dalam negeri, dan layani mereka setara dengan layanan yang diberikan kepada wisatawan mancanegara. Sebagai penutup catatan saya, Covid-19 memang virus yang berbahaya. masyarakat tidak boleh meremehkannya. Namun panik bukanlah pilihan. Menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan keluarga adalah pencegahan utama. Karena saat ini penyebaran virus ini memang masih cukup aktif, maka mengurangi kegiatan diluar rumah dan berinteraksi dengan orang baru dikenal, atau orang asing perlu dikurangi bahkan dihindari. Masa prihatin ini pasti berlalu. Hari Raya Nyepi yang mengatur masyarakat di Bali untuk tidak boleh keluar rumah selama 24 jam, adalah salah satu ajaran yang sungguh bermanfaat untuk melakukan kontemplasi bersama keluarga, juga me-refresh diri dan hati. Selamat Hari Raya Nyepi 2020, Tahun Caka 1942.  

 

 

wartawan
Heru Lelono
Category

Skenario Tahap III Gagal Atasi Macet Ubud, Dishub Sebut Rekayasa Tahap II Paling Efektif

balitribune.co.id I Gianyar - Setelah dilakukan tiga kali tahap dalam rekayasa lalu lintas di Ubud dalam sebulan terakhir,  finalnya jatuh ke skenario Tahap II.  Menyusul terjadinya kemacetan parah (stuck)  di sejumlah ruas jalan saat perberlakukan ujicoba tahap III dalam sehari. 

Baca Selengkapnya icon click

Jaya Negara Serahkan Santunan Rp42 Juta Kepada Ahli Waris Ida Sira Mpu Nabe Dharma

balitribune.co.id I Denpasar - Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyerahkan santunan kematian secara simbolis kepada ahli waris Almarhum Ida Sira Mpu Nabe Dharma Sunu. Almarhum merupakan Sulinggih dari Griya Sira Mpu Pande, Desa Adat Tonja, Selasa (8/9/2026) sore.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Tim SAR Temukan Dua Pendaki yang Tersesat di Gunung Agung

balitribune.co.id I Amlapura - Setelah menerima laporan adanya dua pendaki yang tersesat saat melakukan aktifitas pendakian ke puncak Gunung Agung pada Rabu (9/9/2026), Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar melalui Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem langsung menerjunkan anggota untuk melakukan pencarian terhadap dua pendaki yang hilang tersebut.

Baca Selengkapnya icon click

Bupati Gus Par Buka Festival Literasi 2026, Ajak Warga Hidupkan Pustaka dan Rawat Tradisi

balitribune.co.id I Amlapura - Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata alias Gus Par membuka Festival Literasi Gemar Membaca Tahun 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Karangasem, Senin (7/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Karangasem ini mengusung tema “Prana Pustaka: Menghidupkan Cerita, Merawat Tradisi.”

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Bupati Satria Dorong Lahirnya Atlet Voli Berprestasi dari Klungkung

balitribune.co.id I Semarapura - Bupati Klungkung, I Made Satria, secara resmi menutup Turnamen Bola Voli Kertha Mandala Cup II Tahun 2026  di Lapangan Voli Kertha Mandala, Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Selasa (8/9/2026). Penutupan turnamen ini ditandai dengan laga final yang mempertemukan tim Radar melawan Putra Manik Mas.

Baca Selengkapnya icon click

Tujuh Orang Digigit Anjing, Dinkes Badung Pastikan Korban Tertangani

balitribune.co.id | Mangupura - Ancaman rabies kembali menghantui Kabupaten Badung menyusul laporan tujuh orang yang menjadi korban gigitan anjing liar di kawasan Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, beserta wilayah sekitarnya. Insiden ini terjadi dalam rentang waktu hampir bersamaan pada Jumat (4/9/2026), sehari menjelang perayaan Tumpek Uye.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.