Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Banjir, Pak Koster, dan Hadirnya Negara

Umar Ibnu Alkhatab
Bali Tribune / Umar Ibnu Alkhatab - Pengamat Kebijakan Publik

balitribune.co.id | Banjir yang meluluhlantakkan beberapa tempat di wilayah Provinsi Bali tidak saja telah menimbulkan kerusakan fasilitas publik tetapi juga telah meninggalkan trauma yang sangat dalam bagi mereka yang kehilangan sanak saudaranya akibat terbawa arus dan tertimpa bangunan yang roboh, trauma psikologis itu diperkuat pula oleh terganggunya aktivitas perekonomian mereka karena hilangnya akses mereka akibat rusaknya jalan, kios dan pasar, dalam laporan yang kita baca bahwa terdapat kurang lebih 763 titik kejadian bencana di seluruh Bali pada pertengahan September lalu, dan kejadian tersebut didominasi oleh banjir yang melanda kota Denpasar yakni 81 titik kejadian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sebanyak 18 orang meninggal dunia, 6.309 kepala keluarga yang terdampak banjir, 520 unit fasilitas umum rusak, tiga jembatan putus, 23 titik jalan rusak, 82 tembok atau penyengker jebol, dan 194 rumah rusak, BNPB juga mengonfirmasi bahwa kerusakan paling parah terjadi di Kota Denpasar dengan 474 fasilitas umum rusak (Tribratanews.polri.go.id).

Tentu saja kita sedih atas musibah tersebut, musibah yang berubah menjadi tragedi, tragedi kemanusiaan yang menyisakan kepedihan yang mendalam bagi kita semua, kita tidak menyangka bahwa banjir yang datang itu merenggut ketenangan kita semua, para ahli melihat bahwa banjir yang terjadi pada pertengahan September itu dipicu oleh kombinasi hujan ekstrem dan berkurangnya tutupan lahan, artinya berkurangnya hutan yang berubah menjadi area terbangun membuat air hujan lebih banyak menjadi aliran permukaan daripada masuk ke dalam tanah, aliran permukaan yang besar inilah yang dapat memicu banjir, dan dalam diskursus pasca banjir, banyak pihak melihat bahwa banjir Bali disebabkan oleh banyak hal, di samping soal berkurangnya tutupan lahan, juga oleh sampah yang memenuhi alur air, sempitnya drainase, tingginya volume air, tata ruang yang buruk, dan perkembangan kota yang tidak terkontrol, terlepas dari itu semua, kita melihat bahwa tragedi ini bisa kita jadikan sebagai instrumen bagi dimulainya konsolidasi sosial yang lebih kuat, bagi terbangunnya modal sosial yang lebih besar, dan bagi bangkitnya kesadaran baru bahwa bencana bukan hanya persoalan alam, melainkan juga cerminan bagaimana manusia mengelola ruang hidupnya, dalam konteks yang terakhir, kesadaran baru ini akan membuat publik lebih tangguh menghadapai setiap bencara.

Satu hal yang membuat kita yakin bahwa tragedi ini bisa kita lewati dengan baik kendati sesak oleh kepedihan dan air mata, dan semua proses penanganan dampak banjir berjalan sesuai skema kendati menyisakan luka batin yang dalam, bahkan kemudian bisa menghasilkan konsolidasi sosial yang kuat dan modal sosial yang besar, itu semua bisa kita temukan dari peristiwa alam ini oleh karena hadirnya sosok-sosok pemimpin di tengah masyarakatnya yang sedang ditimpa kemalangan, didera kerugian yang tak terhitung, material dan immaterial, sosok pemimpin yang mampu mengibarkan optimisme dan mengobarkan semangat percaya diri, memantik kesadaran baru masyarakat bahwa musibah, apapun bentuknya, adalah instrumen untuk menata ulang kehidupan sosial kita agar lebih berkualitas, lebih mawas diri, lebih berorientasi pada lingkungan, dan kita tahu bahwa di tengah upaya untuk memulihkan keadaan akibat banjir yang memporak-porandakan Bali, hadir seorang pemimpin yang kita butuhkan, yakni Gubernur Bali, Wayan Koster (Pak Koster), ia sedari awal turun ke lokasi, memimpin langsung penanganan bencana, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk membantu mereka yang terdampak, dalam wawancaranya dengan kalangan media, Pak Koster menegaskan bahwa ia tidak ingin masyarakat sendiri yang menghadapi musibah ini, ia bahkan memastikan bahwa semua kerugian yang dialami oleh para pedagang di pasar Badung akan diganti, gerak cepat Pak Koster ini tentu saja menyeruakkan optimisme di batin masyarakat bahwa mereka akan bisa melewati musibah ini dengan baik.

Di sisi lain, Pak Koster juga tidak mau berkutat di Bali saja, beliau segera terbang ke Jakarta menemui banyak menteri untuk meminta bantuan, tidak hanya sekali ke Jakarta, tetapi beberapa kali demi mempercepat pemulihan infrastruktur dan perekonomian Bali, Pak Koster bisa saja berdiam diri, hanya mendorong para bupati dan walikota untuk mengatasi masalah ini, tetapi beliau bukan tipikal pemimpin yang hanya berpangku tangan, menyerahkan sepenuhnya kepada kepala daerah di bawahnya, ia tidak suka melihat masyarakatnya berjibaku sendiri, ia ingin terlibat langsung, merasakan denyut nadi masyarakat yang tengah susah, apalagi sedang ditimpa kemalangan akibat banjir, meski ia dibuli kiri-kanan, beliau tak peduli, ia terus bergerak mencari cara membantu masyarakat, Pak Koster diserang akibat himbauannya kepada semua pegawai negeri, dari level paling tinggi hingga paling rendah, untuk mendermakan sedikit gajinya untuk masyarakat yang terdampak banjir, ia sendiri pun ikut merogoh koceknya demi membantu masyarakat, bagi Pak Koster, kepentingan masyarakat yang terdampak lebih penting, dan karena itu ia jalan terus dengan langkah yang ia ambil meskipun ia menghadapi bulian dari banyak pihak, itu sebabnya kita memandang bahwa Pak Koster adalah pemimpin yang berpikir dan bekerja all out demi menyelamatkan masyarakatnya, ia tak peduli apakah langkah-langkah yang ia ambil itu merugikan dirinya ataupun tidak, baginya, sekali lagi, kepentingan masyarakat di atas segalanya.

Kita tentu mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Pak Koster, sebab, sebagai pemimpin, ia harus berada pada garis depan ketika masyarakatnya mengahdapi masalah besar semacam bencana banjir ini, keberadaannya di garis depan akan memberikan efek positif, bahwa masyarakat tidak sedang berjuang sendirian, ada pemimpin yang mengibarkan panji dan mengobarkan semangat perjuangan, adrenalin publik akan meningkat, dan karena itu mereka siap sedia turun bergandengan tangan membantu saudara-saudaranya yang sedang malang akibat musibah, dan itulah yang kita lihat pasca banjir, banyak pihak turut membantu, memberikan donasi, bahkan dalam waktu yang hampir bersamaan, Presiden dan Wakil Presiden RI datang meninjau Bali dan melihat dari dekat lokasi yang terdampak paling rusak, kehadiran kedua pemimpin negara ini tidak bisa dianggap sebagai kunjungan biasa, kunjungan keduanya adalah pantulan dari kesungguhan dan dedikasi pemimpin daerahnya, dan di sini kita melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Pak Koster di dalam menangani musibah banjir mendapatkan perhatian yang serius dari Presiden dan Wakil Presiden RI, dan karena itulah mendorong keduanya untuk datang melihat langsung hasil kerja yang telah dicapai dan menemukan apa yang perlu dibantu oleh keduanya, sekali lagi kita mengapresiasi kerja keras Pak Koster, dan dari apa yang telah diperlihatkan oleh beliau ini patutlah dinilai sebagai amal jariyah beliau sebagai seorang pemimpin Bali yang terkemuka dewasa ini.

Akhirnya, kita percaya bahwa kehadiran Pak Koster dalam penanganan musibah banjir ini adalah representasi kehadiran negara di tengah masyarakat, negara tampil dengan wajah yang sejuk dan tangan yang terbuka, merasakan detak jantung rakyat yang susah, mendengar jeritan hati yang menyayat kalbu, negara mendekap rakyatnya sembari membalut luka batinnya, menyembuhkan deritanya, menyapu air matanya, dan sebagai representasi negara, Pak Koster telah menunaikan tugasnya dengan baik, ia tidak hanya duduk manis di balik meja, ia turun ke gelanggang, hampir setiap hari ia ada di lokasi, kini semua persoalan termasuk cara penyelesaiannya telah ia kantongi, ia akan membagi secara porsional, mana yang menjadi tanggungjawab gubernur dan mana yang menjadi domain bupati dan walikota, tetapi pastinya ia akan memimpin langsung eksekusinya agar terukur dan tercapai hasilnya, dengan cara ini, Bali akan bangkit kembali, wallahu a'alamu bish-shawab.

Ende, 28 September 2025.

wartawan
Umar Ibnu Alkhatab
Category

20 Jiwa Terdampak Ledakan Petasan di Siulan Denpasar, Dinsos Salurkan Bantuan Logistik

balitribune.co.id | Denpasar - Kebakaran hebat melanda kawasan Jalan Siulan, Gang Nusa Indah, Denpasar Timur, pada Selasa (15/9/2026) sore. Peristiwa yang dipicu oleh ratusan kembang api milik seorang warga tersebut memicu rentetan ledakan hingga api merembet ke pemukiman dan bengkel di sekitarnya. Hingga saat ini, titik pemicu awal kebakaran masih dipasang garis polisi (police line).

Baca Selengkapnya icon click

Bandara Ngurah Rai Gelar Airport Emergency Exercise, Penumpang Diminta Tidak Panik

balitribune.co.id | Mangupura - "Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer di dunia. Sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan di Pulau Bali, kami berkomitmen untuk senantiasa memastikan aspek keamanan dan keselamatan operasional penerbangan dan kebandarudaraan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selalu terjaga.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Diakui Atas Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat, Kawasan Pariwisata Raih BTA 2026

balitribune.co.id | Mangupura - Sebagai kawasan pariwisata yang mengintegrasikan kualitas destinasi dengan prinsip keberlanjutan dan penciptaan manfaat bagi masyarakat, kawasan pariwisata Nusa Dua mendapat Pengakuan melalui Bali Tourism Awards (BTA) 2026.

Baca Selengkapnya icon click

Memasuki Masa Tenang, Baliho Calon Perbekel di Kemenuh Ditertibkan

balitribune.co.id | Gianyar - Sejumlah baliho calon perbekel masih ditemukan terpasang meski sudah memasuki masa tenang Pemilihan Perbekel (Pilkel) Serentak 2026. Menanggapi hal tersebut, Panitia Pilkel Desa Kemenuh bersama kepolisian menertibkan atribut kampanye tersebut di wilayah Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Rabu (16/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Kera Resahkan Warga Nyalian, Rusak Lahan Pertanian hingga Masuk Pemukiman

balitribune.co.id | Semarapura - Perbekel Desa Nyalian, Cok Gede Agung Putra, mengeluhkan keberadaan kera ganas yang merusak tanaman pertanian warga. Ia menyampaikan kondisi tersebut kepada Kepala BPBD Klungkung, Putu Widiada, S.Sos., melalui grup penanggulangan bencana.

Baca Selengkapnya icon click

Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata Tegaskan Rp32,45 Miliar untuk Revitalisasi 94 Sekolah

balitribune.co.id | Amlapura - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karangasem mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 32,45 miliar untuk merevitalisasi 94 satuan pendidikan pada Tahun Anggaran 2026. Hal itu terungkap dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pelaksanaan Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dibuka langsung oleh Bupati Karangasem, I Gusti Putu Parwata, di Aula Mall Pelayanan Publik (MPP) Karangasem pada Kamis (10/9/2026) lalu.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.