balitribune.co.id I Tabanan - Dinas Pertanian (Distan) Tabanan menerima bantuan disinfektan sebanyak 160 liter dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar. Bantuan ini diterima di tengah upaya Distan Tabanan mencegah penyebaran virus ASF African Swine Fever (ASF). Meski, sejauh ini belum ada laporan resmi terkait ternak babi yang terpapar virus itu.
Bantuan cairan pembersih kuman ini langsung disalurkan kepada para peternak untuk menekan risiko penularan pada populasi babi yang sedang menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tabanan, drh Gede Eka Parta Ariana, mengatakan bahwa 160 liter disinfektan itu sudah disebar ke tiga Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di wilayah Tabanan.
Petugas di tingkat puskeswan bertugas mendistribusikan langsung cairan tersebut ke kandang-kandang milik warga sesuai dengan kebutuhan mendesak di lapangan.
“Disinfektan ini digunakan untuk upaya pencegahan. Distribusinya melalui tiga puskeswan, nanti mereka yang melakukan droping sesuai kondisi di lapangan,” ujar Eka Parta pada Selasa (10/6/2026).
Meski bantuan telah tiba, jumlah 160 liter tersebut diakui masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan skala populasi ternak di Tabanan yang mencapai 37.566 ekor.
Untuk melakukan pencegahan secara ideal dan menyeluruh, Kabupaten Tabanan sebenarnya membutuhkan setidaknya 720 liter disinfektan guna menjangkau seluruh sentra peternakan rakyat.
“Kalau kebutuhan tentu banyak, karena populasi ternak kita besar. Namun yang diberikan saat ini baru 160 liter,” jelasnya.
Hingga pertengahan 2026, pasokan bantuan dari pusat baru terealisasi satu kali. Oleh karena itu, seluruh kecamatan di Tabanan diminta tetap siaga tinggi karena karakter penyebaran virus yang sulit dideteksi secara kasat mata dan bisa menyerang sewaktu-waktu.
“Semua kecamatan harus waspada. Namanya virus, kita tidak tahu kapan datangnya,” tegas Eka Parta.
Sejauh ini, Distan Tabanan belum menerima laporan tertulis mengenai kematian massal babi yang menunjukkan gejala klinis ASF. Namun, pemerintah tetap mewaspadai adanya kemungkinan peternak yang enggan melapor karena trauma terhadap anjloknya harga pasar seperti yang pernah terjadi pada periode wabah sebelumnya.
Distan juga menekankan pentingnya akurasi diagnosis agar tidak menimbulkan kepanikan atau polemik di tengah masyarakat. Pemeriksaan laboratorium tetap menjadi standar utama sebelum sebuah wilayah dinyatakan terinfeksi virus tersebut.
“Kami juga tidak bisa langsung menyatakan itu ASF tanpa uji laboratorium. Harus ada pemeriksaan yang jelas agar tidak menimbulkan polemik,” ungkapnya.
Mengingat program vaksinasi dari pemerintah provinsi belum kunjung terealisasi, maka pengetatan biosekuriti di tingkat kandang menjadi satu-satunya tumpuan harapan peternak saat ini. Kebersihan kandang dan pembatasan akses masuk bagi orang luar menjadi kunci utama menjaga keberlangsungan ekonomi peternak babi di Tabanan.
"Langkah pencegahan tetap melalui biosekuriti, termasuk penyemprotan disinfektan, menjadi strategi utama untuk menekan potensi penyebaran virus di masing - masing kandang," ujarnya.