balitribune.co.id I Denpasar - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar menaruh perhatian serius terhadap kesehatan mental menyusul temuan 11 kasus bunuh diri di ibu kota sepanjang tahun 2024. Secara regional, prevalensi kasus bunuh diri di Bali menyentuh angka 3,07 per 100 ribu penduduk, sebuah alarm bagi penguatan sistem proteksi sosial dan psikologis.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Anak Agung Ayu Agung Candrawati, mengungkapkan bahwa gangguan mental seperti depresi, ansietas, dan skizofrenia masih menjadi pemicu utama. "Depresi dan ansietas yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi keinginan untuk mengakhiri hidup. Pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh," ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Sebagai langkah konkret, Pemkot Denpasar mengandalkan inovasi Pos Prana Jiwa yang kini dipelopori Puskesmas III Denpasar Utara. Melalui inovasi ini, kader kesehatan di desa dan kelurahan dibekali kemampuan deteksi dini, edukasi, serta pendampingan bagi warga yang berisiko mengalami gangguan mental.
Selain pendampingan medis, Dinkes juga memperkenalkan metode akupresur sebagai terapi komplementer. Teknik ini diyakini mampu melancarkan aliran energi dan memberikan efek relaksasi guna meredakan ketegangan psikis pada orang yang berisiko. Namun, dr. Candrawati menegaskan akupresur merupakan pelengkap, bukan pengganti penanganan medis atau psikologis profesional.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat luas untuk meruntuhkan stigma negatif terhadap masalah kesehatan jiwa. Lingkungan yang terbuka dan suportif dinilai menjadi kunci utama dalam menyelamatkan nyawa. "Satu perhatian kecil dan sapaan hangat bisa menjadi penyelamat bagi mereka yang sedang berjuang," pungkasnya.