balitribune.co.id | Denpasar - Isu matinya sejumlah pohon mangrove di kawasan Benoa, Denpasar Selatan, memicu perhatian publik. Dugaan awal menyebutkan kerusakan tersebut akibat kebocoran pipa bahan bakar minyak (BBM). Menanggapi hal itu, PT Pertamina Patra Niaga bergerak cepat melakukan pengecekan lapangan bersama aparat kepolisian perairan.
Pengecekan dilakukan pada Sabtu (20/2), menyusul beredarnya informasi adanya pohon mangrove yang mati secara mendadak di sisi barat pintu masuk Tol Bali Mandara, kawasan Benoa. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari Terminal BBM Sanggaran.
Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Ahad, menyampaikan bahwa tim dari Pertamina Patra Niaga bersama Polairud Polda Bali telah melakukan pemeriksaan langsung di lapangan.
“Hasil pengecekan visual di lokasi tidak ditemukan adanya lapisan minyak di permukaan air maupun bau menyengat BBM,” ujarnya.
Selain pengecekan lapangan, pihak Terminal BBM Sanggaran juga menghadiri rapat koordinasi yang digelar Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali (DKLH). Rapat tersebut membahas langkah tindak lanjut terkait dugaan penyebab matinya vegetasi mangrove.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap kepatuhan lingkungan, Pertamina memastikan seluruh proses bisnis, dari hulu hingga hilir, dijalankan sesuai kaidah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Perusahaan juga menyatakan akan melakukan penelusuran kronologis operasional beberapa bulan terakhir, termasuk aktivitas pipanisasi di sekitar kawasan Benoa.
Investigasi internal kini tengah dilakukan untuk memastikan penyebab pasti matinya pohon mangrove secara mendadak. Pemeriksaan mencakup evaluasi kegiatan operasional serta pengecekan kondisi ekosistem di sekitar area terdampak.
Tak hanya investigasi, Pertamina juga menyatakan komitmen mempercepat pemulihan kawasan mangrove Benoa. Upaya rehabilitasi akan dilakukan bersama perusahaan lain yang beroperasi di kawasan tersebut, sesuai arahan DKLH Provinsi Bali.
Langkah ini dinilai penting mengingat kawasan mangrove Benoa memiliki fungsi ekologis vital sebagai penahan abrasi, habitat biota laut, serta penyangga keseimbangan lingkungan pesisir Bali.
Pertamina juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan lembaga terkait yang telah terlibat dalam proses pengecekan serta upaya pemulihan kawasan.
Untuk informasi lebih lanjut terkait layanan dan produk, masyarakat dapat menghubungi Pertamina Contact Center di nomor 135.