Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Gerakan Kultural Romo Mangun

Bali Tribune / Putu Suasta - Alumnus UGM dan Universitas CORNELL
balitribune.co.id | Yusuf Bilyarta Mangunwijaya lahir di Ambrawa dalam sebuah keluarga sederhana dan bersahaja. Di kemudian hari dia lebih dikenal masyarakat Indonesia dan dunia sebagai Romo Mangun. Panggilan akrab dan popular di kalangan para pejuang HAM, komunitas ilmuwan, pers, para pemerhati masalah-masalah sosial  dan bahkan nama itu cukup populer di tengah masyarakat biasa setidaknya hingga penghujung tahun 90-an. Namanya menjadi semacam rujukan bagi siapapun yang bergiat dalam kerja-kerja kerelawanan dan perjuangan menengakkan keadilan bagi masyarakat kecil, miskin serta terpinggirkan.
 
Sebagian generasi muda sekarang ini mungkin hanya mengenal dia lewat peristiwa Kedungombo yang menjadi pembahasan hangat di seluruh negeri ini hingga penghujung tahun 1990-an. Tapi pembelaan kepada masyarakat yang tergusur dari tanahnya dalam pembangunan waduk Kedungombo, hanyalah salah satu penggalan cerita perjuangan Romo Mangun yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk menegakkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan dan pembelaan terhadap masyarakat kecil-miskin di bumi pertiwi Indonesia.
 
Sebagai seorang pengagum dan pernah merasakah bimbingan langsung dari Romo Mangun dalam kerja-kerja kerelawanan, saya tertarik membuat catatan singkat untuk menggambarkan aneka bidang yang digelutinya dalam usaha menegakkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan sekaligus untuk menggaungkan kembali nilai-nilai yang diperjuangkannya dalam rangka menyongsong 23 tahun Reformasi Indonesia.
 
Rohaniwan dan Aktivis Lintas Agama
 
Gelar Romo yang melekat dalam panggilan akrabnya menandakan bahwa dia adalah seorang rohaniwan Katolik. Tapi satus itu sama sekali tidak membatasi ruang gerak dan arena perjuangannya. Dia membela masyarakat tertindas tanpa memandang agama, ras maupun asal muasalnya. Baginya, kemanusiaan tidak mengenal agama, warna kulit dan identitas-identitas primordial lain. 
 
Dia tinggal di tengah-tengah warga di perkampungan kumuh yang mayoritas bukan jemaat agama Katolik. Bersama warga dia menata kampung kumuh menjadi lebih rapi dan layak huni sehingga tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menggusur. Inilah cerita dari kampung di tepi Kali Kode yang disempat direncanakan akan digusur pemerintah pada awal tahun 1980-an. Tantangan lebih besar dia hadapi saat membela masyarakat menghadapi ancaman penggusuran akibat proyek pembangunan wadung Kedung Ombo pada 1989.
 
Pembangunan dilakukan dengan cara menenggelamkan kampung. Saat ingin membantu warga sekitar, ia dituduh ingin mengkristenkan penduduk  hingga sempat diancam akan ditembak tentara. Romo Mangun tetap dalam perjuangannya mendampingi warga melakukan perlawanan dan mencari solusi-solusi bagi warga para korban penggusuran serta masyarakat miskin lainnya. Bagi ribuan warga miskin, dia ibarat ratu adil di dalam cerita pewayangan Jawa Kuno.
 
Intelektual Multidimensi dan Humanis
 
Di samping rohaniwan dan aktivisi sosial yang menghabiskan banyak waktu tinggal bersama warga, Romo Mangun juga memberi warna dan mendapat tempat istimewa di hati para intelektual Indonesia. Dunia intelektual menerimanya dengan amat semarak. Dia diminta hadir dalam berbagai pertemuan ilmiah yang penting, untuk memberi wawasan yang sering kali menguak cakrawala dan memberi arah pada peta masalah yang ada.
 
Pembelaan dan perjuangannya yang berani untuk mengangkat harkat hidup manusia menjadi petunjuk paling jelas bagi kalangan intelektual bahwa semua ilmu pengetahuan mesti diorientasikan pada penegakan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Dia menulis buku dan berbagai kolom di media massa dengan lintas topik.
 
Mulai dari sosial politik, sastra, sejarah hingga arsitektur. Benang merah dari semua karya intelektualnya yang bersifat lintas displin tersebut adalah supremasi nilai-nilai kemanusiaan dan keberpihakan pada masyarakat kecil-miskin. Dia bukan sosok ilmuwan yang terpukau dan terjebak pada metodologi ilmiah serta bukan pemikir yang mencari kenyamanan dalam menara gading dunia akademik. Berbagai displin ilmu yang dia geluti dan kuasai, memungkinkan Mangun menggunakan pendekatan yang lebih holistis dan yang pasti humanitis dalam memecahkan persoalan ketidakadilan dan kemiskinan. Dia  dengan tegas  mengingatkan kita akan segi-segi moral dan etis dari ilmu pengetahuan sebagaimana dicerminkan dalam bukunya, “Teknologi dan Dampak Kebudayaan”.
 
Menyosong 23  Tahun Reformasi Indonesia
 
Tahun ini, Reformasi Indonesia akan genap berusia 23 tahun. Kita tidak tahu pasti apakah Romo Mangun akan lebih bahagia atau sebaliknya, seandainya bisa menyaksikan langsung bagaimana negeri yang sangat di cintainya ini menjalankan pembangunan dalam kurun waktu tersebut. Reformasi tentulah sejarah baru yang turut diperjuangkan dan dinanti-nantikan Romo Mangun.
 
Setelah puluhan tahun berjuang bersama masyarakat di bawah tekanan dan berbagai pengawasan ketat rejim Orde Baru, Romo Mangun tentu mengimpikan negerinya hidup dalam iklim yang lebih demokratis sehingga usaha-usaha pembangunan dapat dijalankan secara lebih terbuka dan akuntabel. Sayangnya, dia pergi meninggalkan kita semua pada 10 Februari 1999 dan tidak sempat menyaksikan bagaimana Indonesia mengisi babak baru tersebut.
 
Romo Mangun pergi saat euforia Reformasi sedang berdegung di seluruh negeri ini. Harapan akan perubahan dan perbaikan dalam berbagai sendi-sendi kehidupan bangsa ini sedang membubung tinggi. Setelah hampir 23 tahun, euforia itu tak terdengar lagi. Kini memang kita merasakan berbagai perbaikan dalam kehidupan berbangsa sejak Reformasi dimulai. Tapi, nilai-nilai yang diperjuangan dan terus menerus dikumandangkan Romo Mangun sepanjang hidupnya masih perlu kita degungkan terus. Kritik Romo Mangun pada penguasa di masanya, masih perlu kita ulangi untuk penguasa masa kini.
 
Di tengah derap pembangunan yang secara kasat mata tampak berlari kencang saat ini, kita membutuhkan  kehadiran sosok Romo Mangun baru untuk mengingatkan pemerintah bahwa masyarakat kecil mesti menjadi orientasi utama dalam rancangan pembangunan. Kita dapat menyaksikan sekarang ini di tengah derap pembangunan justru masih banyak masyarakat yang merasakan hidup lebih susah dari sisi sosio-ekonomi. Para intelektual kita seakan sibuk memamerkan ilmu mereka untuk membuat rancangan-rancangan teknokrasi canggih, tapi tidak menguji dengan serius apakah semua rancangan itu tepat sasaran untuk masyarakat bawah. Kita seakan asyik berlomba untuk mengimbangi derap kemajuan teknologi dunia tapi lupa bahwa pembangunan masyarakat kelas bawah semestinya menjadi prioritas utama. Maka sungguh kita membutuhkan sosok Romo Mangun agar pembangunan Sosial dan kemajemukan yang tengah kita jalankan tidak menjadi bias.
wartawan
Putu Suasta
Category

Festival Seni dan Kuliner Tanah Lot VI 2025 Resmi Diperkenalkan, Bupati Sanjaya: Ajang Lestarikan Budaya dan Dorong UMKM

balitribune.co.id | Tabanan - Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., menghadiri undangan sekaligus menjadi narasumber dan memimpin kegiatan Press Release Tanah Lot Art & Food Festival VI Tahun 2025 yang digelar di Natys Restaurant, Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Kediri, Tabanan, Sabtu (16/8). Kehadiran Sanjaya turut didampingi Sekda dan jajaran terkait.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pemimpin Aksi Iklim Daerah dan Nasional Hadiri Pekan Iklim Bali 2025

balitribune.co.id | Denpasar – Para pemimpin aksi iklim tingkat daerah dan nasional Indonesia akan menghadiri Pekan Iklim Bali 2025: Titik Temu Ambisi dan Aksi Iklim, untuk berbagi wawasan, memperkuat kolaborasi dan komitmen aksi iklim yang lebih ambisius, dan menjembatani aksi global menjadi aksi nyata dan tepat guna.

Baca Selengkapnya icon click

Jaga Kelestarian Ekosistem, Bupati Sanjaya Tebar Benih Ikan Nila di Ulun Danu Beratan

balitribune.co.id | Tabanan – Dalam rangka memeriahkan HUT ke - 80 Kemerdekaan RI, sekaligus upaya menjaga kelestarian lingkungan, Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E, M.M, menghadiri kegiatan Penebaran Benih Ikan Nila yang dilaksanakan di kawasan wisata The Rusa by The Lake, Ulun Danu Beratan, Desa Adat Kembang Merta, Candikuning, Baturiti, Tabanan, Jumat (15/8).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Astra Motor Bali Sabet Dua Penghargaan di Kontes Layanan Honda Nasional 2025

balitribune.co.id | Jakarta – Astra Motor Bali kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang Kontes Layanan Honda Nasional (KLHN) 2025 yang berlangsung di Jakarta pada 11–14 Agustus 2025. Dalam kompetisi bergengsi tersebut, Astra Motor Bali berhasil meraih dua penghargaan utama sekaligus serta memperoleh apresiasi khusus dari PT Astra Honda Motor (AHM) untuk kategori Main Dealer terbaik.

Baca Selengkapnya icon click

Bupati Lantik Pejabat Administrator, Pengawas dan Fungsional: Isi Pejabat di RSUD Giri Asih dan Suwiti

balitribune.co.id | Mangupura - Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa melantik dan mengambil sumpah jabatan Pejabat Administrator, Pejabat Pengawas dan Pejabat Fungsional di lingkungan Pemkab Badung di ruang Kriya Gosana, Puspem Badung, Kamis (14/8). Sebanyak 61 pejabat dilantik, terdiri dari Pejabat Administrator dan Pejabat Pengawas sebanyak 18 orang dan Pejabat Fungsional 43 orang.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.