Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

KISAH ANTARA PARIWISATA DAN PERTANIAN

Bali Tribune/ Wayan Windia
Oleh : Wayan Windia
 
balitribune.co.id | Kelompok Sadar Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Pokdarkamtibmas) Pengda Bali, tiba-tiba saja menggeliat. Mungkin karena tekanan korona yang semakin mengganas. Mereka sepertinya gelisah, karena gelombang serangan korona yang tidak bisa ditebak. Bahkan semakin mengganas. Banyak dari bisnis anggotanya yang umumnya bergerak di sektor pariwisata, menurun drastis.
 
Mantan Wakapolda Bali, Brigjen. Pol. (Pur), Made Suweta, hadir dalam pertemuan itu. Petermuan yang dramatis itu, diselenggarakan di Sekretariat Flobamora, Renon. Diyakini bahwa, yang menjadi persoalan pokok umat manusia adalah pangan. Orang bisa segera menjadi marah, kalau perutnya lapar. Secara filosofis dikatakan bahwa, orang hanya bisa hidup dari kehidupan lain di sekitarnya. Bahwa manusia bisa hidup, kalau ada kehidupan binatang, dan tanaman. “Manusia tidak bisa hidup, dari simpanan dolar di bank” katanya.
 
Oleh karenanya, ia merasa senang, karena Pokdarkamtibmas Bali, mulai berbicara tentang ketahanan pangan, di tengah serangan covid. Tampaknya Brigjen Suweta benar. Bahwa masalah pangan dan harga diri, sering membuat manusia bisa menjadi cepat marah. Oleh karenanya, kini kita harus fokus untuk pengadaan pangan, demi ketahanan pangan.
 
Kebanyakan dari pengurus Pokdarkamtibmas Bali adalah orang pariwisata. Maklum, sektor pariwisata mendominasi perekonomian Bali sejak lebih dari 40 tahun yl. Oleh karenanya, kehidupan sosial dan bahkan kehidupan politik di Bali, didominasi oleh orang-orang yang bergerak di sektor pariwisata. Mereka adalah orang-orang yang memiliki uang. Mereka hidup nyaman dengan kehadiran sektor pariwisata di Bali, yang sebelumnya terus membubung tinggi.
 
Serangan korona telah menghentikan hidupnya yang nyaman ala pariwisata Bali. Sekarang mereka sedang gelisah, karena sektor pariwisata sedang macet. Meskipun kasus serangan korona tidak menjadikannya mereka miskin, tetapi jelaslah pendapatan mereka berkurang. Manusia memang demikian tabiatnya. Manusia bisa meningkatkan konsumsinya secara vertikal, kalau pendapatannya naik pada titik tertentu.
 
Tetapi kalau pada titik tersebut, tiba-tiba saja pendapatannya turun, maka mereka tidak sudi menurunkan konsumsinya secara vertikal sekaligus. Itulah yang menyebabkan terjadinya kegelisahan dalam hidup manusia. Tidak siap hidup nyunie atau hidup prihatin, bila jatuh “miskin”. Oleh karenanya, konsumsi manusia pada saat pendapatannya turun, adalah turun secara diagonal. Tidak sudi turun secara vertikal.
 
Kolega saya Wiwin Suyasa, adalah salah satu dedengkot sektor pariwisata di Bali. Ia sudah sejak lama nian malang melintang menikmati manisnya pariwisata Bali. Dalam diskusi itu, ialah orang yang paling radikal ingin membuka pariwisata Bali, di tengah serangan korona saat ini. Ia membandingkan kasus antara Phuket dan Bangkok di Thailand. Bangkok ditetapkan lockdown, tetapi Phuket justru dibuka pada saat yang bersamaan. Ia memandang bahwa saat ini kondisi serangan korona di Bali jauh berbeda dengan di Jawa. Ia beranggapan bahwa di Bali aman-aman saja. Tidak perlu di PPKM Mikro Darurat-kan. Operasi seperti itu cukup di Jawa saja.
 
Ia mungkin lupa bahwa jarak antara Jawa dan Bali sangat dekat sekali. Kalau Bali tidak dikenakan PPKM Mikro Darurat (PPKM-MD) sama dengan di Jawa, maka peduduk Jawa akan mengalir seperti air bah ke Bali. Dan akan sangat sulit diditeksi orang yang berpenyakit, orang yang OTG, dll, bila petugas kita tidak siap secara mental. Seperti halnya warga India yang mengalir seperti air bah ke Makedonia. Pada saatnya Makedonia akan kelabakan menghadapi korona India.
 
Hal yang sama akan diderita oleh Bali, kalau Bali tidak di PPKM-MD kan. Lihatlah sekarang. Serangan korona di Bali terus menanjak tajam seperti air bah, meski sudah di PPKM-MD kan. Janganlah Bali yang kecil dan elegan ini, diperuntukkan hanya untuk kepentingan pariwisata. Persis seperti slogan lama yang sering dimunculkan. Sebetulnya, apa filosofi yang harus dibuat untuk Bali ini dalam konteks pariwisata?. Bali untuk pariwisata atau pariwisata untuk Bali.  
 
Wiwin juga tidak sudi pariwisata dibandingkan dengan pertanian secara harfiah. Karena memang tidak bisa dibandingkan. Membandingkan pariwisata dengan pertanian, dianggap mirip membandingkan antara durian dan mentimun. Tentu saja pertanian menjadi sangat terpinggirkan. Ia mengatakan bahwa pariwisata adalah industri (disebutnya sebagai industri pariwisata). Oleh karenanya, ia ingin agar yang dibandingkan adalah antara industri pariwisata dengan industri pertanian. Artinya, membandingkan hal yang sepadan.
 
Tetapi mungkin ia lupa bahwa BPS dan juga Bank Indonesia, membandingkan kondisi ekonomi atas dasar antar sektor ekonomi. Yakni, antar sektor pertanian, sektor industri, dan sektor pariwisata. Istilah industri pariwisata mungkin hanya istilah dari wacana orang awam. Tapi dalam dunia akademik, sektor pariwisata tetap dianggap sebagai sektor jasa dan masuk dalam katagori sektor tersier. Jadi, sektor pariwsata tidak masuk sebagai sektor industri (sektor sekunder).
 
Demikian pula halnya dengan istilah sektor industri pertanian, di sektor primer. Tampaknya tidak ada istlah itu di pertanian. Sama dengan pariwisata, di mana kalau istilahnya sudah menjadi industri pertanian, maka ia sudah masuk pada jajaran sektor industri, atau sektor sekunder. Mengapa kita perlu membandingkan (sumbananya pada PDRB), pada ketiga sektor itu, adalah untuk konsumsi pengambil kebijakan. Agar bisa diambil kebijakan yang tepat, agar sumbangan ketiga sektor itu bisa harmoni dalam perekonomian Bali.
 
Wiwin juga menyoroti anggaran yang besar untuk sektor pertanian, yang katanya lebih besar dari pariwisata. Ia mungkin lupa bahwa sektor pertanian itu terdiri dari banyak sub-sektor, yakni : pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Di samping itu, banyak anggaran yang seolah-olah diperuntukkan bagi pertanian, tetapi sebetulnya tidak sepenuhnya demikian. Misalnya proyek yang dekat-dekat saja, yakni pembangunan Bendung Telaga Tunjung. Tampak seolah-olah pembangunan bendung itu adalah untuk pertanian. Padahal sebetulnya pembangunan bendung itu sebagian besarnya airnya untuk PDAM. Lebih dari 70% air di bendung itu untuk PDAM.
 
Kolega saya Dr. Yekti, mengambil PhD-nya di Delf, Belanda. Dalam disertasinya ia mencatat bahwa kalau saja betul bahwa air di Bendung Telaga Tunjung adalah 30% untuk petani (subak), maka subak-subak di hilir bendung tidak akan mengeluh kekurangan air irigasi. Buktinya subak-subak tersebut sangat mengeluh. Dr. Yekti mengusulkan agar diadakan perubahan pola tanam. Tetapi tidak mudah merubah pola pikir petani yang miskin-miskin. Jadi, kapankah kita membela petani kita untuk bisa menjamin ketahanan pangan NKRI?
 
*) Penulis, adalah Guru Besar di FP Unud, dan Ketua Stispol Wira Bhakti Denpasar. 
 
wartawan
Wayan Windia
Category

Tim GDN Badung Gelar Sidak, Pastikan ASN Taati Jam Kerja

balitribune.co.id I Mangupura - Tim Gerakan Disiplin Nasional (GDN) Kabupaten Badung melakukan monitoring dan inspeksi mendadak (sidak) ke berbagai unit kerja di lingkungan Setda Badung, Senin (3/8/2026). Sidak digelar menindaklanjuti aturan kewajiban jam kerja dan penjatuhan sanksi bagi pelanggar sesuai PP Nomor 94 Tahun 2021. 

Baca Selengkapnya icon click

Pengadaan Seragam Gratis Sedang Berproses, Disdikpora Badung Pastikan Siswa Baru Dapat Seragam Lengkap Plus Ongkos Jarit

balitribune.co.id I Mangupura - Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Badung tengah memproses pengadaan seragam gratis bagi siswa baru jenjang SD dan SMP pada tahun ajaran 2026/2027.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Bawaslu Gianyar Minta Aturan Hak Pilih TNI/Polri Aktif di Pilkel Ditinjau Ulang

balitribune.co.id I Gianyar - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Gianyar mengusulkan agar ketentuan mengenai penggunaan hak pilih bagi anggota TNI dan Polri yang masih aktif dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkel) Serentak 2026 ditinjau kembali. 

Baca Selengkapnya icon click

Raker Dengan Eksekutif, DPRD Karangasem Soroti Pejabat Dua Kali Mutasi Promosi Dalam Waktu Setahun

balitribune.co.id I Amlapura - Persoalan mutasi pejabat di lingkungan Pemkab Karangasem yang bergulir beberapa waktu lalu sampai saat ini masih menyisakan polemik dan tanda tanya besar bagi sejumlah kalangan, utamanya dari para waki rakyat di gedung DPRD Karangasem.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Investasi Buleleng Melonjak 328 Persen, Tembus Rp287 Miliar pada Triwulan II 2026

balitribune.co.id I Singaraja - Iklim investasi di Kabupaten Buleleng menunjukkan pertumbuhan yang signifikan pada pertengahan tahun 2026. Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Buleleng, Realisasi investasi di Kabupaten Buleleng pada Triwulan II Tahun 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai mencapai Rp287.017.403.738.

Baca Selengkapnya icon click

Prospek Kian Menjanjikan, Pemkab Bangli Targetkan Perluasan Kebun Kopi Kintamani hingga 350 Hektare

balitribune.co.id I Bangli - Prospek pasar yang terus membaik dan tingginya permintaan terhadap Kopi Arabika Kintamani mendorong Pemerintah Kabupaten Bangli menargetkan akan memperluas areal perkebunan kopi pada 2027. Melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP), perluasan kebun ditargetkan mencapai 350 hektar, meningkat dibandingkan realisasi perluasan pada 2026 yang mencapai 315 hektare.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.