Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Membudayakan Adat dalam Pendidikan dan Mengadatkan Pendidikan dalam Budaya

Bali Tribune / I Komang Warsa - Bendesa Adat Alasngandang dan Kepala SMA N 1 Tembuku

balitribune.co.id | Mendidik adalah proses mengadatkan perilaku ke arah yang yang lebih baik agar terlahir manusia yang manusiawi. Peradaban adat dalam pendidikan mengandung makna menanamkan nilai-nilai tradisi adat ke dalam aspek pendidikan, baik itu melalui pendekatan kurikulum, metode pengajaran, maupun aktivitas ekstrakurikuler.

Penerapan  pakaian adat setiap Kamis di sekolah merupakan salah satu simbol penghormatan terhadap budaya adat Bali yang berkolaborasi dalam pendidikan. Pakaian adat yang diikuti oleh penggunaan Bahasa Bali sebagai Bahasa ibu (B1) orang Bali sebagai alat pengingat akan norma dan etika yang harus dijunjung tinggi oleh setiap individu dan juga oleh lembaga pendidikan.

Bahasa adalah bagian dari budaya yang penggunaannya ada sor singgih dalam berbahasa dan satu bentuk nilai etika dalam kesantunan bahasa. Ketika peserta didik mengenakan pakaian adat dan Bahasa Bali, mereka secara otomatis terhubung dengan nilai-nilai tradisi yang menuntun perilaku mereka, menjauhkan dari tindakan yang bertentangan dengan norma adat yang membalut karakter pendidikan di Bali.

Sedangkan Mengadatkan Pendidikan dalam Budaya mengandung makna memaknai setiap perubahan dalam dunia pendidikan sebagai sebuah budaya yang perlu diadatkan (dibiasakan) sehingga rohnya dari regulasi pendidikan bisa berterima sebagai sebuah tradisi (kebiasaan) oleh guru, peserta didik dan juga tenaga kependidikan.

Terkadang perubahan regulasi pendidikan sering “dianggap” beban bahkan di kalangan guru sering apatis karena terlalu seringnya ada perubahan sehingga memunculkan praduga ganti pemerintahan ganti kebijakan dan ganti menteri ganti kurikulum.

Mengadatkan pendidikan artinya menerima perubahan sebagai sebuah tradisi untuk satu kemajuan. Dengan demikian setiap perubahan bagian dari budaya menuju menara kemajuan dan keselarasan terhadap perkembangan teknologi. Jika perubahan itu disambut hangat oleh semua elemen pendidikan dan menjadi sebuah kebiasaan itu bagian dari mengadatkan perubahan pendidikan menjadi sebuah budaya positif.

Jangan pernah apreori terhadap sebuah perubahan melainkan berterima sebagai sebuah tradisi adat (kebiasaan) untuk sebuah kemajuan. Misalkan perubahan kurikulum dari 2013 menjadi kurikulum merdeka muncul istilah Platform Merdeka Mengajar (PMM) adalah bagian dari teknologi inovasi pendidikan yang perlu dibiasakan dan dimaknai sebagai sebuah budaya positif pendidikan.

PMM mesti diadatkan untuk kemajuan teknologi pendidikan sehingga dengan sendirinya muncul pembiasaan di kalangan dunia pendidikan.

Laju teknologi tidak mampu diredam dalam derasnya arus kesejagatan pendidikan, pendidikan di Bali tetap berdiri tegak dan bisa mewarnai perkembangan pendidikan dalam kanal teknologi yang semakin pesat. Semua itu beriringan tanpa pernah mengikis kekayaan budaya dan adat istiadatnya yang unik.

Pulau Dewata ini, selain dikenal dengan keindahan alamnya, juga terkenal dengan kekayaan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu bentuk pelestarian tradisi adat dan budaya tersebut diwujudkan dalam pendidikan adat dan budaya, yang tak hanya sekadar melestarikan warisan leluhur, tetapi juga membentuk karakter dan identitas anak bangsa.

Konsep membudayakan adat dalam pendidikan yang sudah dibangun melalui Pasraman Kilat, mentradisikan kegiatan Purnama Tilem di sekolah suatu hal penting dalam pemolaan karakter spiritual bagi peserta didik. Dan yang tak kalah pentingnya perlu dikembangkan sinergitas antara adat (desa adat atau majelis adat) dengan sekolah melalui program pengenalan adat dan budaya Bali kepada peserta didik pada saat MPLS di sekolah.

Program desa adat masuk sekolah bagian yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan sebagai kearifan lokal (local genius) sekolah. Tentu muaranya mengenalkan tradisi adat dan budaya secara dini kepada siswa karena selama ini paradigma siswa, adat hanya untuk masyarakat yang sudah menikah (mekrama). Peserta didik mengenal adat dan budaya harus dikenalkan sejak dini agar tradisi adat budaya dipahami secara komprehensif.

Pasraman Kilat adalah salah satu program pendidikan di Bali yang mengajarkan nilai-nilai spiritual dan filosofi kehidupan melalui pemahaman mendalam tentang ajaran agama Hindu. Program pesraman kilat mengandung tiga dimensi yaitu dimensi agama (Hindu), dimensi adat dan dimensi budaya. Ketiga dimensi itu menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, ibarat telur yang ada tiga lapis yakni kuningnya dimensi agama sedangkan  kulit dan putih telurnya adalah dimensi adat dan budaya. Program purnama Tilem, saraswati dan siwalatri yang diadakan di sekolah  bagian dari membangun peradaban tiga dimensi tersebut yang secara tidak langsung membangun kuat peradaban karakter dengan memasukan tradisi adat dan budaya, dikemas dalam balutan agama yang diramu dalam rumah pendidikan. Program ini mengajak warga sekolah untuk merenung, berdoa, dan memahami makna hidup dengan konsep Tri Hita Karana yang sudah membudaya di Bali sebagai sebuah tradisi.  Dalam suasana tenang dan khusyuk warga sekolah diajak untuk mengenal diri sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan, koneksitas dengan lingkungan alam sekitar, dan menjaga keharmonisan dengan sesama. Melalui Pasraman kilat peserta didik tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai pengetahuan dalam kebajikan, kebenaran, dan keindahan “Satyam Siwam Sundharam” yang menjadi fondasi moral mereka.

Purnama dan Tilem adalah dua fase penting dalam siklus spirit pendidikan yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Bali. Purnama sebagai sebuah kebaktian yang paripurna dan Tilem adalah sebuah kebaktian yang mendalam dirayakan dengan berbagai upacara keagamaan. Saat-saat seperti itu disodorkan kepada peserta didik tentang muatan spirit keagamaan untuk membangun kecerdasan spiritual (SQ), juga untuk menyeimbangkan dua kecerdasan yaitu Intelligence Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ) nya agar melahirkan siswa pintar berkarakter. Momentum ini dimanfaatkan untuk mengajarkan siswa tentang pentingnya harmoni dengan alam dan siklus kehidupan. Pada hari-hari ini, siswa diajak untuk memahami bagaimana alam bekerja, menghormati siklus alam, dan mengintegrasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini menumbuhkan rasa hormat terhadap alam dan mengajarkan siswa untuk hidup selaras dengan lingkungan mereka.

Pendidikan merdeka menekankan kebebasan bagi guru dan siswa untuk bereksplorasi, berinovasi, dan menciptakan metode belajar yang kreatif. Di Bali, konsep ini diterapkan dengan menggabungkan pendidikan tradisional dengan teknologi modern. Contohnya, penggunaan aplikasi dan platform digital dalam pembelajaran Pasrawan Kilat, Purnama, dan Tilem memungkinkan siswa untuk mengakses materi dan mengikuti kegiatan secara daring. Ini tidak hanya memperluas jangkauan pendidikan, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap hidup dan relevan di tengah kemajuan teknologi.

Melestarikan adat dan Budaya menjadi kesatuan utuh untuk membudayakan pendidikan yang adaptif dan inovatif. Nilai-nilai tradisional dengan pendekatan modern sebagai opsi bagaimana tradisi dan inovasi berjalan beriringan, menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga bijaksana dalam memelihara warisan budaya mereka. Bali sebagai salah magnet dunia berusaha menautkan dua komponen ini menjadi suatu kesatuan yang utuh dengan pendidikan holistik dan inklusif. Dengan begitu Bali mengajarkan  bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan tradisi, tetapi justru dapat memperkaya dan memperkuatnya. Sebuah pelajaran berharga yang seharusnya diadopsi oleh seluruh negeri, untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat dan berbudaya. Indonesia menjadi negara maju dan kuat tanpa menghilangkan identitas budaya leluhurnya.

wartawan
I Komang Warsa
Category

Ngobrol Lebih Dekat, Kadisdikpora Badung Dengarkan Langsung Curhatan Guru di Safari Pendidikan

balitribune.co.id | Mangupura - Di balik tugas mengajar dan tanggung jawab membentuk generasi muda, banyak guru menyimpan cerita yang jarang terdengar. Mulai dari tantangan di sekolah, kebutuhan fasilitas pendidikan, hingga harapan agar proses belajar mengajar bisa berjalan lebih maksimal.

Baca Selengkapnya icon click

Honda Big Wing Bali Sukses Gelar Touring ke Eropa

balitribune.co.id | Denpasar - Astra Motor Bali melalui Honda Big Wing Bali sukses memanjakan para pecinta motor premium dalam gelaran touring internasional bertajuk “Ultimate Ride Vol.3 Pyrenees Road Trip 2026”. Perjalanan eksklusif yang berlangsung mulai 22 April hingga 5 Mei 2026 ini diikuti oleh 20 konsumen loyal Honda Big Bike asal Bali.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pegadaian Kanwil VII Denpasar Dukung Pelestarian Penyu di KPP Jagat Kerthi

balitribune.co.id | Negara - PT Pegadaian Kantor Wilayah VII Denpasar melaksanakan program Pegadaian Peduli melalui kegiatan bantuan pelestarian Penyu di KPP Jagat Kerthi. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Pemimpin Wilayah VII PT Pegadaian, Edy Purwanto, yang turut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan konservasi, mulai dari peletakan telur penyu di area penetasan hingga pelepasan tukik ke laut lepas.

Baca Selengkapnya icon click

Resmi Meluncur di Bali, SUV Listrik MG S5 EV Dibanderol Rp300 Jutaan

balitribune.co.id | Denpasar - Morris Garages (MG) Motor Indonesia memperkuat komitmennya dalam mendukung ekosistem kendaraan listrik di Pulau Dewata. Bekerja sama dengan dealer resmi PT Prima Metro Auto Mobil, MG secara resmi memperkenalkan lini SUV listrik terbarunya, MG S5 EV, pada Jumat (8/5/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Soal Usulan Tinggi Gedung 45 Meter, Gubernur Koster Mengaku Belum Dapat Surat Resmi

balitribune.co.id I Mangupura - Gubernur Bali, I Wayan Koster, enggan berkomentar banyak terkait usulan Panitia Khusus (Pansus) RTRWP DPRD Bali yang mengajukan toleransi ketinggian bangunan hingga 45 meter di kawasan tertentu. Koster mengaku hingga kini belum menerima rekomendasi resmi secara tertulis.

Baca Selengkapnya icon click

Mulai 1 Juni 2026, Bansos di 42 Kota RI Beralih ke Digital

balitribune.co.id I Jakarta - Ketua Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah (PTDP), Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan pemerintah kini bersiap melakukan perluasan program uji coba bantuan sosial digital atau bansos digital dari piloting di Banyuwangi menuju 42 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.