Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

In Memoriam KRI Nanggala: Duka Mendalam di Laut Dalam

Bali Tribune / Wayan Windia - Ketua Stispol Wira Bhakti Denpasar, dan Ketua umum DHD-45 Prov. Bali.

balitribune.co.id | Saya sangat sedih mendengar berita duka tentang KRI Nanggala. Rasa sedih bahkan sudah mencuat sejak Nanggala hilang kontak dengan markasnya. Saya tidak kuasa mendengarkan radio dan melihat TV yang memberitakannya. Radio dan TV segera saya matikan.

Saya juga marah. Kok pemerintah dan DPR sampai hati masih meng-operasikan sebuah kapal perang yang usianya sudah 40 tahun. Sebaik-baiknya sebuah kendaraan (apalagi kapal perang), tidak ada yang masih dipakai, ketika usianya sudah 40 tahun. Kok kita sampai hati ya? Kabarnya kita memiliki lima kapal selam, tapi usianya sudah 30 tahun-an. Lalu untuk apa? Padahal lautan NKRI ini sangat luas sekali. Jauh lebih luas dari daratan-nya.

Tatkala saya sedang menulis naskah ini, saya mendapatkan kiriman video. Kiriman dari teman SMA di Gianyar, Brigjen TNI (P) (Pur) Ketut Sartika. Ia masih tinggal di kawasan Jakarta. Dulu (60 tahun yl), saya mengenalnya dengan panggilan Ketut Teken. Ia mengirim video dengan label : Jalesveva Jayamahe, justru di laut kita jaya.

Pertanyaan saya : betulkah di laut kita jaya? Kalau betul di laut kita jaya, maka harus dibuktikan bahwa kita memiliki matra laut yang kuat dan modern. Bukan kapal-kapal tua, mirip mendekati besi-baja rongsokan. Saya sangat sedih, kasihan, dan kesal membayangkan para prajurit kita yang diabaikan oleh negaranya seperti sekarang ini.

Tiga tahun yang lalu, saya juga mendengar berita yang analog. Sebuah kendaraan ampibi tenggelam di laut probolinggo. Ketika itu, TNI-AL mengadakan latihan di kawasan itu. Kesan saya saat itu adalah, bahwa saya juga curiga, bahwa kendaraan itupun adalah kendaraan yang sudah sangat tua. Lalu ada statemen bahwa kasus semacam itu semoga tidak terulang kembali. Tetapi sekarang justru terulang kembali dalam kasus yang lebih tragis.   

Saya meminta kepada Jenderal Teken untuk membuat petisi, agar negara lebih memperhatikan nasib TNI. Khususnya TNI-AL, karena lautan NKRI demikian luasnya. Ia hanya menjawabnya dengan nada diplomatis. “Akan segera ditandak-lanjuti”. Ya, memang demikianlah sejatinya sikap perwira TNI. Mana ia berani membuat petisi politis? Sebab hal itu bukan ajarannya di AMN dulu. Ajarannya adalah bahwa ia harus setia mengabdi kepada bangsa dan negaranya. Seorang prajurit tidak pernah pensiun atau mati….

Meskipun teman saya Jenderal Teken sudah pensiun, tapi saya merasakan bahwa darah TNI-nya masih tetap kental-membara. “Saudaraku Profesor Windia, kalau negara membutuhkan, saat inipun saya masih siap membela NKRI. Jangan khawatir” katanya. Ia juga mengirimi saya slogan TNI-nya. “Tabah Hingga Akhir”. Waduh, saya merasa sangat bangga memiliki teman sekolah yang sangat konsisten.    

Saya tidak bisa menahan air mata yang tiba-tiba saja menetes. Ketika tiba-tiba saya membayangkan “sedu-sedan” para awak kapal di kapal selam yang sangat tua. Para prajurit yang siap menanti kematian, demi darma keprajuritannya yang tertinggi. Persis sama ketika saya membayangkan ayah saya  dan kawan-kawannya, terpanggil terjun ke medan perang kemerdekaan. Mereka harus bertahan dalam haus dan lapar, dingin, sepi, jengah, rindu dan dendam. Mereka setiap hari selalu menanti bayangan, detik-detik kematian sebagai seorang satria.

Hari minggu pagi (25/4), saya mendengar di RRI, nyanyian sendu para prajurit yang siap-sedia mengabdi untuk nusa-bangsanya, dan Indonesia. Nyanyian sendu itu dilantunkan berkali-kali dalam rangka wawancara-wawancara wartawan RRI dengan para ahli. Seolah-olah memberi hormat dan doa kepada 53 prajurit Nanggala yang berjuang dan terjebak di laut dalam. Duka hati saya kembali tergores perih dan sunyi yang sangat mendalam. Membayangkan para prajurit pilihan, yang sama sekali tak berdaya melawan alam laut yang ganas. Laut yang sehari-hari adalah teman seperjuangan untuk menjaga NKRI, kini tiba-tiba menjadi “musuhnya” yang segera bisa mematikan. Duh dewata, kenapa hal ini harus terjadi?

Saya juga membayangkan bahwa istri dan anak-anak prajurit Nanggala pasti masih sangat muda-muda. Maklum, pangkat perwiranya hanya mayor, kapten, dan letnan. Jangan-jangan mereka itu baru saja menamatkan pendidikan akademinya. Kasihan mereka itu. Karena harus tabah mengendalikan kapal tua, yang mirip setengah rongsokan besi-baja. Tapi kalau sudah perintah “berangkat”, maka mereka harus disiplin dan harus berangkat. Mereka adalah prajurit yang dididik dengan biaya yang sangat mahal, tetapi harus menjadi korban dari sebuah kapal perang setengah tua.

Saya kira kita tidak memerlukan kapal perang yang banyak, tapi dengan kualitas yang setengah tua. Harus ada kebijakan untuk membeli kapal perang modern dan baru, dengan kualitas yang hebat. Meski jumlah sedikit, tetapi harus bisa menjangkau seluruh kawasan NKRI dengan optimal. Dalam hal ini negara harus lebih memperhatikan keamanan negara kita. Hentikan dulu foya-foya politik yang tak hirau dengan kemananan negara.

Untuk itu, Menteri Pertahanan dan Panglima TNI harus bersatu padu untuk meyakinkan negara. Meyakinkan pemerintah, Presiden, sidang kabinet dan DPR. Kita tidak ingin TNI kita menjadi bahan tertawaan internasional. Kita tidak ingin jiwa patriot, nekat, persatuan dan kesatuan yang ditanamankan oleh pendiri bangsa dalam perang kemerdekaan, tersobek-sobek oleh kepentingan politik praktis. Sekarang, kembali kita merasakan :  politik sebagai panglima. Cost-nya sangat tinggi sekali. Hanya untuk mendewakan demokrasi ala Barat. Tidak sebanding dengan hasilnya, yang tercermin dari nyaris 50% kepala daerah kita sudah masuk bui. Belum lagi termasuk para menteri dan anggota parlemen yang juga banyak masuk bui.

wartawan
Wayan Windia

Sengketa Jual Beli Tanah di Bali Berakhir Damai, Warga AS Cabut Laporan di Polda

balitribune.co.id | Denpasar - Sengketa jual beli tanah antara warga negara Amerika Serikat (AS), Scott Bennet Trout (63), dengan rekannya, Made Pamelarina Sugianyar (49), yang sempat bergulir di Polda Bali, akhirnya menemui titik terang. Kedua belah pihak sepakat menempuh jalur damai.

Baca Selengkapnya icon click

Veritas Intercultural School Resmi Diluncurkan, Awali Transformasi Pendidikan Berstandar Internasional

balitribune.co.id | Mangupura - Bertepatan Hari Anak Nasional 2026, Veritas Intercultural School (VIS) Bali, Bintaro dan Kelapa Gading resmi diluncurkan, mengawali transformasi pendidikan berstandar internasional. Peluncuran Veritas Intercultural School dilakukan di VIS Bali, Kerobokan Kabupaten Badung, Kamis (23/7/2026) dihadiri Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

KOPJAS Pejuang Pariwisata Ajak Driver Bali Beralih ke Badan Usaha Resmi

balitribune.co.id | Gianyar - Koperasi Jasa (KOPJAS) Pejuang Pariwisata Bali memanfaatkan momentum peringatan hari jadinya yang pertama untuk menegaskan komitmennya membangun industri transportasi pariwisata yang legal, profesional, dan berkelanjutan. Melalui tema "Legal, Tumbuh, Berjalan Sukses Bersama Keluarga", koperasi ini ingin menjadi contoh bagi para pelaku usaha transportasi wisata di Bali.

Baca Selengkapnya icon click

Resto The Jingga Villas di Lembongan Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp200 Juta

balitribune.co.id | Semarapura - Kebakaran hebat melanda bangunan restoran The Jingga Villas yang berlokasi di Dusun Kelod, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Rabu (22/7/2026) dini hari. Api diduga muncul akibat hubungan pendek arus listrik (korsleting).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Lansia Hilang di Tembuku, Proses Pencarian Melibatkan Warga hingga Paranormal

balitribune.co.id | Bangli - Proses pencarian Ni Nyoman Ngenu (66), warga Banjar Tampuagan, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, yang dilaporkan meninggalkan rumah sejak Selasa (21/7/2026) dini hari, hingga kini belum membuahkan hasil. Upaya pencarian intensif terus dilakukan oleh warga dibantu aparat kepolisian Polsek Tembuku, bahkan pihak keluarga turut meminta petunjuk paranormal untuk melacak keberadaan korban.

Baca Selengkapnya icon click

Gubernur Koster Resmi Tutup Akses OSS bagi PMA di 18 Sektor UMKM

balitribune.co.id | Denpasar - Gubernur Bali Wayan Koster menutup salah satu celah yang selama ini dinilai dimanfaatkan investor asing untuk masuk ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah Provinsi Bali resmi membatasi akses sistem Online Single Submission (OSS) bagi Penanaman Modal Asing (PMA) pada sejumlah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) kategori risiko rendah dan menengah rendah.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.