Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Nalar Politik PT 20%

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Penerapan Presiden Threshold (PT) 20% untuk mengusung Capres-Cawapres bukan pengalaman baru. Ketentuan yang sama sudah pernah diterapkan pada Pilres 2014. Namun hingga menjelang tahapan Pilpres segera dimulai, silang pendapat tentang itu masih berkembang? Bahkan, permohonan uji material yang diajukan puluhan pakar hukum tata negara pekan lalu, menjadi momentum baru kian panasnya perdebatan itu. Menurut Penulis, pokok persoalannya bukan pada peraturan yang mengatur jalannya demokrasi, namun ada hal lebih substansial. Bahwa ada nalar hukum dan akal sehat yang putus di situ. PT20% yg hendak diberlakukan pada Pilpres 2019 tersebut dirujukkan pada hasil perolehan suara parpol pada Pileg 2014. Padahal, karena itu merupakan prasyarat untuk mengusung Capres-Cawapres maka harusnya hasil Pileg yang dijadikan basis hitungan adalah Pileg 2019. Nah, mengapa parpol pendukung PT 20% tidak berkehendak membasiskan hitungannya pada Pileg 2019 nanti biar akal sehat dan nalar hukum menjadi nyambung? Karena hasil Pileg 2019 itu baru akan diketahui serempak dengan hasil Pilpres. Itu terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) no.14/PUU-XI/2013 yang memerintah agar Pileg dan Pilpres tahun 2019 digelar secara serentak. Dengan putusan MK itu maka seharusnya ketentuan PT berapapun prodentasenya tidak boleh ada pada Pilpres 2019. Namanya "prasyarat" harusnya lebih dahulu terpenuhi sebelum sesuatu yg dipersyaratkan itu dilaksanakan. Akan tetapi pada akhirnya dengan mekanisme voting,  DPR memberlakukan ketentuan yang tak masuk akal sehat dan melanggar nalar hukum itu di Pilpres 2019. Apakah politik berada di ruang hampa nilai, termasuk nilai kewarasan dan nilai hukum? Tidak? Politik pada azasnya adalah untuk kemaslahatan umum sehingga dia mesti tunduk pada kaidah hukum yg menjadi jelmaan kesepakatan bangsa dan akal sehat itu. Akal sehat merupakan landasan utama semua tatanan nilai yang bermaksud mengatur manusia karena akal sehatlah yang menjadi pembeda manusia dengan mahkluk lain. Lalu, hasil putusan politik yang melanggar akal sehat dan nalar hukum itu menguntungkan siapa? Saya berpendapat Gerindra yg jadi lokomotif kelompok Penentang PT20% tidak mendapat keuntungan dan PDIP yang jadi lokomotif kelompok Pendukung juga tidak dirugikan jika PT20% tidak ada. Kalau begitu mengapa Gerindra cs menolak? Itu semata-mata karena ketentuan tersebut melanggar hukum dan akal sehat yg bakal membawa konsekuensi kepada kesalahan-kesalahan berikutnya. Barangkali ini yang dikritisi para pakar hukum sebagai merusak sejarah dan membodohi rakyat. Mengapa PDIP, NasDem, cs mendukung usulan PT20%? Alasan pokoknya adalah karena  itu usulan pemerintah. Partai pendukung pemerintah tidak memiliki pilihan lain kecuali mendukungnya. Alasan lain bisa jadi ada, namun tidak bisa dicerna nalar sehat. Kekhawatiran kubu Gerindra cs bahwa dengan DP 20% bertujuan memunculkan Jokowi sebagai Capres tunggal di Pilpres 2019,  juga tdk masuk akal krn sisa 80%  kursi  bisa melahirkan minimal 2-3 koalisi partai pengusung baru. Jika tdk membawa keuntungan yg signifikan, mengapa mesti ketentuan itu terkesan "dipaksakan" oleh pemerintah dan parpol pendukungnya meski akal sehat memprediksi akan melahirkan masalah hukum dikemudian hari? Untuk mendukung argumen itu, penulis mencoba membuat simulasi sbb; PDIP pada pileg 2014 lalu memperoleh prosentase kursi 18,95% hanya membutuhkan parpol Hanura dgn perolehan suara 5,26% utk memenuhi quota 20% agar mengajukan Capres. Hal yang sama juga bisa dilakukan Gerindra (11,81%) berkoalusi dengan Partai Demokrat (10,19%). Namun, ada persoalan hukum di situ. Apabila Capres usungan koalisi PDIP-Hanura atau Gerindra-PD menang di Pilpres 2018, masalahnya tdk selesai.disitu. Masih ada pertanggungjawaban tunda dari koalisi parpol pengusung. Apa itu? Apakah hasil pileg 2019 masih menunjukan bhw koalisi PDIP-Hanura atau Gerindra-PD memenuhi syarat minimal 20% utk dpt mengusung Capres terpenuhi? Jika tdk karena hasilnya melorot menjadi dibawa 20% maka Pilres yg sudah dimenangkan partai pengusung itu bisa batal demi hukum atau minimal membuka peluang terjadinya sengketa hukum. Sebab pileg 2019 lah yg mesti menjadi basis perhitungan PT. Argumentasi hukum bhw Pulpres 2019 cacat hukum adalah krn syarat  ambang batas PT tidak terpenuhi. Jika itu terjadi Anda bisa bayangkan apa yg bakal terjadi di negeri ini. Dengan penjelasan ini maka kemudian menjadi aneh adalah pernyataan pemerintah bersekukuh menerapkan PT20% hasil pemilu 2018 untuk diterapkan pada Pilpres 2019 adalah pendapat yang konyol. "PT 20% itu kan sdh berlaku sejak Pemilu 2014, mengapa sekarang baru ribut?," kata Mendagri. Penulis menyapu dada ketika mendengar pernyataan ini. Masa pemerintah memiliki sikap tak rasional begitu? Mestinya pemerintah tahu bahwa sebagian masyarat yang punya akal sehat memprotes pemberlakuan PT20% itu  karena basis hitungannya pada hasil pileg 2014 untuk dijadikan syarat bagi Pilpres 2019. Penulis yakin masalahnya bukan pada sikap logis dan tak logis, namun tampaknya logika ada tujuan politik eksķlusif yg disimpan di belakang panggung,  yang menurut Penulis akan terbuka ke publik pada saat yang tepat. Bahwa kehidupan kebangsaan kita tidak berhenti di Pilpres 2019. Kita masih harus terus berjalan sambil melakukan perbaikan demi kontinuitas perjalanan negara menuju tujuannya. 

wartawan
Mohammad S. Gawi
Category

Wabup Tjok Surya Tinjau Rencana Restorasi Pura Penataran Pratisentana Ki Mantri Tutuan

balitribune.co.id | Semarapura - Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra, meninjau langsung kondisi Pura Penataran Pratisentana Ki Mantri Tutuan yang berlokasi di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kamis (10/9/2026). Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan rencana restorasi pada bangunan Pemedal dan Bale Kulkul pura tersebut.

Baca Selengkapnya icon click

Retribusi DTW Nusa Penida Tembus Rp300 Juta Per Hari

balitribune.co.id | Semarapura -  Penerapan pungutan retribusi pariwisata melalui program One Gate One Destination (OGOD) di Nusa Penida mulai menunjukkan hasil dari sisi penerimaan. Dalam sembilan hari pelaksanaan, 1–9 September 2026, penerimaan retribusi dari daya tarik wisata (DTW) disebut mencapai sekitar Rp2,7 miliar, dengan rata-rata sekitar Rp300 juta per hari.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Satpol PP Denpasar Tertibkan Ratusan Baliho dan Spanduk di Fasilitas Umum

balitribune.co.id | Denpasar - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar melaksanakan penertiban berbagai media promosi yang terpasang di fasilitas umum, Rabu (9/9/2026). 

Penertiban menyasar sejumlah ruas jalan utama di Kota Denpasar, diantaranya Jalan Mahendradatta, Jalan Teuku Umar, dan Jalan P.B. Sudirman. 

Baca Selengkapnya icon click

Ketua DPRD Badung Apresiasi Semangat Krama Desa Adat Kuta Gelar Atma Wedana

balitribune.co.id | Mangupura – Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti mengapresiasi semangat gotong royong krama Desa Adat Kuta dalam melaksanakan rangkaian Upacara Atma Wedana, Nyekah Kurung Nyatur Rebah, dan Upacara Manusa Yadnya (Mepandes/Metatah), Kamis (10/9/2026). Upacara tersebut dipusatkan di Bale Peyadnyan, Pura Segara, Kelurahan Kuta, dengan menghadirkan Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijaya Nanda dari Griya Kutuh sebagai Yajamana Karya.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

PT Koop Kopi Indonesia Kenalkan Program Percontohan Karbon Kintamani di Forum ICBS 2026

balitribune.co.id | Mangupura - Perubahan iklim semakin menuntut untuk melihat pertanian bukan hanya sebagai sektor produksi komoditas, tetapi sebagai bagian penting dari solusi iklim. Di balik setiap kebun kopi terdapat sebuah lanskap yang menyimpan karbon, menjaga biodiversitas, dan menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Baca Selengkapnya icon click

Nikmati Pengalaman Istimewa di Bali dan Raih Rewards Hingga Rp 750 Juta

balitribune.co.id | Mangupura - Menikmati indahnya sunset di Bali kini hadir dengan pengalaman yang semakin istimewa. Mulai September 2026, Discovery Kartika Plaza Hotel Bali, Discovery Mall Bali, dan #KUTAKITA Sundown Yard menghadirkan program apresiasi pelanggan melalui Instant Rewards, sekaligus kesempatan untuk meraih beragam hadiah dengan total nilai hingga Rp 750 juta selama periode program berlangsung.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.