Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Peluang Jokowi & Fenomena Mahfud

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Setelah sempat digadang-gadang menjadi Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf, Mahfud MD akhirnya memastikan menolak tawaran itu. Akan tetapi, katanya, komitmen mendukung Jokowi tetap dipegang teguh. Untuk dukungan terhadap Jokowi, Mahfud memiliki sejumlah dalil rasional. Bahwa dari segi bersih diri dari korupsi, Jokowi patut dipercaya. Tidak satupun anak Jokowi terlibat di dalam pemerintahan. Lalu mengapa Mahfud tidak tertarik dengan posisi Ketua Tim Pemenangan yang secara konkret mewujudkan sikapnya itu? Tentu semua tahu, ahli hukum tata negara ini memendam beban bathin atas insiden tak patut yang dialaminya menjelang deklarasi Capres-Cawapres dari koalisi parpol pendukung pemerintah. Mahfud yang sudah siap dengan seragam putih-putih dan menuju lokasi deklarasi akhirnya terkejut setelah tahu namanya tidak terakomodasi sebagai pendamping pada menit-menit terakhir menjelang deklarasi. Terhadap sikap Mahfud, kultur Madura yang membentuknya, dan kecerdasan yang dimiliki Mahfud, diramu secara apik oleh Hersubeno Arief, pegiat media dibawa judul "Mahfud dan Cultur Madura". Bagi yang kenal kultur Madura, kata Hersubeno Arief, apa yang dilakukan Mahfud sebenarnya tidak terlalu mengagetkan. Bahkan sebenarnya malah kurang mengagetkan. Peneliti dari Universitas Jember A Latief Wiyata menyebut karakter Madura itu apa adanya. Ekspresif, spontan, dan terbuka. Tiga sifat itu termanifestasikan dalam setiap merespon sikap orang lain kepadanya. Bila perlakuannya menyenangkan, mereka akan spontan mengucapkan terima kasih. Sebaliknya bila diperlakukan secara tidak adil, harga dirinya dipermalukan, reaksinya akan sangat keras pula. Etnis Madura sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabatnya. Barangkali bisa disamakan dengan kultur Siri’ Na Pacce pada kultur Bugis/Makassar, atau Fi’il pada kultur masyarakat Lampung. Bila harga dirinya dilukai, mereka tak segan mencabut badik. Secara kebetulan pula nama senjata tradisional Bugis/Makassar, dan Lampung sama, yakni badik. Bentuknya juga mirip. Jangan pernah membuat _malo_ (malu), _tada’ tajina_ (merendahkan martabat) orang Madura. Bila hal itu terjadi di pedesaan Madura, bisa berujung pada Carok. Duel satu lawan satu dengan clurit, senjata tradisional Madura, sampai salah satunya mate (mati). Semua itu demi menjaga kehormatan pribadi dan keluarga yang sudah direndahkan, dipermalukan. Batalnya pencapresan Mahfud jelas merupakan sebuah penghinaan besar. Bukan hanya buat Mahfud pribadi, tapi keluarga besarnya, dan sebagian besar orang Madura. Sudah menyerahkan baju putih ke Istana, sudah menggelar  tahlil,  sudah bersiap diri tak jauh dari arena deklarasi, tiba-tiba dibatalkan. Media menyebutnya di PHP (Pemberi Harapan Palsu). Mahfud dipermalukan di panggung besar Indonesia, bahkan dunia. Liputannya menyita sebagian besar media di Indonesia, dan dunia selama berhari-hari. Masalahnya semakin parah, karena batalnya pencapresan tersebut disertai dengan berbagai drama, dan berbagai ucapan yang merendahkan kredibilitasnya. Salah satunya adalah diragukan ke-NU-annya. Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj menyebut Mahfud tidak pernah menjadi kader NU. Dua hal ini sangat sensitif bagi orang Madura. Sudah harga dirinya dipermalukan, dianggap bukan NU pula. Penghinaan dobel. Anda barangkali pernah mendengar sebuah anekdot ketika seorang anak dara Madura membawa pacarnya untuk dikenalkan dengan orang tuanya. Pertanyaan pertama sang bapak, apakah “sampian Islam?” Ketika dijawab Islam. Pertanyaan berikutnya. “NU, apa Muhammadiyah?” Ketika dijawab “Muhammadiyah,” sang bapak sangat kaget “Oh Muhammadiyah, bukan NU ya? Setelah termangu cukup lama sang bapak berkata “Ya sudahlah, walaupun bukan NU, yang penting masih Islam,” tegasnya. ha…ha…ha…Jadi jangan pernah pertanyakan ke-Islaman dan ke-NU-an orang Madura. Itu merupakan sebuah penghinaan besar. Menunggu momentum Dengan memahami kultur Madura, kita bisa mengatakan apa yang dilakukan Mahfud belum ada apa-apanya. Toh dia tidak membawa clurit dan mendatangi satu persatu orang yang telah mem-PHPnya. Kepada media Mahfud mengaku tidak kecewa, hanya kaget saja. Apa yang disampaikan Mahfud  bisa dilihat sebagai bahasa diplomatis. Basa-basi politik. Sebagai seorang guru besar, dan pernah menduduki berbagai jabatan publik, dia tentu punya kematangan pribadi. Apalagi dia sudah lama berada dan tinggal di Yogyakarta. Sebuah masyarakat yang dikenal punya kemampuan pengendalian diri yang Kuat. Namun sebagai _Reng Madure_, dia tetap punya harga diri yang tinggi. Kehormatan pribadi dan keluarga yang harus dijaganya. Diam-diam rupanya dia sudah menyiapkan sebuah vandetta, balas dendam. Acara di ILC adalah momen yang dipilih Mahfud sebagai “panggung” Caroknya. Sebagai acara Talk Show dengan rating dan jumlah penonton  tertinggi di Indonesia, ILC adalah panggung sempurna, untuk membalas para “musuh-musuhnya,” dan memulihkan harga diri dan kehormatannya. Sebagai intelektual Mahfud tidak berbekal clurit sebagai senjatanya. Dia hanya bermodal kata-kata. Ucapan yang setiap kata demi kata disimak, dicerna dan diviralkan oleh jutaan penonton televisi dan pegiat medsos. Dampaknya tak kalah, bahkan lebih dahsyat dibandingkan clurit. Sama-sama mematikan, tapi korbannya lebih besar dan dipastikan akan berdampak jangka panjang. Secara dingin, tanpa ekspresi berlebihan, bahkan terkadang dengan senyum, dia babat satu persatu tokoh-tokoh yang dianggap telah merendahkan martabatnya, dan menghancurkan harga dirinya. Mulai dari Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj, Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy, bahkan sampai Kyai Ma’ruf Amin. Kendati tampak bersekutu, keempat tokoh ini diam-diam saling bersaing dan sama-sama mengincar jabatan cawapres. Ada yang diam-diam, seperti Said Agil Siradj. Sedikit terbuka seperti Ma’ruf Amin, sangat terbuka seperti Romahurmuziy, dan sangat-sangat terbuka seperti Muhaimin. Dampak dari “Carok” Mahfud di TV One sejauh ini masih belum bisa diukur. Perlu dilakukan survei untuk menentukan akurasinya. Namun melihat sejumlah polling di medsos, dampaknya langsung terasa. Pasangan Jokowi-Ma’ruf, kalah telak melawan Prabowo-Sandi. Serangan Mahfud membuka kisah di belakang panggung betapa tidak berdayanya Presiden Jokowi menghadapi tekanan partner koalisi, dan pimpinan ormas. Pengakuan Mahfud juga membuka selubung, Ternyata kubu struktural NU yang dipimpin Said Agil, menjadikan NU sebagai alat meraih kekuasaan. Mereka mengingkari khittah NU yang meninggalkan jalur perjuangan politik. Sementara para pendukung Ahok yang sangat kecewa dengan penunjukan Ma’ruf Amin sebagai cawapres, semakin marah dan kecewa, ketika tahu bahwa Ma’ruf ikut menekan Jokowi. Tampilnya Mahfud di ILC kira-kira bisa disamakan dengan aksi seorang Rambo yang tampil sendirian mengobrak-abrik PBNU, PKB, PPP, dan kubu koalisi pengusung pasangan Jokowi-Ma’ruf. Perlu waktu panjang untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Untungnya pelaksanaan Pilpres 2019 masih panjang. Bila pilpres dilakukan hari ini, kemungkinan besar pasangan Jokowi-Ma’ruf kalah. Elektabilitas PKB, dan terutama PPP akan jeblok. Masih ada waktu selama delapan bulan untuk memperbaikinya. Kalah di udara, pasangan Jokowi sangat unggul di teritorial. Mereka punya mesin birokrasi, TNI, Polri, dan para kepala daerah yang bisa dikerahkan untuk menutup kelemahan di udara. Asal jangan banyak melakukan blunder, gol bunuh diri, masih cukup banyak waktu untuk memulihkannya.

wartawan
Mohammad S. Gawi
Category

Bupati Karangasem Cek Langsung Ruas Jalan Penginyahan-Munti Desa dan Bantas-Br. Dukuh

balitribune.co.id I Amlapura - Keseriusan Pemerintah Kabupaten Karangasem dalam membangun infrastruktur yang berkualitas kembali ditunjukkan secara nyata. Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata turun langsung ke lapangan melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pembangunan jalan, Rabu (20/5/2026), guna memastikan setiap pekerjaan berjalan sesuai rencana serta memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ketua DPRD Tabanan Kritik Kondisi Lapangan Penebel Tak Terawat Usai Ditata

balitribune.co.id I Tabanan - Ketua DPRD Tabanan, I Nyoman Arnawa mengritik kondisi lapangan Umum Penebel yang tidak terawat meski baru ditata dengan dana miliaran rupiah. Fasilitas publik yang menghabiskan anggaran APBD 2024 sebesar Rp 2,2 miliar tersebut kini justru dipenuhi rumput liar dan mulai mengalami sejumlah kerusakan fisik.

Baca Selengkapnya icon click

Seorang WNA Diduga Hipnotis dan Gasak Uang Pemilik Warung di Bangli

balitribune.co.id I Bangli - Aksi pencurian dengan cara hipnotis membuat resah pemilik warung di Bangli. Bahkan salah satu pemilik warung di Banjar Serokadan, Desa Abuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, yakni Ni Wayan Sariani menjadi korbannya. Pedagang sembako ini kehilangan uang Rp 1,2 juta setelah diperdayai pelaku. Dari ciri-ciri pelaku kuat dugaan pelaku adalah warga negara asing (WNA).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Diduga Terjangkit ASF, Puluhan Babi Mati Mendadak

balitribune.co.id I Mangupura - Wabah African Swine Fever (ASF) diduga kembali menyerang peternakan babi di wilayah Badung. Kali ini, seorang peternak di Banjar Kayu Tulang, Canggu, Kuta Utara, mengalami kerugian besar setelah puluhan babi miliknya mati mendadak.

Peristiwa tersebut mulai terjadi sejak awal April 2026. Sedikitnya 60 ekor babi dilaporkan mati satu per satu dengan gejala tidak mau makan, lemas, lalu akhirnya mati.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.