Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Pertanyaan Kilometer Nol

Bali Tribune / IGM. Pujastana

balitribune.co.id | “Saya sebenarnya gak suka PDI,” Kata Mas Conny (alm. Prof. Dr. Cornelis Lay, MA). Mas Conny saat itu sedang berusaha menjawab pertanyaan saya soal skripsi yang ditulisnya untuk meraih gelar S1 di Fisipol UGM. Skripsi yang kemudian menjadi legenda di kalangan keluarga besar Fisipol UGM, (mahasiwa dan dosen)  memang tidak main-main. Tebalnya sekitar 1000 halaman. Isinya super serius, perjalanan panjang PDI sebagai sebuah parpol dari riwayat sejarah ideologis jaman PNI hingga masa Fusi Partai Politik di era Orde Baru saat jumlah Partai Politik diperas dari 10 Partai menjadi hanya dua Parpol plus Golongan Karya tahun 1973.

Skripsi itu tentu saja tidak sampai membahas masa saat PDI bermetamorfosa menjadi PDIP. Peristiwa itu terjadi lama setelah skripsi Mas Conny rampung dan meraih gelar sarjana SI. Saya lupa judul pastinya. Tapi bukan judulnya yang penting dibahas di sini melainkan semangat akademisnya. Tingginya motivasi dan kegigihan intelektual. Nyaris tidak ada mahasiswa (hingga saat ini) yang mempunyai kemampuan berpikir dan kegigihan intektual seperti itu yang berujung pada karya ilmiah setebal 1000 halaman.

“Kok bisa Mas Conny bikin sripsi setebal itu? Gimana cara cari idenya kalau gak ada kecintaan pada subyeknya (PDI), sepertinya tidak mungkin bisa.”

“Aku tu gak suka sosok PDI sebagai organisasi politik. Tapi aku suka semangat ideologis heterogenitas dan kerakyatan yang melekat pada partai itu.” cetus Mas Conny. 

Saya tau Mas Conny memang suka bahkan cenderung cinta pada PDI sebagai satu ideologi. Bukan  partainya tapi pada ide dasar nasionalisme dan heterogenitas yang menjadi hakekatnya sebagai organisasi politik. Tapi saya juga tidak tahu pasti. Yang tahu hanya  Mas Conny. Yang saya tahu pasti Mas Conny memang sering menulis tentang PDI di Kompas dan surat kabar lain, bahkan sampai saat PDIP mengalami metamorfosa politik menjadi PDIP setelah mengalami  konflik internal (atau dibuat seolah internal oleh pihak eksternal. Mungkin oleh pemerintah pada masa konflik itu terjadi)

“Hebat lho Mas Conny, lanjut saya, dari dulu sudah bisa nulis tembus Kompas,” sebuah pujian tulus karena saya sendiri tidak pernah bisa tembus Kompas hingga hari ini. Artikel yang saya kirim selalu dikirim balik dengan catatan yang saya tidak terlalu ingat bunyinya. Intinya Kompas belum bisa memuat artikel yang saja kirim. Silahkan kirim artikel lain.” Bukan cuma sekali. Berkali-kali sampai akhirnya pada masa itu (tahun 1990-an) saya cukup puas artikel yang saya kirim bisa dimuat Harian Bernas di Yogyakarta.

Pada masa itu saya hanya seorang mahasiswa yang enjoy ngobrol dengan  Mas Conny. Saya nyaman dengan keramahannya dan yang paling penting tidak pernah menunjukan diri sebagai sosok hebat. Waktu itu Saya belum lagi tahap menulis Skripsi.

Mas Conny baru menjadi dosen pembimbing bersama Pak Josef (Drs, Josef Riwo Kahu) lama setelah itu. Lama setelah saya sering main ke tempat kos Mas Conny dan takjub dengan kemampuan dan kebiasaan mas Conny minum kopi satu gelas besar yang diminum seharian, dari pagi sampai sore jelang Magrib.  Diiringi rokok tentu saja. Lama setelah Mas Conny sering mengajak saya jalan sore di Malioboro dan duduk di sekitar titik 0 Kilometer (Km O Malioboro, Yogyakarta berlokasi depan Kantor Pos Besar Malioboro yang merupakan titik awal Jl Malioboro) sambil ngobrol  ngarul-ngidul.

“Aku suka menggunakan kalimat yang cenderung genit di artikel yang aku tulis. Bahkan di Kompas.”  

Mas Conny sempat mengajak saya jalan-jalan di arena Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya di salah satu hari antara 2-6 Desember 1993. Saat itu saya sedang mencoba peruntungan melamar sebagai staf pengajar Fisip Unair. Sore menjelang malam saya di ajak Mas conny melihat keramaian  suasana KLB PDI di Asrama Haji Sukolilo. “Kami hanya ingin merekam suasana,” kata Mas Conny pada setiap orang yang menyapanya di arena KLB itu.

Hanya merekam. Pasif. Mungkin karena Mas Conny pada waktu itu ingin menunjukan intelektualitasnnya yang netral bukan partisan politik. “Kami hanya merekam.” Pasif. Tak berminat pada cuil kekuasaan.

Tapi itu lama sebelum Mas Conny akhirnya menemukan Jalan Ketiga Bagi Intelektual. Bukan hanya jalan yang pasif terhadap kekuasaan karena risih dicap La Trashion de Les Cleres ala Julien Benda. Bukan pula jalan pertama ala Niccolo Machiavelli yang diartikan Mas Conny sebagai : “Jalan pertama yang mendominasi wacana relasi antara intelektual dan kekuasaan dibangun di atas sikap pemujaan atas dan penaklukan diri pada kekuasaan yang menempatkan kekuasaan sebagai ruang yang nyaman bagi intelektual, ” papar Mas Conny dalam pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada bulan Februari 2019.  

Jalan pertama aktif terhadap kekuasaan bahkan cenderung mabuk kekuasaan. Sedangkan jalan kedua bersifat  pasif. Hanya menonton. Merekam. Jalan  yang dulu pernah coba ditunjukan Mas Conny di Surabaya pada Saya. Tapi  sesungguhnya kedua jalan di atas hakekatnya sama saja.“Tiket satu arah masuk atau keluar.”

“Jalan ketiga yang saya tawarkan, sebaliknya, bersifat timbal balik. Kaum intelektual bisa masuk dan keluar dari kekuasaan berdasarkan penilaian yang matang dan menyeluruh, bukan didikte oleh motif kecintaan atau kebencian terhadap kekuasaan.”

Bukankah intelektualitas hakekatnya adalah bebas memilih sesuai ukuran kebenaran yang  dibangun untuk dirinya?

Jalan pertama dan jalan kedua tentu saja hanya jalan satu arah. Masuk atau keluar One Way Ticket. Pilhan yang yang lebih baik disediakan oleh jalan ketiga : Kovergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan.

Dalam jalan ketiga ala Mas Conny kekuasaan harus mampu memberi kehidupan.

wartawan
IGM. Pujastana
Category

Bantah Tahan Paspor, Maxxs Group Ambil Langkah Tegas Pecat 33 Staf Internal

balitribune.co.id | Denpasar - Maxxs Group International, perusahaan yang beroperasi di bidang layanan ekspatriat, legalitas, perizinan, investasi, properti, ekspor-impor, dan trading, membantah menahan ratusan atau ribuan paspor milik orang asing. Maxxs Group tidak pernah menahan paspor siapa pun. Dan saat ini proses hukum sedang berjalan di kepolisian.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Kota Denpasar Raih Penghargaan Mandaya Awards 2025 dari Kementerian Koodinator Pemberdayaan Masyarakat

balitribune.co.id | Jakarta - Pemerintah Kota Denpasar meraih penghargaan dari Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menko Pemberdayaan Masyarakat A. Muhaimin Iskandar kepada Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa dalam acara Mandaya Awards 2025 yang digelar di Ballroom Plaza Jamsostek, Jakarta, Kamis sore, (16/10/2025).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Bupati Satria Hadiri Monev SPI oleh KPK RI

balitribune.co.id | Semarapura - Bupati Klungkung, I Made Satria didampingi Sekrataris Daerah Kabupaten Klungkung, Anak Agung Gede Lesmana menghadiri acara Monitoring dan Evaluasi Progres Rencana Aksi Tindak Lanjut Survey Penilaian Integritas (SPI) Tahun 2024 pada Pemerintah Daerah Kabupaten Klungkung di Ruang Rapat Inspektorat Daerah, Kamis (16/10).

Baca Selengkapnya icon click

Ketua DPRD Badung Hadiri Upacara Melaspas di Pura Tirtha Campuhan Kuta

balitribune.co.id | Mangupura - Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri upacara pecaruan rsi gana, melaspas dan mendem pedagingan di Pura Tirtha Campuhan Kuta. Bupati juga meresmikan Monumen Kalpataru yang dibangun di Jaba sisi Pura, pada Rabu (15/10).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.