balitribune.co.id | Denpasar - Salah seorang seniman perempuan yang merupakan maestro tari Bali, Cokorda Istri Ratih Iryani menyadari sebagai seniman tidak bisa menjadi kaya. "Tapi sejalan dengan waktu penghasilan saya selalu dari seniman. Itu hadiah dari Tuhan," ungkapnya saat Sudamala Dialogues 2026 edisi perdana yang mempertemukan lima perempuan inspiratif dari berbagai bidang, mulai dari psikologi, kesehatan dan medis, seni, tari, hingga kecantikan dengan tema "Women's Empowerment and Inner Strength Through Different Disciplines", di Sanur, Denpasar, Sabtu (22/8/2026).
Pada dialog tersebut seni lukis dan tari Bali turut dibahas sebagai ruang ekspresi yang membutuhkan disiplin, sekaligus menjadi cara untuk menyalurkan perasaan yang terkadang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Seperti disampaikan seniman dan praktisi Art Therapy, Ni Wayan Sutariyani yang berawal dari gemar corat-coret sejak kecil hingga kemudian fokus menjadi pelukis dan berkembang menjadi art terapis. "Saya bersyukur wanita boleh tampil," katanya.
Cokorda Istri Ratih Iryani dan Ni Wayan Sutariyani yang menekuni dunia seni ini saat sesi diskusi Sudamala Dialogues mengajak setiap perempuan untuk lebih mengenali kemampuan yang ada di dalam diri dan berani mengambil langkah untuk mewujudkan potensi tersebut. Kedua tokoh seniman Bali ini membawa nilai dan tradisi Bali ke dalam profesi modern mereka dan berpandangan bahwa warisan budaya bukanlah sesuatu yang membatasi, melainkan dapat menjadi sumber kekuatan dan rasa percaya diri.
Pelaku seni ini berpesan kepada generasi perempuan Bali berikutnya untuk menjadi perempuan yang kuat di masa kini. Menurut kedua pelaku seni tersebut kekuatan bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Kekuatan ada dalam diri setiap perempuan, dan dapat tumbuh ketika seseorang mulai mengenali, mempercayai, dan berani mengambil langkah.
Pembicara lainnya pada Sudamala Dialogues 2026 yakni dr. Ni Made Ayu Wulandari mengatakan, menjadi seorang dokter mata tidak hanya mengobati sebuah penyakit tapi membantu orang-orang yang awalnya tidak bisa melihat menjadi bisa melihat indahnya dunia. "Sehingga orang-orang tersebut menjadi percaya diri dan meningkatkan kualitas hidupnya," ujarnya.
Menurutnya, kesehatan mata dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri, bukan hanya memandang dunia di sekitarnya. Pada dialog ini pihaknya mengajak perempuan untuk menyadari kekuatan yang sebenarnya sudah ada di dalam diri, serta berani mengambil setiap peluang yang dapat diwujudkan. Perempuan sering kali menempatkan kebutuhan dan kesejahteraan dirinya di urutan terakhir, dan mengapa kebiasaan tersebut perlu mulai diubah.
Setiap perempuan dapat mendefinisikan kekuatan dirinya sendiri, bukan berdasarkan standar atau harapan orang lain, tetapi berdasarkan pengalaman, nilai, dan perjalanan hidup yang dijalani. Commercial Director Sudamala Resorts, Wayan Suwastana mengatakan, dialog ini bukan hanya agar para perempuan pulang dengan rasa terinspirasi, tetapi juga dengan keberanian untuk mengambil langkah.
"Untuk mengenali kekuatan yang sebenarnya sudah mereka miliki dan berani meraih peluang yang ada di hadapan mereka, baik untuk diri sendiri maupun keluarga dan komunitas yang mereka pimpin. Respons positif dari edisi perdana ini mendorong kami untuk terus mengembangkan Sudamala Dialogues sebagai platform tahunan, tempat ide, budaya, wellness, dan manusia dapat saling bertemu dan terhubung," ujarnya.