Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Tumpek Klurut, Momentum Pemuliaan Kasih Semesta

Bali Tribune

I Komang Warsa - Bendesa Adat Alasngandang dan staf pengajar di SMA N 1 Rendang 

balitribune.co.id | SURAT edaran gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang tata titi kehidupan masyarakat Bali berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kertih dalam Bali Era Baru menyadarkan manusia Bali ingat “eling/atutur” untuk meng-ajeg-kan kearifan lokal Bali yang kadang disebut dengan dresta Bali. Masyarakat Bali yang penduduknya mayoritas beragama Hindu memliki banyak tradisi ritus religius  sebagai bentuk implementasi dari ajaran Tri Hita Karana. Konsep ajaran Tri Hita Karana hakikatnya untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia  , dan manusia dengan alam semesta. Salah satu ritus sebagai  tradisi religius  yang dibingkai oleh tradisi kuat menjadikan adat dan agama Hindu di Bali  menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan dan sulit dimaknai terpisah oleh masyarakat Bali yang beragama Hindu. Perlu dicatat bahwa Hindu bukan agama tradisi atau agama budaya namun agama dibungkus oleh adat dan budaya. Hal ini, menjadikan adat di Bali amat religius terutama jika kita berbicara  kasukertaning tata prahyangan yang mengurus tentang keyakinan dan upacara agama yang terjaga sampai saat ini.   Salah satu ritus religius yang sampai saat ini diyakini dan dilaksanakan oleh masyarakat Bali yang beragama Hindu adalah upacara (rahinan) tumpek seperti tumpek landep, tumpek wariga, tumpek uye, tumpek klurut, tumpek kuningan, dan tumpek wayang. Tumpek merupakan  momentum kewaktuan yang bersiklis/nemugelang antara akhir saptawara (hari yang bersiklus tujuh) dan akhir dari pancawara (hari bersiklus lima) bertemu antara sabtu dan kliwon (saniscara kliwon) yang dinamakan tumpek. Momentum inilah wujud sejati  Bali yang dihuni oleh semesta diri harmoni dengan semesta alam beserta isinya. 

Momentum tumpek sebagai titik balik dan evaluasi perilaku hidup dalam keharmonisan dua bhuana yakni bhuana alit dan bhuana agung. Terkadang tanpa disadari keharmonian itu  tergerus oleh keangkuhan dan kesombongan yang mengerucut dalam diri yang melahirkan pikiran negatif (sentrifetal). Titik balik sebagai bentuk penyadaran diri akan penyucian dan pemuliaan aura bhuana dengan jalan kasih. Jalan kasih  sebagai salah satu bagian panca pilar agama Hindu yang disebut prema (kasih). Jalan kasih dilakukan melalui ritus enam tumpek yang berkelindan dengan konsep sad kertih. Ajaran teks-teks sastra atau lontar mengajarkan tentang konsep kasih dan cinta kepada semua makhluk hidup (sarwa prani).  Cinta kasih dalam tumpek klurut  mengingatkan umat manusia agar selalu kasih terhadap semua ciptaan Tuhan agar semua makhluk hidup berbahagia. Tumpek Uye sebagai simbol kasih terhadap binatang, tumpek Wariga wujud kasih terhadap tumbuhan, dan kasih terhadap sanghyang atman melalui tumpek landep dan tumpek wayang. Artinya semua ritus tumpek menanamkan ajaran jalan kasih semesta alam  dari kasih semesta diri yang tujuannya saling mengasihi antara dua bhuana. Sabtu dan kliwon dimaknai oleh manusia Bali sebagai titik penyadaran “atutur” , pengendalian dan penyucian semesta diri (mikrokosmos) dan semesta alam (makrokosmos). Sehingga momen tumpek ini dipakai bagi orang Bali yang beragama Hindu sebagai penyadaran diri terhadap ajaran cinta kasih sejati. Semesta alam dan semesta diri harus dirawat dengan kasih karena aura kasih akan melahirkan energi pikiran positif yang bisa menjadikan dua dunia menjadi sehat dan saling mengasihi dan memberi energi positif kehidupan.   Pikiran positif akan menyebar keluar diri berwujud penyayang, pelayan,  dan pemaaf (cinta kasih). Teks-teks sastra yang mengulas tentang tumpek sebagai kurikulum kehidupan untuk bisa menebar kasih semesta alam dan semesta diri melalui hari raya tumpek memang harus dibaca, dimaknai dan diimplementasikan sebagai pedoman hidup. Tumpek memang mengajarkan konsep kasih. Kasih terhadap jiwa untuk menajamkan pikiran yang positif sebagai kecerdasan melalui ritus tumpek landep. Tumpek landep sebagai simbul ketajaman pikiran untuk berpikir cerdas. Kasih terhadap tumbuh-tumbuhan melalui pelaksanaan tumpek wariga (tumpek pengatag) sebagai perwujudan dewa Sangkara. Kasih terhadap binatang yang membantu dan menopang hidup manusia diwujudkan melalui tumpek Uye (tumpek kandang) dan kasih terhadap sesama orang (jana kertih) diwujudkan melalui tumpek klurut. Hindu bukan menyembah binatang, bukan juga menyembah pohon atau menyembah batu-batu tetapi kasih terhadap sarwaprani adalah konsep ajaran kehidupan agar semua mahluk hidup berbahagia.

Tumpek merupakan Siklis akhir saptawara dan pancawara “sabtu dan kliwon sebagai momen mengarahkan hidup menuju sempurna. Enam tangga yang harus dilalui sebagai kurikulum kehidupan agar perilaku terarah menuju pintu kasih. Tangga-tangga hidup dalam bingkai cinta kasih diimplementasikan menjadi enam tumpek yang intinya menebar kasih semesta alam dan semesta diri. Tumpek klurut sebagai tumpek ke-4 bentuk pemujaan kepada dewa keindahan atau dewa iswara yang dirasakan melalui suara sebagai sanghyang sabda karena sabdalah muasal keberadaan manusia “sabda kamulaning dadi wong. Makanya tumpek klurut ini yang diupacarai adalah gamelan dan kulkul karena keduanya mengasilkan suara “sabda”. Suara kulkul bagi orang Bali disakralkan dan juga dipakai sarana media sosial dalam komunikasi. Kulkul sebagai pengintegrasi dalam suka dan duka. Di sisi lain gambelan sebagai filosofi penebar keindahan dalam perbedaan makanya harus diberi makna kasih melalui ritus tumpek klurut. Orang Bali menjadikan tumpek klurut yang berasal dari kata “lulut” yang artinya senang dan cinta (tresna) sebagai inti hari kasih sayang. Filosofi gambelan mengajarkan perbedaan itu indah dalam satu komado ketukan sekalipun suara yang dihasilkan berbeda namun tetap dalam irama ketukan sehingga menjadi indah didengar. Indah didengar menjadikan kesejukan pikiran dan melahirkan kasih karena dari pikiran sejuk, kasih bersemai dan akhirnya kedamaian terlukis dalam diri. Jadi sejatinya tumpek klurut mengajarkan dan menyadarkan tentang ajaran kasih semesta. Lulut sih, darma sih, dana sih dan marma sih empat yang ada dalam semesta diri sebagai dasar cinta kasih. Saling mengasihi, saling menyayangi, saling menlindungi antara semesta alam dan semesta diri terwujud dalam makna upacara tumpek. Ada binatang, tumbuhan dan isi alam yang lain harus dijaga dan diharmonikan. Semesta alam memberikan keiklasan kepada semesta diri saat manusia memetik buah dari tumbuhan dan tumbuhan tidak pernah pamerih untuk meminta imbalan. Semesta alam sebagai ibu pertiwi hanya memberi tak harap kembali ibarat sang surya menyinari dunia. Semesta diri “manusia” juga harus menjaga semesta alam demi keselamatan semesta diri baik niskala dan sekala. Keduanya harus saling menjaga agar semesta menjadi damai dari kasih semesta.

 

wartawan
I Komang Warsa
Category

Ketupat, Barongsai dan Canang, Cerita Akulturasi Alami Umat Tionghoa di Tabanan

balitribune.co.id | Tabanan - Ribuan umat keturunan Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2577 di Kong Co Bio Tabanan dengan suasana akulturasi budaya Bali yang kental melalui penggunaan sarana canang dalam persembahyangan.

Selain dupa dan kue keranjang, kehadiran ornamen serta sesaji khas lokal ini menjadi simbol keharmonisan tradisi leluhur Tionghoa dengan budaya Hindu di Kabupaten Tabanan.

Baca Selengkapnya icon click

Warga Tionghoa Buleleng Pusatkan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong

balitribune.co.id | Singaraja - Warga etnis Tionghoa di Kabupaten Buleleng merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang dipusatkan di Klenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja. Sejumlah rangkaian acara digelar sebelum dilaksanakan sembahyang tutup tahun dan melepas Tahun Ular oleh pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (PTITD) Ling Gwan Kiong dan Seng Hong Bio.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Mulai 23 Februari Pelabuhan Gilimanuk Terapkan E-Money

balitribune.co.id | Negara - Para pengendara yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa maupun yang masuk Bali melalui Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk tidak bisa lagi membayar retribusi (tiket) secara manual. Untuk membayar retribusi di Terminal Manuver maupun Terminal Gilimanuk kini menggunakan uang elektronil E-Money.

Baca Selengkapnya icon click

Bali Auto Show 2026, Banjir Promo dan Cashback Puluhan Juta untuk Mobil Impian

balitribune.co.id | Denpasar - Pameran Bali Auto Show yang digelar di Trans Studio Mall (TSM) pada 16-22 Februari 2026 bukan sekedar memajangkan produk mobil unggulan masing-masing peserta mobil tapi juga menjadi kesempatan emas bagi konsumen Bali memiliki unit mobil impian mereka lantaran berbagai promo menarik yang ditawarkan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Atraksi Barongsai Bertepatan Tahun Baru Imlek Hibur Wisatawan di Bali

balitribune.co.id | Nusa Dua - Tahun Baru Imlek 2557 Kongzili tahun 2026 ini dirayakan meriah di sejumlah pusat kegiatan pariwisata di Bali salah satunya di Kuta, kawasan pariwisata Nusa Dua hingga di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Seperti di kawasan Kuta Kabupaten Badung pada 16 Februari 2026 dilakukan ritual tolak bala yang digelar di Vihara Dharmayana Kuta.

Baca Selengkapnya icon click

Revolusi Angpao Digital, Menjaga Tradisi Imlek di Tahun Kuda Api 2026

balitribune.co.id | Denpasar - Tahun Baru Imlek selalu identik dengan kebersamaan, harapan baru, dan tradisi berbagi. Di tahun Kuda Api 2026 yang melambangkan energi dan keberanian melangkah, tradisi pun terus beradaptasi mengikuti gaya hidup masyarakat yang semakin digital.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.