Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Menolak Bantuan Asing Saat Flores Menangis

 Hans Itta, Redaktur Pelaksana Bali Tribune
Bali Tribune / Hans Itta, Redaktur Pelaksana Bali Tribune.

balitribune.co.id I Bencana alam selalu menjadi cermin paling jujur untuk melihat kesiapan sebuah negara. Ketika gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang daratan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pertengahan Agustus 2026 ini, riak yang muncul bukan sekadar urusan patahan tektonik, melainkan patahan birokrasi yang akut. Di tengah kepanikan warga yang kehilangan tempat tinggal, sebuah kebijakan kontroversial lahir dari meja kekuasaan: Pemerintah Provinsi NTT menerbitkan Surat Edaran yang mengizinkan warga mengambil sembako terlebih dahulu di toko-toko kelontong lokal dengan sistem "kasbon" yang dijamin oleh negara.

Bagi sebagian kalangan, kebijakan "Ambil Dulu, Bayar Kemudian" ini dipuji sebagai diskresi darurat yang berani demi memotong kompas birokrasi yang kaku. Argumennya klasik: keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Menunggu truk logistik resmi dari ibu kota provinsi atau bantuan udara dari Jakarta membutuhkan waktu, sementara perut yang lapar di tenda pengungsian tidak bisa diajak bernegosiasi.

Mencekik Urat Nadi UMKM Lokal

Namun, jika kita mau menilik lebih dalam dengan kacamata masyarakat kecil, kebijakan ini menyiratkan kepasrahan yang ironis, bahkan cenderung memperlihatkan kegagalan mitigasi. Pemilik kios sembako di pelosok Flores adalah korban gempa yang juga sedang berdarah-darah. Meminta mereka menyerahkan modal dagangannya dengan jaminan selembar kertas edaran—yang entah kapan dicairkan lewat birokrasi Pemda yang terkenal rumit—adalah bentuk pemindahan beban krisis yang tidak adil. Kebijakan ini berisiko mematikan urat nadi UMKM lokal karena merusak perputaran uang tunai (cash flow) harian pedagang. Ini memicu pertanyaan mendasar: ke mana perginya cadangan logistik darurat (buffer stock) daerah yang seharusnya mandiri dan siap sebar sejak hari pertama?

Ironi Gengsi di Tengah Belitan Utang

Ironi penanganan bencana ini kian menebal ketika Pemerintah Pusat memilih untuk menolak tawaran bantuan kemanusiaan dari sejumlah negara sahabat, seperti Singapura, China, hingga Iran. Istana berdalih bahwa situasi logistik dan evakuasi di lapangan masih sepenuhnya "bisa ditangani sendiri". Di titik inilah ego sektoral dan sikap gengsi kekuasaan tampak begitu telanjang di hadapan publik. Bagaimana mungkin sebuah negara yang postur APBN-nya terus terbebani utang luar negeri masif hingga menembus angka 10 ribu triliun rupiah, dan kerap didera kebocoran anggaran akibat korupsi yang sistematis, mendadak tampil begitu "sombong" menolak uluran tangan kemanusiaan dari dunia internasional?

Sikap menolak bantuan asing demi menjaga citra bahwa "negara baik-baik saja" adalah sebuah perjudian nasib atas penderitaan rakyat. Pilihan ini seolah melupakan memori kolektif yang panjang tentang bagaimana penanganan bencana besar di negeri ini kerap menyisakan luka administratif. Trauma dari bencana-bencana masa lalu, mulai dari Sumatra hingga tsunami Aceh, menunjukkan pola pemulihan pasca-darurat yang sering kali terkatung-katung. Janji stimulan rumah rusak dan pembangunan hunian tetap sering kali berjalan setengah hati dan lamban, terjebak di balik kaku dan rumitnya verifikasi dokumen.

Bukan Sekadar Komoditas Politik

Maka, sangat wajar jika muncul mosi tidak percaya di akar rumput. Rasa skeptis bahwa rakyat hanya dibutuhkan saat hajatan politik—ketika baliho calon pemimpin memenuhi jalanan Flores demi berburu suara—bukanlah sekadar sinisme tanpa dasar. Itu adalah akumulasi dari rasa lelah karena kerap ditinggalkan begitu kontestasi elektoral usai. Saat gempa meruntuhkan rumah mereka, rakyat kembali dipaksa mandiri, mengandalkan solidaritas antarwarga, atau berharap pada janji-janji anggaran pusat yang pencairannya birokratis.

Kini, setelah pintu bantuan internasional ditutup rapat oleh keangkuhan diplomatik, tanggung jawab mutlak berada sepenuhnya di pundak Pemerintah Pusat. Intervensi langsung dari helikopter BNPB, dapur umum Kemensos, hingga armada kapal perang TNI Angkatan Laut harus mampu membuktikan bahwa klaim "bisa menangani sendiri" itu bukan sekadar bualan politik. Beban pemenuhan pangan harus diambil alih sepenuhnya oleh instrumen negara agar skema kasbon lokal yang mengecilkan modal pedagang kecil bisa segera dihentikan.

Ujian sejati kepemimpinan pasca-gempa Flores ini tidak diukur dari seberapa fasih pejabat berargumen tentang kedaulatan negara di media massa, melainkan dari seberapa cepat utang belanja pemilik kios dilunasi, dan seberapa nyata rumah-rumah warga dibangun kembali. Rakyat Flores tidak butuh kebanggaan semu atas penolakan bantuan asing; mereka menagih hak paling mendasar sebagai warga negara: kehadiran negara yang jujur, utuh, dan tuntas di saat mereka hancur. 

wartawan
Hans Itta
Category

Semester I 2026 Kunjungan Wisatawan di Kawasan Pariwisata Meningkat

balitribune.co.id | Mangupura - Pengelola kawasan pariwisata mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I 2026 dengan membukukan 2.497.458 kunjungan wisatawan di tiga kawasan yang dikelolanya, yaitu Nusa Dua (Bali), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), dan Golo Mori (Nusa Tenggara Timur). Jumlah ini meningkat 10,54% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2.259.269 kunjungan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Semarak Merah Putih di Desa BRILiaN Angseri, BRI Hadir Bersama Rakyat dan Dorong Ekonomi dari Desa

balitribune.co.id | Tabanan - Memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, BRI Region 17 Denpasar menggelar kegiatan Semarak Merah Putih Kemerdekaan di Desa BRILiaN Angseri, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, Sabtu (22/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Tingkatkan Keterampilan Masyarakat, Dinas Koperasi UMKM dan Tenaga Kerja Tabanan Gelar Pelatihan Pembuatan Roti dan Kue

balitribune.co.id | Tabanan - Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Tenaga Kerja Kabupaten Tabanan resmi membuka Pelatihan Berbasis Kompetensi Program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi Tahun Anggaran 2026 yang bertempat di UPTD BLK Tabanan pada Rabu, (26/8/2026). Pada angkatan ini, pelatihan difokuskan pada keahlian pembuatan roti dan kue. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Perkuat Sinergi Pariwisata, Bupati Badung dan Bupati Wakatobi Sepakat Dorong Kunjungan Wisatawan

balitribune.co.id | Manngupura - Pemerintah Kabupaten Badung dan Pemerintah Kabupaten Wakatobi resmi memperkuat kolaborasi lintas daerah guna mendongkrak kunjungan wisatawan dan menyempurnakan tata kelola destinasi. Langkah strategis ini ditandai dengan kunjungan kerja Bupati Wakatobi H. Haliana beserta jajaran yang diterima langsung oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa di Ruang Tamu Bupati, Puspem Badung, Rabu (26/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Wabup Bagus Alit Sucipta Saksikan Prosesi Pediksan Sulinggih di Denkayu

balitribune.co.id | Mangupura - Pemerintah Kabupaten Badung berkomitmen penuh mendukung dan mendampingi pelaksanaan upacara adat serta keagamaan masyarakat. Hal tersebut ditegaskan Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta saat menghadiri rangkaian upacara Pediksan Ida Pedanda Gede Putra Beraban beserta Ida Pedanda Istri Tapaswi di Griya Beraban, Denkayu, Kecamatan Mengwi, Badung, Rabu (26/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.