Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Kita Telah Menyimpang Dari Nilai-Nilai Pancasila

Bali Tribune / Wayan Windia - Guru Besar (E) pada Fak. Pertanian Univ. Udayana dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Made Sanggra, Sukawati.

balitribune.co.id | Setiap tanggal 1 Juni, marilah kita merenung tentang dasar negara kita, Pancasila. Kesepakatan tentang dasar negara yakni Pancasila, adalah sebuah konsensus nasional yang jitu. Konsensus yang mampu mengakomodasikan semua kepentingan komunitas di Indonesia yang sangat heterogin. Dasar negara itu digali oleh Bung Karno. Kemudian dilaksanakan secara murni dan konsekuen oleh Pak Harto. Bahkan Pak Harto berani menerbitkan Undang-Undang yang mengharuskan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam berbangsa dan bernegara. Seluruh orpol dan ormas di Indonesia diharuskan untuk berdasarkan Pancasila sebagai azas organisasinya.

Kemudian dalam era reformasi, ternyata UU ini tidak diberlakukan lagi. Inilah kekeliruan yang sangat fatal dari era reformasi.  Karena terlalu sok ber-demokrasi dan terlalu sok ber-HAM. Gunjang-ganjing yang kini terjadi, termasuk terorisme yang pernah terjadi, adalah disebabkan karena kita tidak melaksanakan nilai Pancasila dengan sebaik-baiknya. Sebuah negara yang begini heterogin, haruslah diurus oleh pemerintahan yang kuat. Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang memiliki landasan hukum yang kuat dalam melaksanakan dasar negara.

Kemudian dalam era reformasi ini, kita juga menyaksikan sistem politik yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila. Yakni pelaksanaan pemilu yang bersifat/berlandaskan konsep satu orang-satu suara. Sehingga kita akhirnya berkembang menjadi negara yang sangat liberal. Sebagai negara yang sangat heterogin, para pendiri bangsa ini, telah mewariskan kita dengan konsep politik dengan azas perwakilan. Bahwa pelaksanaan demokrasi dilaksanakan dalam permusyawaratan dalam perwakilan. Hal ini seirama dengan Sila ke-4 dari Pancasila.

Pelaksanaannya adalah pemimpin bangsa ini dipilih dalam lembaga perwakilan. Presiden dipilih oleh MPR, dan gubernur, bupati, walikota dipilih dalam lembaga DPRD. Banyak ada komentar bahwa sogok-menyogok yang terjadi dalam proses pelaksanaan pemilu/pilkada bisa terjadi, karena sistem pemilu kita yang bersifat satu orang-satu suara. Kemudian kepala daerah dan juga anggota parlemen yang menjelma menjadi koruptor, adalah juga disebabkan karena sistem pemilu kita yang menyimpang dari Pancasila tersebut.

Saya merasa yakin bahwa perumusan Pancasila dan konsensus nasional dari para pendiri bangsa yang menyepakati Pancasila sebagai dasar negara, pasti dengan dasar pemikiran yang matang. Dalam benaknya yang ada hanyalah kepentingan bangsa. Karena mereka sebelumnya bersama-sama mengalami penderitaan dalam menghadapi penjajah. Mereka sadar bahwa kalau Indonesia tidak bersatu, maka kita akan selalu kalah dan akan mengalami kehancuran.

Tetapi saat ini, generasi bangsa ini, tidak mengalami masa perang kemerdekaan. Kita tidak pernah menghadapi musuh bersama. Kita tidak pernah mengalami penderitaan, sebagai akibat perang kemerdekaan. Lalu muncullah kepentingan golongan, kelompok, dan pribadi. Kemudian menjiplak konsep dasar negara lain, yang tidak mengalami sejarah dan budaya yang sama.

Kemudian, dalam bidang ekonomi, kita juga masih jauh dari implementasi Sila ke-5 dari Pancasila, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ketimpangan sosial masih terasa dimana-mana. Baik ketimpangan pendapatan, maupun ketimpangan regional. Karena sistem ekonomi yang dilaksanakan cendrung pada sistem ekonomi kapitalis. Lihat saja di media massa. Kita masih tetap memperbincangkan masalah pertumbuhan ekonomi. Sangat jarang kita melihat pembahasan tentang keadilan sosial.

Bung Hatta berpendapat bahwa untuk melaksanakan keadilan sosial, maka harus ada sistem penggajian yang mendorong keadilan sosial. Hatta mengusulkan agar gaji aparat yang tertinggi, hanya boleh 20 kali lipat dari gaji aparat yang terendah. Sehingga dengan demikian pemerataan pendapatan dan keadilan sosial akan tercapai dengan sendirinya. Kenapa ? Karena memang secara sadar dibentuk dalam suatu sistem pengggajian. Hal ini akan berujung pada tatanan tabiat hidup sederhana.   

Tetapi sekarang, elit politik kita sudah terlanjur berada dalam zone nyaman. Gaji yang berlebihan sudah terlanjur mengakibatkan kenikmatan. Akan sangat sulit untuk meurunkannya. Itulah sebabnya Hatta mengatakan bahwa setelah kemerdekaan, kita hanya bisa melaksanakan UUD 1945 hanya sekitar 1,5 tahun. Setelah itu kita terus terlibat dalam perang, untuk melawan perpecahan bangsa. Kalau saja Hatta terus dapat melaksanakan UUD 1945 itu dengan lugas, maka nasib bangsa kita mungkin tidak seperti sekarang ini. Kita bisa terhindar dari keadaan di mana kita terlalu jauh menyimpang dari dasar negara Pancasila. Kalau saja kita dapat melaksanakan nilai-nilai Panacasila dan UUD 1945 dengan baik, maka pasti bangsa kita akan bersatu dengan bulat. Karena kita berada dalam kesamaan kondisi sosial-ekonomi. Kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara akan muncul, kalau kita berada dalam posisi yang relatif sama secara sosial dan secara ekonomi.

Dahulu pada zaman perang kemerdekaan, kita bisa bersatu padu dan kemudian mampu mengusir penjajah, karena pada era itu kita berada dalam posisi yang sama. Saat ini ketimpangan pendapatan dan ketimpangan regional sangat terasa. Kasus ini harus kita entaskan bersama-sama dahulu. Selanjunya kebersamaan berbangsa akan muncul dengan sendirinya.

Misalnya saat ini, tatkala ada serangan korona. Kalau saja kita berada dalam posisi yang relatif sama dalam aspek sosial dan ekonomi, maka pemerintah pasti tidak akan terlalu susah. Partisipasi masyarakat akan muncul dengan spontan, karena kita merasa satu nasib dan satu bangsa. Mungkin itulah sebabnya, kenapa korona dapat dikendalikan dengan baik di Vietnam dan Taiwan. Karena di sana mungkin ada kebersamaan yang padu. Masyarakatnya menjadi sangat taat kepada pemerintahnya/negaranya. Di pihak lain, pemerintah melaksanakan tugasnya sebagai pengayom rakyat yang solid.

Akhirnya, tugas kita sekarang adalah membangun kesadaran baru. Bahwa kita harus kembali kepada pelaksanaan nilai-nilai dasar negara Pancasila, secara murni dan konsekuen. Saya merasa berkeyakinan, selama kita tidak kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 (dalam bidang ekonomi dan politik), maka kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan selalu gonjang-ganjing.

 

wartawan
Wayan Windia
Category

Sasar Warga Rentan, Denpasar Siapkan Rp1,152 Triliun

balitribune.co.id I Denpasar - Pemerintah Kota Denpasar mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,152 triliun untuk mengintervensi sekitar 18.000 warga kelompok rentan yang berada di ambang garis kemiskinan. Langkah strategis ini diambil guna menjaga masyarakat yang berada pada kelompok desil 5 dan 6 tersebut agar tidak merosot ke kategori miskin.

Baca Selengkapnya icon click

Lewat Program TPBIS, Siswa Belajar Aksara dan Masatua Bali

balitribune.co.id I Denpasar – Upaya melestarikan Bahasa dan Aksara Bali terus diperkuat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar melalui Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Tahun ini, sebanyak 63 siswa kelas IV dan V SD Negeri 17 Dangin Puri mendapat pelatihan menulis Aksara Bali serta Masatua atau mendongeng menggunakan Bahasa Bali yang berlangsung selama Agustus hingga September 2026.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Sempat Cekcok dengan Istri, Pria Asal Pemogan Ditemukan Tak Bernyawa di Pantai Purnama

balitribune.co.id I Gianyar - Seorang pria asal Lingkungan Dalem, Pemogan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, yang diketahui bernama I Kadek Dedi Wiranata (35), ditemukan tidak bernyawa di pesisir Pantai Purnama, Sukawati.

Sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat memberitahukan lokasi terakhirnya melalui pesan singkat WhatsApp dan  juga mengirimkan foto dua botol pembersih lantai ke istrinya.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Musim Kemarau Melanda, Warga Desa Sinabun Kesulitan Dapatkan Air Bersih

balitribune.co.id I Singaraja - Musim kemarau yang mulai melanda Kabupaten Buleleng berdampak pada menurunnya debit sejumlah sumber mata air. Kondisi tersebut menyebabkan warga di beberapa desa mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Seperti yang dialami warga Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. 

Baca Selengkapnya icon click

Kunjungan Kapal Pesiar di Pelabuhan Celukan Bawang Tumbuh 25 Persen

balitribune.coo.id I Singaraja - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Cabang Celukan Bawang mencatat kinerja operasional yang positif hingga Juli 2026. Peningkatan terlihat dari arus kapal yang mencapai 1,48 juta Gross Tonnage (GT), atau tumbuh 12,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 1,32 juta GT.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.