Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Agama Mudah Diperalat untuk Meligitimasi Kekerasan

Bali Tribune / Hans Itta - Redaktur Pelaksana Harian Bali Tribune.

Beberapa tahun belakangan ini kita terbiasa dengan suguhan kekerasan dan unjuk kekuatan dari kelompok-kelompok masyarakat yang memakai simbol dan slogan keagamaan.

Bila politisasi agama di era Orde Baru masih terselubung, di era sesudahnya langsung terlihat. Dari konflik antarumat beragama sampai konflik politik, tampak agama mudah diperalat untuk meligitimasi kekerasan dan memberi dukungan politik. Absolutisme agama dipolitisasi.

Kecenderungan politisasi agama dalam kondisi masyarakat kita yang masih religius memungkinkan peningkatan konflik sosial bernuansa agama. Padahal, kita mesti belajar dari pengalaman negara-negara di Timur Tengah. Banyak negara yang hancur karena politik identitas.  Lebanon 15 tahun perang saudara antar agama untuk berebut kekuasaan. Suriah selama 7 tahun perang karena narasi Suni vs Syiah. Afganistan dikuasai Taliban karena ingin menjadikannya negara agama.

Identitas bukan hanya agama, tapi juga suku dan ras. Rwanda tahun 1994 habis 1 juta jiwa dalam waktu 3 bulan, karena suku Hutu merasa lebih pantas berkuasa dari suku Tutsi. Bahkan di Indonesia kita mengenal konflik Sampit tahun 2001 dan konflik di Ambon, Maluku tahun 1999.

Genderang kekerasan di Ambon  yang pecah pada 19 Januari 1999 adalah bencana kemanusiaan yang maha dahsyat: "kerusuhan komunal" antara sejumlah kelompok Kristen dan kelompok Muslim.

Daerah yang selama ini dikenal dengan sebutan "Ambon Manise" lantaran penduduknya dikenal toleran terhadap agama dan relasi kemanusiaan, di samping keindahan alam dan lautnya, tiba-tiba berubah menjadi "Ambon Pahite" yang sangat getir.

Aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat. Setidaknya (menurut catatan MAULA—Masyarakat Plural Untuk Keadilan), hingga 2 September 1999, telah tercatat 1.132 korban tewas, 312 orang luka parah, 142 orang luka ringan. Sebanyak 765 rumah terbakar, 195 ruko serta puluhan kendaraan hancur dibakar. Di samping itu 100.000 ribu orang meninggalkan tempat tinggalnya dan sedikitnya 30.000 orang menjadi pengungsi di 60 kamp penampungan, khususnya di kota Ambon dan sekitarnya.

Sejumlah sejarawan dan ilmuwan sosial spesialis kajian Maluku seperti Gerry van Klinken, Jacques Bertrand, Chris Wilson, Dieter Bartels, Birgit Brauchler, Tony Pariela, dan lainnya menyebut, tragedi kemanusiaan di Ambon dan kawasan Maluku sebagai konflik Kristen-Muslim terbesar dan terparah dalam sejarah sosial-politik di Indonesia.

Tahu dari akar semua masalah yang berujung pada banyaknya kehilangan jiwa? Ya, politik kekuasaan. Kursi kekuasaan itu memang rasanya manis bagi sebagian orang yang punya sifat tamak. Dengan kekuasaan dia bisa mengontrol banyak hal yang pada akhirnya urusannya adalah kekayaan yang tidak bisa habis dimakan tujuh turunan. Politik, kekuasaan dan bisnis adalah lingkaran setan yang tidak akan pernah habis sampai akhir zaman.

Dan untuk membentuk kebanggaan terhadap identas, dibutuhkanlah simbol-soimbol. Simbol itu bisa berupa lambang, bisa juga berupa orang. Dan di negara berkembang yang selalu butuh sosok untuk menyelesaikan masalah besar, biasanya dibangun simbol orang yang dinarasikan sebagai pembebas, revolusioner, wakil dari umat yang tertindas.

Itulah kenapa saya setuju sekali, ketika TNI – POLRI memulai dengan menghancurkan baliho Rizieq Shihab Shihab, yang dibangun oleh pengikutnya— Front Pembela Islam (FPI), dengan dana dari elit politik hitam yang tidak berperasaan.

Yang dilakukan TNI bukan sekadar menghancurkan sebuah baliho yang harganya cuman seratus ribu perak, tapi mencegah dampak yang lebih luas dari kengerian akibat politik identitas.

Kepulangan Habib Rizieq Syihab dari Arab Saudi, Selasa (10/11/2020) lalu membawa persoalan yang begitu kompleks di tengah pandemi Covid-19. Beberapa tokoh nasional diindikasikan terlibat di belakangnya. Rizieq yang dielukan oleh pengikutnya sebagai imam besar FPI, justru memantik api perpecahan bangsa melalui ucapan-ucapan sampah yang kotor dan provokatif  hingga pelecehan dan penghinaan terhadap institusi negara.

Bayangkan, ketika simbol dalam baliho itu dibiarkan, maka akan muncul perlawanan dari komunitas lain yang merasa terancam. Semisal, karena dia sering menghujat agama lain untuk membangkitkan superioritas dalam komunitasnya, maka agama lain yang mayoritas di daerah tertentu bisa bergerak dan melawan.

Dan siapa yang rugi pada akhirnya jika terjadi gesekan? Ya, masyarakat sipil yang tidak tahu apa-apa, yang lemah. Mereka inilah korban terbesar dalam sebuah perang.  Orang yang sudah tua, wanita dan akan-anak.   

Agama pada dasarnya menentang kekerasan. Fitrah agama menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, kesucian hidup, keluhuran akhlak, ketenangan, dan kedamaian. Perusakan, penjarahan, perampasan nyawa, teror, intimidasi, kebencian, fitnah dan menyebar kabar bohong (hoaks), tidak sesuai dengan jiwa agama. Manusialah yang menjerumuskan agama ke dalam praktek kekerasan.

Agama berfungsi sebagai kekuatan moral yang ampuh. Ajaran agama mendorong orang berbuat baik, menjauhkan diri dari kejahatan dan hawa nafsu, mengejar ketenteraman dan keselamatan di dunia maupun akhirat. Agama memotivasi orang untuk mengamalkan kebaikan kepada sesama dalam semangat pengabdian kepada Tuhan. Propaganda keagamaan yang bertentangan dengan kebaikan dan kesucian hidup melawan fitrah agama itu sendiri.

Sudah jelas agama dasarnya tidak menganjurkan kekerasan dan hal-hal yang bakal menyengsarakan orang lain. Namun, demi kodratnya sebagai instrumen manusia untuk berhubungan dengan kuasa-kuasa adikodrati atau Yang Mahakuasa, agama mudah melegitimasi tindak kekerasan, terutama pada awal kelahiran dan penyebaran agama. Demi tegaknya kewibawaan agama, sanksi-sanksi kaku dan keras diberlakukan guna mencapai sebuah masyarakat ideal dengan keseragaman tata hukum.

Tindak kekerasan dalam agama saat pemunculannya bersifat darurat. Peristiwa kekerasan dalam Kitab Suci tidak dimaksudkan menjadi model kehidupan umat sepanjang masa, apalagi masyarakat yang keadabannya kian berkembang. Realitas kemajuan dan kemajemukan masyarakat adalah perkembangan yang tidak boleh dibuat mundur.

Agar masyarakat tidak berjalan mundur, agama harus dihadirkan dalam bentuk beradab. Yang diamalkan dari agama adalah nilai-nilai kemanusiaanya yang menghargai toleransi (bukan radikal), yang membangun (bukan merusak), yang menghidupkan (bukan mematikan).***

wartawan
Hans Itta
Category

Kualitas Ogoh-ogoh Meningkat Pesat, Juri Puji Semangat Yowana Badung

balitribune.co.id I Mangupura - Antusiasme sekaa teruna dan yowana dalam menyambut Hari Raya Nyepi tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan. Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung mencatat tingkat kerampungan karya ogoh-ogoh di seluruh wilayah "Gumi Keris" telah mencapai 95 persen saat penilaian tingkat zona berakhir pada Sabtu (21/2/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Kadinkes Badung: Kebijakan 5 Hari Poli RSD Mangusada Wewenang Direktur

balitribune.co.id I Mangupura - Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Badung dr I Made Padma Puspita, menegaskan bahwa kebijakan operasional di RSD Mangusada, termasuk rencana uji coba pelayanan Poliklinik 5 hari kerja, adalah wewenang Direktur RSD Mangusada. "Dinkes tidak di posisi menyetujui atau tidak.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Satu Rumah di Sibangkaja Terendam Banjir, Camat Abiansemal : Rumah Lebih Rendah dari Jalan

balitribune.co.id I Mangupura - Satu rumah milik warga Banjar Sangging, Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Badung ikut terendam banjir, pada Selasa (24/2/2026). Genangan air setinggi lutut orang dewasa ini bahkan masih bertahan sampai Rabu (25/2/2026).

 

Baca Selengkapnya icon click

Jantung Pariwisata Bali Terendam, Kerugian Ekonomi Capai Miliaran Rupiah

balitribune.co.id I Mangupura -  Hujan deras yang mengguyur wilayah Badung dan Denpasar pada Selasa (25/2/2026) menyisakan duka bagi pelaku industri pariwisata. Kawasan primadona seperti Kuta, Legian dan Seminyak berubah menjadi lautan air, memicu kerugian material masif yang ditaksir menyentuh angka miliaran rupiah. Kondisi ini bukan sekadar musibah alam biasa, melainkan ancaman serius bagi reputasi Bali di mata internasional.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Jelang Lebaran, Tarif Bus AKAP di Tabanan Melonjak 70 Persen

balitribune.co.id I Tabanan - Harga tiket bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Terminal Pesiapan, Tabanan, melonjak hingga 70 persen menjelang arus mudik Lebaran 2026. Kenaikan tarif ini dipicu oleh tingginya permintaan kursi serta penyesuaian tarif musiman untuk jadwal keberangkatan pada 16 hingga 18 Maret 2026 mendatang.

Baca Selengkapnya icon click

BPBD Karangasem Catat 29 Kejadian Bencana

balitribune.co.id I Amlapura - Hujan lebat yang mengguyur sebagian besar wilayah di Kabupaten Karangasem, mengakibatkan terjadinya bencana banjir dan pohon tumbang di sejumlah titik. Di Desa Labasari, Kecamatan Abang, Karangasem, pohon berukuran besar tumbang dan menghantam bangunan serta mobil Pick Up milik salah satau warga setempat.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.