Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Ancaman Demokrasi Kita

Bali Tribune / Odeck Ariawan - Pengamat sosial,tinggal di Ubud
balitribune.co.id | Reformasi yang berumur lebih dari 20 tahun membuahkan amandemen UUD 45 sampai 4 kali— membagi kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kekuasaan eksekutif juga dibagi melalui otonomi daerah provinsi, kabupaten dan kota. Pemilihan langsung untuk eksekutif dan legislatif dengan susah payah membuahkan sebagian pemimpin-pemimpin yang mumpuni. KPK juga relatif berhasil menangkap ribuan politisi dan pejabat. Kebebasan berpendapat pun tersimak lebih terjamin.
 
But it’s not all rainbows and butterflies, kita ga sedang baik2 saja, walau dipandang cukup berhasil dan diakui dunia bahwa kita cukup sukses mentransformasi diri, keberhasilan itu juga melahirkan banyak masalah baru yang justru menimbulkan ancaman keberlangsungan demokrasi itu sendiri. Ketimpangan kesempatan secara sosial, politik, hukum, ekonomi, serta kesejahteraan daerah menimbulkan ketidakpuasan dari harapan yang tadinya digantungkan pada kecemerlangan demokrasi. Pada praktiknya malah tidak mengubah nasib masyarakat bawah. Korupsi terasa beralih banyak ke daerah dan terang-terangan, hampir nihil menunjukkan penurunan. UU tentang korupsi juga tidak kunjung direformasi padahal urgensinya tinggi. Keputusan pengadilan juga sering malah tidak memberatkan koruptor. Sering juga salah sasaran gara-gara bercampur dengan target politik.
 
Hasil studi KPK jelas-jelas menegaskan bahwa korupsi dipacu oleh pembiayaan kampanye pemilihan (baca: pesta demokrasi). Parpol terjebak oleh terdesaknya dilema utk meraih suara yang notabene memerlukan dana besar. Menerima mahar menjadi hal lumrah, partai pun menutup sebelah mata ketika para kader dan kandidatnya menggalang dana lewat cara lancung; atau mencari dana setelah berkuasa, baik dari anggaran negara maupun dari swasta dengan imbalan tertentu. Sistem ini menghambat parpol untuk mereformasi diri dan justru menyingkirkan kandidat aktivis dan idealis. Moral hazard juga terjadi karena kecil, dan tidak masuk akal dn tidak manusiawinya remunerasi nasional. Gaji pejabat kita kecil sekali, padahal mengontrol anggaran sangat besar dan profesional yang bergaji besar. Alih-alih mendorong gempitanya pesta demokrasi, untuk kebutuhan mendasar rumah tangga saja belum tentu bisa terpenuhi. Akibatnya pejabat kita bak didorong dan secara alami tergiring untuk mencuri, korupsi. 
 
Dalam situasi sistem demokrasi setengah matang ini, akibat ketidakjujuran dan kemunafikan kita sebagai bangsa—tak jujur, jauh dari realistis, sekaligus ignoran mengenai keuangan sehingga pembiayaan demokrasi maupun remunerasi nasional bergulir menjadi lingkaran setan korupsi yang menghalangi/menghambat/menyusahkan putra-putri terbaik bangsa yang jujur, amanah, dan kompeten untuk mengabdi. Fakta vulgar di lapangan, belakangan ini, secara langsung mau pun tidak langsung proses pengkristalan oligarki mulai terbentuk, korporasi mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik, UU, permen, perda, keputusan hukum, kaderisasi parpol, investasi, konsesi SDA, dll. 
 
Kesempatan untuk perbaikan itu menurut saya masih ada, walau jangka waktunya sempit—artinya kita mesti bergegas—sebelum kulminasi pengkristalan oligarki yang akut, sengkarut, dan susah-rumit untuk diurai. Kita mesti frontal dan progresif soal keuangan negara, jujur dan tidak munafik menghadapinya. Bagi saya kuncinya ada pada PEMBIAYAAN DEMOKRASI. Proses pemilu/pilkada, kampanye, dan pembiayaan partai, semua dibiayai oleh negara. Parpol, kandidat, politisi tidak boleh menerima uang/barang/jasa/iklan/bantuan dalam bentuk apa pun dari swasta/individual. 
 
Yg ke 2 adalah REMUNERASI NASIONAL, gaji presiden dan semua pimpinan lembaga tertinggi negara dn semua jabatan politik dn karier negara, harus tinggi dan disamakan, wakil-wakilnya juga demikian. Tertinggi yang bisa kita berikan, misalnya Rp1 Milyar masing-masing untuk presiden, ketua MPR, DPR, DPD, MA, MK, sehingga mereka tidak mempunyai masalah finansial, tinggal soal amanah, idealisme, etika, dan moral saja .Demikian pula anggota legislatif, eksekutif, dan legislatif daerah. Walau semisal cuma dianggarkan sekecil 1 persen dari APBN untuk PEMBIAYAAN DEMOKRASI dan 1 persen untuk REMUNERASI NASIONAL (periode sekarang jumlah Rp2700 Trilyun per tahun) artinya PEMBIAYAAN DEMOKRASI dn REMUNERASI NASIONAL masing-masing Rp27 Trilyun per tahun—nilai yang bisa jadi sudah lebih dari memadai. Tentu Parpol dan pejabat mesti melalui berbagai kriteria dan akuntabilitas yang ketat untuk bisa mendapatkan dananya. 
 
Dasar hukum ini akan cukup kuat kalau kita bisa mereformasi terbatas UUD45 yang kelima, spesifik soal PEMBIAYAAN. DEMOKRASI dan REMUNERASI NASIONAL. Dampak snowball effect dari reformasi dengan konsep pembiayaan demokrasi ini saya percaya pasti akan luar biasa. Bakal menyingkirkan bermacam karatan di partai, putra-putrii terbaik akan berbondong-bondong mengabdi kepada negara, perusahaan-perusahaan yang berprestasi akan berkompetisi, produk dan keputusan hukum yang dihasilkan akan lebih baik. Ketimpangan sosial, politik, ekonomi, hukum akan berkurang. Kalau dalam batas waktu tertentu kita tidak bisa menangani soal keuangan ini akibatnya: semua sistem demokrasi dan parpol kita dikuasai oleh korporasi baik dalam maupun luar negeri. Hampir semua produk hukum dan keputusannya akan dipengaruhi oleh kepentingan korporasi. Hampir semua pejabat daerah dan pusat, yang berada di kantong-kantong usaha, SDA, akan/sudah dikuasai dan ditentukan oleh korporasi. Lama kelamaan, ya itu tadi, terjadi pengkristalan oligarki, yang kalau sudah akut akan sangat susah utk memecahnya/mengubahnya. 
 
Ini sudah terjadi di banyak negara, ketimpangan akan makin terasa, di sinilah orang akan mempertanyakan hasil dari demokrasi, melihat kegagalan dari demokrasi, maka dicarilah alternatif, sistem yang diperkirakan lebih baik dari demokrasi. Kalau di Indonesia solusi “pintar”nya adalah agama—dari Kelompok Kanan, dan otoritarian dari Kaum Kiri. Apapun yang sudah susah payah kit acapai semenjak reformasi akan hancur oleh revolusi baru oleh ideologi baru yang bukan demokrasi, karena kegagalan kita menyiasati dan mengelola demokrasi. Sekaranglah saatnya. Mudah-mudahan saya salah, tapi kejadian ini sudah pernah terjadi di negara-negara lain. Justru terjadi ketika kita lupa, terbuai, lalu lalai oleh keberhasilan demokrasi setengah matang.
wartawan
Odeck Ariawan
Category

Badung Caka Fest 2026: 21 Ogoh-Ogoh Masuk Nominasi, Penilaian Lanjutan Akan Digelar di Puspem Badung

balitribune.co.id | Mangupura - Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Badung telah menuntaskan proses penilaian tahap awal terhadap 597 ogoh-ogoh yang berasal dari enam kecamatan di Kabupaten Badung dalam rangka Badung Caka Fest Tahun 2026 bertema “Sakti Nugraha Loka”. Penjurian tingkat zona tersebut berlangsung selama lima hari, mulai 18 hingga 22 Februari.

Baca Selengkapnya icon click

Bupati Beri Peringatan Keras, Jangan Jadikan Bangli Tempat Sampah dari Luar Daerah

balitribune.co.id | Bangli - Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta memberikan peringatan keras kepada oknum terutama yang berasal dari luar Bangli yang kedapatan  membuang sampah di wilayah Bangli  baik itu di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) maupun di jurang- jurang milik desa.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dorong Penguatan Koperasi di Tabanan, Bupati Sanjaya Hadiri Pra-RAT KPN Abdi Praja Singasana Jaya Tahun Buku 2025

balitribune.co.id | Tabanan - Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya., S.E., M.M menghadiri sekaligus memberikan sambutan dalam acara Pra Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Abdi Praja Singasana Jaya Tahun Buku 2025 yang berlangsung di Gedung Kesenian I Ketut Marya, Tabanan, Minggu (1/3).

Baca Selengkapnya icon click

Di Bandara Ngurah Rai Ribuan Penumpang Mengalami Pembatalan Penerbangan ke Timur Tengah

balitribune.co.id | Kuta - Sehubungan dengan penutupan ruang udara di sejumlah negara, terdapat sejumlah rute penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang mengalami penundaan penerbangan dan/atau penyesuaian jadwal penerbangan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dampak Perang Timur Tengah, Sejumlah Penerbangan Internasional Dibatalkan

balitribune.co.id I Mangupura — Dampak konflik di Timur Tengah menyebabkan sejumlah penerbangan internasional dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dibatalkan, Sabtu (28/2/2026).  Setidaknya, ada 5 penerbangan internasional yang berstatus batal. 

Baca Selengkapnya icon click

Tabanan Jadi Pionir Digitalisasi Bansos Berbasis Digital Public Infrastructure di Indonesia

balitribune.co.id | Tabanan - Pemerintah Kabupaten Tabanan menyatakan kesiapan penuh mendukung pelaksanaan piloting Digitalisasi Bantuan Sosial Berbasis Digital Public Infrastructure (DPI) yang akan berlangsung pada April hingga Juni 2026. Tabanan menjadi bagian dari Provinsi Bali yang ditunjuk sebagai provinsi pertama di Indonesia dalam perluasan uji coba sistem digital bansos secara menyeluruh di tingkat kabupaten/kota.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.