Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Dalam Hal Korupsi

Bali Tribune/ IGM Pujastana
Oleh : IGM Pujastana
 
balitribune.co.id  - Korupsi adalah masalah semua negara, tapi barangkali Indonesia tergolong yang paling  parah. Tapi menurut Transparency International (TI), Corruption Perception Index (CPI) Indonesia 2015 menunjukan perbaikan. Indonesia dinilai menunjukkan kenaikan konsisten dalam pemberantasan korupsi tapi terhambat  di sektor penegakan hukum dan politik.  Kondisi tersebut menyebabkan perbaikan-perbaikan dalam tata kelola pelayanan publik hanya mampu menaikkan skor Indonesia menjadi 36 dan menempati urutan 88 dari 168 negara yang diukur. Berarti skor Indonesia hanya naik  2 poin tapi peringkat Indonesia naik lumayan tinggi, yaitu 19 peringkat dari tahun sebelumnya. Skor CPI berada pada rentang 0-100. 0 berarti negara dipersepsikan sangat korup, sementara skor 100 berarti dipersepsikan sangat bersih.
 
Lalu apa kata Teori ekonomi mengenai korupsi ?
Dalam hal korupsi, teori ekonomi yang banyak diterapkan adalah : Naikan gaji maka korupsi akan hilang dengan sendirinya. Tapi dalam praktek yang berlaku adalah sebaliknya, entah itu di pedalaman Afrika, Eropa, Asia atau Eropa.  Korupsi  bukan hanya  masalah lintas geografis, juga  lintas profesi, mulai dari politisi hingga olahragawan.
 
Jawaban dari hubungan antara kenaikan gaji dan tingkat korupsi awalnya adalah sebuah eksperimen alami di Afrika Barat dan hasilnya menunjukan bahwa teori-teori ekonomi konvensional mengenai  korupsi adalah salah sama sekali. Pada tahun 2010 Ghana mulai menerapkan struktur gaji baru untuk pejabat publik. Penerima manfaat awal dan terbesar adalah polisi yang tiba-tiba saja seperti “ketiban durian runtuh”  karena besarnya gaji naik dua kali lipat dari sebelumnya. Dengan naik gaji para polisi diharapkan bersikap lebih professional dan berhenti memeras uang para pengemudi truk yang selalu dibuat dalam kondisi terpaksa untuk membayar uang suap. Tapi sebuah survey Transparency International,  menunjukan fakta bahwa 91% dari penduduk  Ghana percaya polisi yang harusnya melayani mereka bertindak korup dan proporsi pemerasannya lebih besar dari yang diperkirakan. 
 
Dua ekonom Amerika, Jeremy Foltz dan Kweku Opoku Agyemang melakukan penelitian yang menghasilkan kesimpulan bahwa polisi Ghana jadi lebih korup setelah gaji mereka meningkat, baik secara absolute maupun relative. Polisi Ghana mendirikanpenghalang  jalan  dimana truk yang melintas dihentikan sebanyak 16 kali  (setiap kali diberhentikan makan waktu 8 menit dan diperas dalam jumlah uang yang lebih banyak). 
 
Menurut teori ekonomi ada dua alasan yang membuat pejabat atau pegawai yang   gajinya lebih besar menghentikan korupsi. Pertama resiko kehilangan pekerjaan dan kehilangan gaji tinggi. Dengan kata lain, semakin tinggi gaji seseorang akan semakin tinggi  resiko korupsi yang harus ditanggung. Kedua, pejabat atau pegawai biasanya  memiliki target pendapatan. Jika mengalami “underpaid” mereka akan berperilaku korup untuk meningkatkan  pendapatan. Barangkali ada kekeliruan geografis (geografis fallancies) atas teori tersebut. Lain lubuk lain belalang. Tapi fakta membuktikan bahwa beberapa anggota parlemen Inggris dan Indonesia telah melakukan korupsi sejak satu dekade lalu  dan tidak berubah jadi lebih baik saat tunjangan mereka ditingkatkan beberapa kali lipat. Presiden Ghana, John Mahama mengatakan bahwa "tidak ada pembenaran" untuk korupsi sekarang karena gaji lebih tinggi. Dengan demikian tidak ada pembenaran untuk korupsi yang dilakukan oleh anggota DPR RI dan parlemen Inggris. Apa pembenaran untuk tindakan korup yang dilakukan seseorang bergaji tinggi? 
 
Karyawan di negara-negara kaya yang mendapat gaji lebih besar (barangkali karena potongan pajak di hapus) cenderung bekerja tidak lebih keras, bahkan lebih malas dibanding sebelumnya mendapat tambahan penghasilan. Barangkali karena target pendapatan yang ada dalam pikiran mereka tidak berubah menjadi lebih kecil dari sebelumnya. Gaji yang lebih besar tidak membuat mereka bekerja lebih keras sepanjang target pendapatan yang tertanam dalam pikiran mereka tidak berubah.
 
Riset Foltz dan Opoku-Agyemang tentang perilaku korupsi yang didanai  International Growth Centre pada London School of  Economics menunjukan kemungkinan bahwa tuntutan “imbalan/setoran” dari atasan atau tekanan keluarga mendorong seseorang  untuk melakukan lebih banyak korupsi. Kata kucinya adalah “tuntutan atasan yang tamak dan tekanan keluarga yang juga tamak”.Mungkin  pencegahan korupsi tidak cukup hanya dengan meningkatkan gaji tapi meremerlukan langkah kombinasi antara kepemimpinan politik, struktur gaji yang lebih baik dan hukuman pidana yang berat sebagaimana yang diterapkan  Singapura. Korupsi kadang-kadang menyangkut sifat serakah  manusia. Seperti yang dikatakan Ransford Van Gyampo, seorang ilmuwan politik di Universitas Ghana,: "Seberapapun besar laut masih menerima air hujan." (u)
 
wartawan
IGM Pujastana
Category

Grab Perkuat Inklusivitas Lewat Edukasi Bahasa Isyarat di Seluruh Ekosistem dan Distribusi 1.000 Rompi Teman Setara bagi Mitra Pengemudi Tuli

balitribune.co.id | Denpasar - Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional, Grab Indonesia kembali menghadirkan semangat “Teman Setara: Satu Ekosistem, Semua Bisa Tumbuh” melalui rangkaian kegiatan bersama Mitra Pengemudi, Mitra GrabMerchant, pengguna, dan karyawan internal.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ramadhipa Siap Melesat, Jaga Asa Papan Atas Moto3 Junior Aragon

balitribune.co.id | Jakarta – Pebalap muda binaan PT Astra Honda Motor (AHM), M. Kiandra Ramadhipa, siap menghadapi putaran keenam FIM Moto3 Junior World Championship 2026 di MotorLand Aragón, Spanyol, 25–27 September 2026. Berada di posisi kelima klasemen sementara dengan 80 poin, Ramadhipa bertekad memanfaatkan dua balapan di Aragón untuk terus bersaing di papan atas.

Baca Selengkapnya icon click

Sensatia Gandeng Seven Clean Seas Bersihkan 173 Kg Sampah di Pantai Padang Galak

balitribune.co.id | Denpasar - Sensatia berkolaborasi dengan Seven Clean Seas menyelenggarakan aksi bersih pantai di Pantai Padang Galak, Bali, pada Sabtu (19/9/2026). Kegiatan ini melibatkan 75 peserta yang terdiri dari masyarakat setempat dan karyawan Sensatia, yang bersama-sama mengumpulkan sekitar 173 kg sampah dari kawasan pesisir tersebut. Sampah yang terkumpul terdiri dari 41 kg sampah organik, 35 kg sampah plastik, dan 97 kg sampah residu.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Sengketa Tanah Subak Kerdung, Kuasa Hukum Sebut Ada BAP Palsu

balitribune.co.id | Denpasar – Babak baru persidangan sengketa tanah di Subak Kerdung, Pedungan, mengungkap sejumlah fakta di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (24/9/2026). Tim kuasa hukum terdakwa Anak Agung Ngurah Darmawan menilai kasus yang menimpa kliennya merupakan bentuk kriminalisasi yang diwarnai dugaan rekayasa dokumen dan BAP palsu.

Baca Selengkapnya icon click

Keluarga Berintegritas, Rumahku Surgaku

balitribune.co.id | Keluarga berintegritas tengah menjadi impian besar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI di dalam upaya mereka memberantas korupsi di tanah air. KPK beranggapan bahwa nilai-nilai antikorupsi perlu tumbuh dan dipraktikkan mulai dari keluarga karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat di mana seseorang belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.