balitribune.co.id I Amlapura - Penyebaran kasus Tuberkolosis atau TBC di Kabupaten Karangasem menjadi perhatian serius sejumlah kalangan, termasuk pemerintah daerah dan pusat. pasalnya banyak kasus tubekolosis yang yang tidak terdeteksi sehingga terlanjur menular ke orang sekitar yang terjangkit tuberkolosis itu sendiri.
Kepala Dinas Kesehatan Karangasem, I Gusti Bagus Putra Pertama kepada awak media, Rabu (3/6/2026), menyebutkan program pengentasan kasus TBC di Kabupaten Karangasem telah tertuang dalam Visi-Misi Karangasem Agung, Bupati/Wakil Karangasem. Selain itu pemerintah pusat juga memberikan target kepada Pemkab Karangasem untuk menemukan sebanyak 3000 kasus TBC pertahun.
"Pengentasan kasus TBC ini sudah tetuang dalam visi dan misi Karangasem Agung yang dicanangkan Bapak Bupati/Wakil Bupati Karangasem. Selain itu Pemkab Karangasem juga diberikan target untuk menemukan 3000 kasus TBC pertahun," sebutnya.
Karena itu pihaknya atas arahan Bupati Gus Par terus menggencarkan kegiatan pemeriksaan kesehatan geratis secara terjadwal. Dengan pemeriksaan gratis ini pihaknya bersama tim medis akan melakukan screening dan pemeriksaan lebih lanjut jika ditemukan adanya warga yang mengalami keluhan batuk dengan kondisi tubuh dan berat badan menurun, agar diketahui secara dini apakah warga tersebut terkena TBC atau tidak.
Dijelaskannya, dari target penemuan kasus yang diberikan oleh pemerintah pusat tersebut, Dinas Kesehatan Karangasem setiap tahunnya hanya berhasil menemukan rata-rata sebanyak 300 hingga 400 kasus positif TBC baru, dimana tahun 2024 ditemukan 349 kasus positif, tahun 2025 sebanyak 364 kasus positif dan tahun 2026 hingga Bulan Mei sebanyak 108 kasus positif TBC. Sementara jumlah terduga atau suspec kasus TBC di Tahun 2024 sebanyak 1.423 kasus, 2025 sebanyak 2.420 kasus dan 2026 berjalan sebanyak 881 kasus, sedangkan dari laporan yang diterima media ini, sejumlah pasien TBC juga tengah mendapatkan perawatan di ruang khusus di RSUD Karangasem.
Penyakit TBC sendiri menyebar dari orang ke orang melalui udara, Bakteri Mycobacterium Tuberculosis akan berpindah ketika penderita TBC aktif melepaskan percikan lendir, dahak atau Droplet ke lingkungan sekitar, utamanya saat penderita TBC aktif tersebut melakukan batuk atau bersin, berbicara, mengobrol atau berteriak yang kemudian udara terkontaminasi dari penderita TBC aktif tersebut dihirup oleh orang di sekitar. Penularan lebih mudah terjadi dalam kondisi kontak erat yang berlangsung lama dengan penderita serta ruangan tertutup dengan ventilasi udara yang buruk.