Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Gadget dan Pisau

Bali Tribune

Oleh: Suryadi*)

 

Terharu  tapi kemudian harus mengurut dada menahan rasa perihatin mendalam. Ini terjadi dalam tiga peristiwa terpisah.

Terharu ketika membaca berita bahagia Aiptu Sujadi dianugerahi penghargaan oleh pimpinannya, Kapolres Kediri. Dua hari sebelumnya video Sujadi viral di media sosial. Ia  menyelamatkan satu keluarga, ibu dan dua anak usia tiga dan lima tahun, dari banjir besar  yang nyaris menghanyutkan mereka. Lokasi tepatnya, sisi jalan tol Ngawi – Kertosono, Jatim.

Perihatin mendalam pada satu grup whatsapp (WA) orang-orang berpendidikan tinggi karena seorang anggotanya membagikan foto, yang menggambarkan sekelompok ibu-ibu berpakaian muslimah membentangkan poster mini bergambar calon presiden (capres) 01.   Sedikit di depan ibu-ibu tadi, berdiri dua orang anggota Polri. “Apakah seperti ini demokrasi?? Polisi ikut jadi Jurkam 01??”,  tulis si angota berinisial E.  

‘Posting’ atau ‘share’ serupa itu sudah berkali-kali dilakukan E (-) di sepanjang tahun politik 2018 – 2019. Mendekati pemungutan Suara Pilpres – Pileg 17 April 2019, kian panas dan seru. Salah seorang admin (+) mengingatkan agar cek-recek sebelum men-share. Terjadilah dialog:

+ Apakah benar begitu?

- Saya hanya men-share dari sebelah.

+ Kalo begitu, ayo kita cari kebenarannya (bukan mengadu) ke KPU, Mabes Polri, atau ke Badan Sandi Negara (BSN).

E tak merespons. Seorang anggota grup WA yang lainnya (I) serta-merta menyanggah mentah-mentah. Berlagak netral, I komentar, “Kita di sini untuk berdiskusi mencari kebenaran, bukan untuk menang-menangan. Jadi, apa pun boleh di-share.” Memang, I ‘setali tiga uang’ dengan E. I dan E selalu ‘gayung bersambut’ melihat keburukan siapa pun anggota grup yang beda dengannya. Apalagi kepada yang memposting atau menshare kebaikan Capres 01 atau Pemerintah. Ujung-ujungnya, si admin mengeluarkan E dari grup.

Juga memrihatinkan, kejadian 10 Agustus 2018 bertepatan dengan hari terakhir pendaftaran pasangan Capres-Cawapres ke KPU. Menteri Keuangan Srimulyani (Ani) dan Pulau Bali jadi sasaran fitnah akun facebook Sandy Yah. Ani seolah-olah menyatakan, “Jika rakyat mengizinkan, Pulau Bali kita jual untuk bayar utang.” Sebelum  dihapus (tetap bisa dilacak), dalam sekejap tercatat 4.200 kali dibagikan, 200 komentator mengomentari, dan ditanggapi lebih dari 300 penanggap. Ani sudah membantah keras. Dan Pulau Bali tetap dalam pelukan NKRI.

Hoax dan Sikap

Tiga cerita di atas adalah ‘true story’. Soal vonis bahwa Capres 01 atau Pemerintah pasti buruk, banyak beredar di grup-grup WA dan medsos. Isinya, dari tuduhan PKI sampai yang mengecam bahwa kerja-kerja Pemerintah kini hanya membengkakkan utang yang melilit setiap kelahiran anak WNI, sampai  Indonesia  bubar pada 2030. Luar biasa berani, tak jauh beda dengan acara ‘talk show’ di satu televisi swasta yang berlindung di balik ‘cover both side’.

Sejak pertengahan 2015, tulis Budi dan Barito (2018:1), proliferasi dan penyebaran  berita bohong atau hoaks (hoax), berita palsu (fake news), dan ujaran kebencian (hate speech)  semakin meningkat di Indonesia, khususnya melalui situs internet dan medsos. Fenomena semacam ini selalu muncul di tengah suhu politik yang memanas,  misalnya jelang Pilkada, Pileg atau Pilpres. Ini juga riil ditemukaan sekarang saat jelang Pilpres diserentakkan dengan Pileg.

Saya tidak ingin berdefinisi tentang ‘hoax’, ‘fake news’ dan ‘hate speech’. Saya melihatnya masing-masing bisa berdiri sendiri-sendiri, tapi bisa pula yang satu menghasilkan produk baru yang positif atau negatifnya tergantung pada sedewasa apa perespons di medsos atau grup-grup WA. Bisa saja hoax atau fake news justru menimbulkan kebencian. Kemudian, dilebih-lebihkan hingga lahir kebohongan baru. Terakhir rentetan itu melahirkan hate speech sehingga pantas dikhawatirkan akan tercipta iklim saling benci, memecah-belah masyarakat. Kemudian, ini dimatangkan oleh kedangkalan memahami demokrasi ketika berada dalam realitas beda pilihan.    

Sekarang makin sering terdengar politisi memuji-muji, “Rakyat sudah cerdas, tidak bisa lagi dibohong-bohongi.” Benarkah? Penduduk Indonesia saat ini lebih kurang 260 juta jiwa. Tiap tahun kita saksikan baik perguruan tinggi negeri maupun swasta melepas ribuan lulusan D1, D3, S1, dan S2. Jumlah doktor sekitar 31.000 termasuk di antaranya 5.400 lebih guru besar. Mereka bertebaran di berbagai profesi termasuk  guru, dosen, politisi di Parlemen dan birokrasi/ pemerintahan, BUMN/D, dan swasta.

Jika level pendidikan formal dijadikan ukuran, lumayan menggembirakan. Sebab, andai mereka hidup di tengah-tengah masyarakat dan berperan sebagaimana guru dan dosen di kelas, berarti rasionya 1 : 20 sampai 30 orang. Tapi, segera dikejar pertanyaan, “Apa beda sarjana dengan tidak sarjana?” Amat sulit mengonfirmasi kebenaran pujian politisi bahwa rakyat sekarang sudah pada cerdas. Kecerdasan di antara mereka sendiri bisa dilihat ketika bermedsos-ria seperti di grup WA dan facebook tadi.

Cerdas dapat diartikan ‘sempurna akal budinya untuk berpikir, mengerti…’ atau ‘tajam pikiran’. Tak terbayangkan masih ada orang berpendidikan tinggi, mau menshare di medsos hal-hal yang kemanfaatannya patut disangsikan bagi kemaslahatan antarmanusia.

Hendaklah bertanya pada hati-nurani, agar tak sia-sia berdiskusi. Jika sudah telanjang bisa dipahami sebagai hoax, fake news, hate speech, langsung basmi saja. jangan tunggangi dengan kepentingan. Sekurangnya jangan share-viralkan di medsos. Makin jelas saja siapa kita ketika tak mau memahami sesuatu yang amat telanjang seperti yang menimpa Ani, Bali, dan grup WA tadi.

Budaya tulis sering disejajarkan dengan bekerjanya nalar. Konon, sejak lama bangsa ini asyik masuk berlisan-ria. Sejarah bangsa ini pun, baru menjadi jelas setelah digali dari perpustakaan di negeri orang semisal di Belanda, Amerika, dan Inggris. Nalar tak bekerja, hati pun tak dijadikan tempat mengadu. Setiap saat, nyinyir seketika mewujud ke ujung jari terfasilitasi gadget --produk canggih berciri supercepat berkat kemajuan TI.

Kawan, pisau di  tangan ibu-ibu menjadi pembersih ikan untuk dimasak jadi lauk. Tapi, di tangan penjahat, pisau menjadi alat pembunuh. Bagaimana dengan gadget dan nalarmu?**

*) Penulis adalah pengamat sosial politik. Tinggal di Depok, Jawa Barat.

wartawan
habit
Category

Soroti Potensi Galian C dan Piutang Rp 123 Miliar, DPRD Buleleng Minta Bapenda Realistis Kejar PAD

balitribune.co.id | Singaraja - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng, Ketut Ngurah Arya, menyoroti sikap pesimistis Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Buleleng terkait capaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD). DPRD mendesak agar penyusunan target PAD dilakukan secara realistis, terukur, serta dibarengi dengan strategi eksekusi yang jelas di lapangan.

Baca Selengkapnya icon click

Komisi II DPRD Bali Gelar Rapat Koordinasi UMP 2027

balitribune.co.id | Denpasar - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah instansi pemerintah, organisasi pengusaha, serta asosiasi pariwisata dalam rangka menyerap aspirasi dan masukan terkait rencana upah minimum provinsi (UMP) Bali tahun 2027 dan upah minimum sektoral pariwisata tahun 2027 yang berlangsung di Kantor DPRD Provinsi Bali, Selasa (15/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

20 Jiwa Terdampak Ledakan Petasan di Siulan Denpasar, Dinsos Salurkan Bantuan Logistik

balitribune.co.id | Denpasar - Kebakaran hebat melanda kawasan Jalan Siulan, Gang Nusa Indah, Denpasar Timur, pada Selasa (15/9/2026) sore. Peristiwa yang dipicu oleh ratusan kembang api milik seorang warga tersebut memicu rentetan ledakan hingga api merembet ke pemukiman dan bengkel di sekitarnya. Hingga saat ini, titik pemicu awal kebakaran masih dipasang garis polisi (police line).

Baca Selengkapnya icon click

Bandara Ngurah Rai Gelar Airport Emergency Exercise, Penumpang Diminta Tidak Panik

balitribune.co.id | Mangupura - "Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer di dunia. Sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan di Pulau Bali, kami berkomitmen untuk senantiasa memastikan aspek keamanan dan keselamatan operasional penerbangan dan kebandarudaraan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selalu terjaga.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Diakui Atas Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat, Kawasan Pariwisata Raih BTA 2026

balitribune.co.id | Mangupura - Sebagai kawasan pariwisata yang mengintegrasikan kualitas destinasi dengan prinsip keberlanjutan dan penciptaan manfaat bagi masyarakat, kawasan pariwisata Nusa Dua mendapat Pengakuan melalui Bali Tourism Awards (BTA) 2026.

Baca Selengkapnya icon click

Memasuki Masa Tenang, Baliho Calon Perbekel di Kemenuh Ditertibkan

balitribune.co.id | Gianyar - Sejumlah baliho calon perbekel masih ditemukan terpasang meski sudah memasuki masa tenang Pemilihan Perbekel (Pilkel) Serentak 2026. Menanggapi hal tersebut, Panitia Pilkel Desa Kemenuh bersama kepolisian menertibkan atribut kampanye tersebut di wilayah Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Rabu (16/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.