Diposting : 6 May 2019 16:15
Drs. Putu Suasta. MA - Bali Tribune
Bali Tribune/ Drs. Putu Suasta. MA
balitribune.co.id | Denpasar - BELAKANGAN ini Bahasa Bali kembali menjadi pusat perhatian di Bali. Ada sejumlah pertimbangan kultural yang menjadi latar belakang fenomena itu. Di antaranya kekhawatiran akan mengikisnya Bahasa Bali di kalangan pengusung dan penuturnya, yakni masyarakat Bali itu sendiri. Bukan tak mungkin pula Bahasa Bali akan punah sama sekali.
 
Punahnya suatu bahasa bukan hal baru dalam sejarah. Seiring dengan punahnya suatu kebudayaan maka punah pula bahasanya. Dunia belajar dari lenyapnya kebudayaan suku Maya, Inca, Aztek sebagai contoh. Mereka hanya meninggalkan jejak-jejak benda purbakala. Dunia tak tahu persis seperti apa bahasa-bahasa mereka. Yang bisa ditandai ialah bahwa suku-suku tersebut pernah memiliki suatu kebudayaan yang cukup tinggi di zamannya berdasarkan sedikit peninggalan yang ada.
 
Bahkan di Indonesia pun memiliki ‘nasib’ serupa dengan peristiwa punahnya bahasa-bahasa sejumlah suku di Indonesia. Menurut catatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), sampai Oktober 2017, bahasa daerah yang telah diidentifikasi  dan divalidasi 652 bahasa dari 2.452 pengamatan. Dengan jumlah itu, Indonesia merupakan negara dengan bahasa daerah terbanyak nomor dua di dunia setelah Papua Nugini. 
 
Disebut dalam data BPS pada 2011 tentang profil bahasa daerah, 79,5 persen penduduk masih berkomunikasi sehari-hari di rumah tangga dengan menggunakan bahasa daerah. Dari tahun 2011 sampai 2017, dari 652 bahasa daerah  yang telah didokumentasikan dan dipetakan, baru 71 bahasa daerah yang telah dipetakan vitalitasnya. Dari data tersebut, 19 bahasa daerah terancam punah, 2 bahasa daerah kritis dan 11 bahasa daerah sudah punah! (Liputan 6, Badan Bahasa: 11 Bahasa Daerah Punah, 19 Terancam Punah, dan 2 Kritis, 21 Feb 2018). Catatan Badan Bahasa itu mengindikasikan bahwa sebanyak kita memiliki bahasa daerah (bahasa ibu) namun sebanyak itu terancam kepunahan. UNESCO bahkan memastikan dengan lebih sengit lagi  bahwa bahasa daerah di Indonesia punah setiap 15 hari sekali! 
 
Bersyukur bahwa Bahasa Bali adalah bahasa daerah yang termasuk terdokumentasi dan tervalidasi. Maka segera kita mengerti mengapa Bahasa Bali diberi perhatian besar belakangan ini oleh sejumlah pihak. Kesadaran itu mula-mula tergerak oleh orang per orang (pesastra Bali, peminat bahasa Bali, pemerhati sosial budaya). Gerakan yang mencuatkan Bahasa Bali dan sangat fenomenal dilakukan oleh para musisi dan penyanyi pop Bali. Bahasa Bali kemudian menjadi dikenal melalui lagu-lagu pop Bali yang diperdengarkan di radio, televisi lokal dan panggung-panggung hiburan di Bali. Meski lirik lagu berbahasa Bali bersifat lucu-lucuan dan cenderung porno, namun Bahasa Bali mendapatkan kembali penyegarannya. 
 
Tak kalah bergiat adalah para pesastra Bali. Yang menggembirakan ialah munculnya para remaja dan pemuda yang dengan kesadaran sendiri menggalakkan karya-karya sastra berbahasa Bali seperti cerita pendek, puisi bahkan novel. Tak sedikit di antara mereka mendapatkan Penghargaan Rancage, suatu penghargaan tertinggi dalam karya sastra berbahasa Sunda, Jawa dan  Bali. Mereka yang mendapatkan Penghargaan Rancage ini di antaranya: Made Sugianto, I Gede Agus Darma Putra, Ida Bagus Wayan Keniten, I Made Suarsa, Nyoman Manda, I made Suatjana, I Nyoman Tusthi Eddy, I Nengah Tinggen dan beberapa lagi yang lain.  Hingga kini para pesastra berbahasa Bali itu masih produktif. Apalagi dua media di Bali seperti Bali Post dan Pos Bali menyediakan halamannya khusus untuk karya tulis berbahasa Bali. 
 
Kemudian beralih kepada kelompok-kelompok yang concern kepada Bahasa Bali, misalnya sejumlah orang membuat situs web seperti basabali.org., penyusunan buku-buku kamus berbahasa Bali, penerbitan buku berbahasa Bali.  Sampai kemudian akhirnya Gubernur Bali I Wayan Koster mengerluarkan Peraturan Gubernur No. 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali dan Peraturan Gubernur Bali No. 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
 
Menjadi awal momentum penting adalah dengan ditetapkannya acara tahunan Bulan Bahasa Bali. implementasi dari program itu telah dilaksanakan untuk pertama kalinya pada bulan Februari 2019. Segala acara yang mendukung dan mengarah pada kelestarian Bahasa Bali seperti lomba, pameran, pertunjukan, seminar dan lain sebagainya dituangkan di sini. Segala lapisan masyarakat dan institusi adat seperti banjar, desa dan sekeha dilibatkan di seluruh Bali. dalam Bulan Bahasa Bali ini, bukan saja sekadar perayaan tentang berbahasa Bali, namun juga upaya pemeriksaan dan pengembangan Bahasa Bali harus menjadi lebih baik ke depannya dan lestari.
 
Gerakan budaya dalam bidang memvitalisasi bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari mendapat sambutan dari berbagai kalangan. Implementasi Pergub Bali tentang Bahasa Bali itu  pun telah terlihat setidaknya diawali dari kalangan instansi di bawah Gubernur Bali dengan mewajibkan menggunakan aksara Bali di bawah nama-nama instansi negeri. Beberapa nama jalan pun muncul kesadaran untuk menerakan akasa Bali selain berdampingan dengan aksara Latin. Juga nama-nama sekolah, tapal batas desa dan banjar-banjar. Meski belum menyeluruh, namun dalam sejumlah perilaku sosial keadatan di Bali, bahasa Bali hampir menjadi ‘bahasa utama’ dalam komunikasi verbal, seperti misalnya dalam sangkepan (rapat) desa, melamar pengantin, penyampaian pengumuman saat upacara. 
 
Gerakan kesadaran menjaga kelangsungan Bahasa Bali makin diperkuat lagi dengan memanfaatkan ranah internet. Sebuah peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 4 Mei 2019, di Yayasan Dwijendra Denpasar, adalah momentum yang menandai peluncuran situs web Bahasa Bali yang bernama BASAbali Wiki serta peluncuran tokoh komik prawireng putri Bali bernama Luh Ayu Manik Mas. BASAbali Wiki adalah situs web yang merupakan kombinasi kamus referensi, ensiklopedia dan perpustakaan virtual dalam tiga bahasa (Bali, Indonesia, Inggris) yang bisa diakses dan disunting oleh masyarakat. 
 
Penghadiran tokoh komik superhero Luh Ayu Manik Mas lebih menyasar kepada para remaja Bali. Langkah ini tepat karena para remaja Bali sebagai penerus pengusung dan penutur Bahasa Bali harus diberikan semacam representasi dirinya ke dalam suatu tokoh dalam dunianya sehingga sasaran yang diinginkan, yakni pewarisan Bahasa Bali, dapat berlangsung lebih melekat. Bagaimana pun, generasi mudalah sandaran masa depan untuk membawa dan mengajegkan bahasa ibu mereka. 
 
Sebagai kamus, kata-kata berbahasa Bali yang dimuat dalam BASAbali Wiki diberikan definisinya dan diaplikasikan, antara lain dalam bentuk contoh kalimat, video pengucapan dan ilustrasi. Di bagian perpustakaan virtualnya BASAbali Wiki memuat karya-karya berbahasa Bali, cerita untuk anak-anak, sosok-sosok berpengaruh dan hal-hal lain yang terkait dengan bahasa serta budaya Bali. Situs web BASAbali Wiki sendiri dirintis sejak 2014 melalui portal bernama basabali.org.
 
Keseriusan basabali.org. dalam melestarikan bahasa dan budaya Bali akhirnya membuahkan hasil. Situs web basabali.org. mendapatkan penghargaan internasional dari Linguapax, sebuah lembaga bentukan UNESCO yang berpusat di Spanyol. Penyerahan itu sendiri diserahkan langsung oleh Presiden Dewan Linguapax  pada, Sabtu, 1 Desember 2018 di ARMA, Ubud, Gianyar. Penghargaan ini sebetulnya untuk perorangan. Namun karena suatu pertimbangan, basabali.org. akhirnya mendapatkan juga penghargaan prestisius internasional ini. “Biasanya penghargaan diberikan kepada pakar atau ahli bahasa, tapi tahun ini diberikan kepada komunitas yang melestarikan bahasa lokal (Bali),” kata pendiri BASAbali Wiki Teams Alissa Stern yang mengelola situs itu. Alissa menyebut bahwa Bahasa Bali adalah salah satu dari sekitar 7.000 bahasa daerah di dunia dan satu dari sekitar 652 bahasa daerah di Indonesia yang telah berhasil diidentifikasi dan divalidasi. 
 
BALI bukan sekadar turisme. Ia lebih jauh dari itu. Bali adalah representasi dari keseluruhan yang disebut kebudayaan. Dan seluruh yang mengusung kebudayaan ini bergerak dinamis; person, nilai dan produknya. Ada beberapa aspek yang membuat kebudayaan Bali menemukan progresivitas yang tiada henti. Sebagian tersimpan dalam histori, sebagian lain tersimpan dalam teks dan bahasa lokalnya. 
 
Jika kemudian sebagian beranggapan bahwa kebudayaan Bali termuat dalam bahasanya, itu masuk akal. Ini barangkali terindikasi dari salah satu definisi kebudayaan ialah bahasa. Tak jauh juga dari pepatah Melayu; bahasa menunjukkan bangsa. Dan bagaimana mungkin orang Bali menunjukkan kebudayaannya ketika bahasa ibu mereka yang menyimpan berbagai kearifan lenyap? Maka, pelestarian Bahasa Bali sesungguhnya bukan saja mengusung keajegan Bahasa Bali, namun juga menggali ‘kekayaan’ yang lain, yakni bahasa yang menyimpan beragam nilai, pengetahuan, filsafat dan kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga.
 
Karena bahasa ialah sumber pengetahuan. bahasa-bahasa yang tak aktif lagi penggunaannya menyimpan pengetahuan. Betapa banyaknya ilmu pengetahuan yang belum tergali yang tersembunyi dalam bahasa Sanskerta, Latin, Sumeria dan sejumlah bahasa lain. Demikian pula, betapa banyak nilai pengetahuan kearifan, moral dan pengetahuan-pengetahuan praktis yang tersimpan dalam lontar, prasasti, atau ungkapan-ungkapan Bahasa Bali yang selama ini belum terpahami.
 
Secara antropologis, Bali adalah sebuah sejarah yang runtun, berkesinambungan dan pergerakan budayanya begitu dinamis. Dan secara kreatif, orang Bali adalah ‘manusia pembuat hal-hal baru’. Kekayaan intelektual orang Bali dalam seni, filsafat, bahasa dan perilaku telah terbukti dalam sejarah dan bahkan sampai hari ini. Dan pengekspresian itu sebagiannya terakumulasi melalui bahasa ibunya. Dengan kepemilikan sumber daya manusia ini, orang Bali pantas untuk merasa superior. Namun kembali lagi kepada nilai ‘ke dalam’ budaya mereka; kerendahhatian sebagai pegangan utama moral orang Bali.
 
Gerakan revitalisasi Bahasa Bali saat ini adalah momentum yang signifikan di tengah kepungan dan gempuran turisme Bali yang telah sempat melenakan orang-orang Bali. Kita telah cukup banyak kehilangan tanah sawah, mabok pada hedonisme modernitas, termanja oleh produk-produk zaman yang menjebak dan kelengahan untuk mengejar ketertinggalan. Kesadaran kebersamaan dalam upaya penyelamatan kebudayaan masih belum terlambat dilakukan dan masih sangat mungkin dikerjakan secara masif. 
 
Dan langkah ‘penyelamatan’ Bahasa Bali sebagai gerakan kultural adalah tindakan yang sangat tepat, bijak dan bermanfaat. Bahasa adalah lambang kehadiran entitas suatu suku bangsa. Bangsa-bangsa besar seperti Prancis, Inggris, Jepang, untuk menyebut beberapa, sangat membanggakan bahasa bangsanya. Mereka ingin sekali, terutama Prancis, mengukuhkan bahasanya menjadi salah satu bahasa dunia. Beberapa bahasa di luar bahasa Inggris, seperti Jepang, Mandarin dan Jerman pun kini banyak orang-orang mempelajarinya.
 
JIKA kebudayaan ialah seluruh ekspresi akal budi manusia, maka bahasa menjadi salah satu ‘pengantar’ dan pembawanya’ dalam relasi pergaulan umat manusia. Inilah mengapa Bahasa Bali harus terus dilanjutkan dalam peradaban Bali. Dengan penyadaran bahwa kebudayaan Bali demikian kompleks dan kaya, demikian agung dan dinamis, maka tak ada alasan apa pun bagi orang Bali untuk tidak melanjutkan dan mewarisi bahasa ibunya dari generasi ke generasi. Karena dalam Bahasa Bali bukan saja sebagai ekspresi jati diri manusia Bali, melainkan juga wahana menyimpan dan ‘mencatat’ kebudayaannya.