Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Isu Kebangsaan

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Itu sudah menjadi hukum besi sejarah. Hal baik yang tidak diorganisir akan dikalahkan oleh hal buruk yang diorganisir. Gagasan baik yang tidak diperjuangkan, digaungkan, disosialisasi bisa dikalahkan oleh gagasan buruk yang dimarketingkan secara efektif. Dalam aneka riset akademis mengenai transisi demokrasi, ada yang disebut variabel elit. Sebuah negara berubah menuju sistem demokrasi, lalu stabil di sana, tak hanya disebabkan oleh variabel makro. Tak hanya pertumbuhan ekonomi, atau menaiknya level pendidikan, misalnya, yang menyebabkan transisi demokrasi itu. Namun hadir pula para elit yang membuat situasi berbeda. Demokrasi juga membutuhkan kaum demokrat, mereka yang tak hanya percaya gagasan demokrasi. Disamping percaya, mereka juga berjuang, menjadi petarung gagasan, menjadi “tentara opini,” menjadi influencer mempengaruhi ruang publik. Berdasarkan riset LSI Denny JA, pendukung pro Pancasila menurun sekitar 10 persen dari 85,2% (2005) menjadi 75,3 % (2018). Banyak hal diperlukan untuk menaikkan pendukung Pancasila kembali. Satu yang penting adalah melahirkan sebanyak mungkin pejuang gagasan. Kita perlu menciptakan lagi dan lagi  juru bicara, “pendakwah,” dengan skill menulis, berdebat, fasih bertarung di social media membela gagasan. Agar perjuangan gagasan efektif, kita dapat mengadopsi prinsip umum marketing. Prinsip itu dimodifikasi karena yang akan kita populerkan bukan komoditi komersial tapi paham kepentingan publik. Prinsip umum marketing memperkenalkan P4: Product, Price, Place, Promotion. Komoditas komersil dapat dipasarkan dengan baik jika ia dikemas dengan (P1: Product) produk yang bagus, (P2: Price) harga bersaing, (P3: Place) dijual di lokasi strategis, dengan (P4: Promotion) promosi yang efektif. Untuk dunia gagasan, prinsip P4 itu dapat kita modifikasi.  P pertama adalah produk. Gagasan sebagi produk yang akan kita sosialisasi harus benar benar teruji dan relevan dengan zamannya. Dalam bagian pengantar, sudah saya tekankan, Pancasila harus ditafsir sesuai dengan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia. Itu tafsir yang sudah teruji. Belasan negara nasional yang kini paling membahagiakan rakyatnya, diukur dari World Happiness Index, yang juga sejahtera ekonomi, tumbuh ilmu pengetahuan, adalah negara demokrasi modern. Di negara itu hak asasi manusia dijunjung. Semua warga negara memiliki hak sosial yang setara. Kitapun pernah mengalami buruknya situasi jika Pancasila ditafsir dengan perspektif lain di luar prinsip demokrasi modern dan hak asasi. Misalnya di era Orde Lama, Pancasila menjadi Demokrasi Terpimpin yang mengangkat presiden seumur hidup. Di era Orde Baru terjadi hal lain namun sama tak sejalan dengan prinsip demokrasi modern. Militer yang pegang senjata juga diberikan peran politik. Yang kemudian berkembang bukan Republic of Hope, tapi Republic of Fear. Kini Pancasila agar survive dan tumbuh sesuai dengan spirit zaman Now, ia harus ditafsir dengan prinsip demokrasi modern dan hak asasi manusia. Tak perlu lagi kita berkesperimen dengan sistem lain. Resiko sosialnya terlalu mahal. P kedua adalah Price. Tapi harga untuk kasus gagasan bukanlah rupiah komersial yang dibandrol.  Price dalam kasus ini adalah harga sosial atau harga psikologis yang harus dibayar atau dinikmati mereka yang pro Pancasila. Para pejuang gagasan hanya sampai kepada tingkat militan jika ia menemukan mutiara di sana. Ada makna hidup yang ia rasakan ketika memperjuangkan sebuah gagasan. Ada semacam panggilan, identifikasi diri pada hal yang jauh lebih besar. Sosialisasi gagasan Pancasila tak boleh menjelma menjadi doktrin. Ia sepenuhnya harus rasional, terbuka untuk diskusi, menjelaskan hal ihwal, sehingga memberikan makna dan keyakinan mendalam bagi warga yang meyakininya. P ketiga adalah Place. Dimana tempat paling efektif menyampaikan gagasan itu? Jawabnya dimana saja di ruang publik. Namun satu hal yang penting untuk diberikan perhatian khusus: dunia sosial media. Trend ke depan semakin nyata. Publik mencari informasi bahkan hiburan semakin lama semakin banyak lewat dunia internet. Inilah era “the internet of things.” Segala hal semakin digitalisasi. Bahkan para teroris juga berseru. Ujar mereka, menyebarkan gagasan terorisme lewat internet bisa lebih efektif dan tak bisa disensor jika dilakukan melalui sosial media, bukan lewat mesjid. Para petarung gagasan perlu juga fasih mengetahui tips agar mendapatkan pengaruh seluasnya di sosial media. P keempat adalah promotion. Ini era bahkan kebaikanpun perlu dipromosikan agar menular. Sebanyak mungkin harus dilahirkan para juru bicara, pendakwah, agen marketing bagi gagasan Indonesia yang damai, beragam dan bebas terorisme. Buku kecil ini dibuat dengan tujuan itu. Pada tahap pertama, kita perlu menciptakan 1000 juru bicara di 34 provinsi. Mereka adalah para aktivis, mubalik dan pendeta, penulis, jurnalis, seniman, selebrity, dunia kampus. Sebuah team nasional perlu dibentuk untuk memberikan pelatihan kepada 1000 juru bicara itu. Yang dilatih tak hanya kemampuan menulis, berdebat dan bertarung di social media. Yang lebih utama adalah pencerahan perlunya menumbuhkan kultur konstitusi. Konstitusi UUD 45 walau belum sempurna, sudah cukup mengakomodasi prinsip demokrasi modern dan hak asasi. Dalam kehidupan individual, kita boleh meyakini apapun. Namun ketika masuk ke dalam ruang publik, aturan konstitusi yang bersama kita hormati. Kita memang merindukan tumbuhnya pejuang gagasan yang terus beranak pianak. Generasi pertama 1000 juru bicara ini sedikit dimobilisasi. Namun selanjutnya mereka harus berkembang secara alamiah dan organik. Indonesia akan lebih maju jika semakin banyak yang berseru: Ayo bersama kita ciptakan Indonesia yang damai, beragam dan bebas terorisme.

wartawan
Mohammad S Gani
Category

Hingga Agustus 2026, Bandara Ngurah Rai Layani 15,5 Juta Penumpang 

balitribune.co.id | Mangupura - Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali mencatat pelayanan kepada 15,5 juta penumpang pada periode bulan Januari hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 10 juta penumpang rute internasional dan 5,5 juta penumpang domestik. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Truk Kontainer Terjun ke Dasar Sungai Yeh Bakung

balitribune.co.id | Tabanan - Sebuah truk kontainer berpelat L 9233 UX terjun ke dasar sungai usai banting setir demi menghindari mobil boks di Jembatan Yeh Bakung, Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat.

Insiden lalu lintas yang terjadi pada Rabu (30/9/2026) sekitar pukul 13.30 Wita tersebut mengakibatkan satu korban jiwa dan menyebabkan pengemudinya luka-luka.

Baca Selengkapnya icon click

Tiga Toko di Tabanan Terciduk Jual Rokok Tanpa Cukai

balitribune.co.id | Tabanan - Sebanyak tiga dari delapan toko kelontong di Kabupaten Tabanan kedapatan menjual rokok berbagai merek tanpa dilekati pita cukai resmi. Temuan rokok bodong tersebut terungkap saat tim gabungan dari Kantor Bea Cukai dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Tabanan menyisir kawasan pemukiman di Desa Bongan dan Desa Kediri, Rabu (30/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pemulangan Jenazah PMI dari Taiwan Tunggu Proses Investigasi

balitribune.co.id | Negara - Sampai saat ini belum ada kepastian mengenai jadwal pemulangan jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) I Made Pariana (49) yang meninggal dunia di Taiwan pada Sabtu (19/9/2026) lalu. Proses pemulangan jenazah masih menunggu penyelesaian proses investigasi oleh pihak berwenang setempat.

Baca Selengkapnya icon click

Estuary Dam Suwung Surut, PDAM Tirta Mangutama Terancam Krisis Air Baku

balitribune.co.id | Mangupura - Kemarau panjang mulai berdampak terhadap ketersediaan air baku untuk produksi air bersih di Kabupaten Badung. Kondisi tersebut terlihat dari menyusutnya muka air di Estuary Dam Suwung yang menjadi salah satu sumber bahan baku utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.