
balitribune.co.id | Amlapura - Di tengah meningkatnya harga beras di pasaran, sejumlah usaha penggilingan padi yang ada di Kabupaten Karangasem, justru kesulitan mendapatkan pasokan gabah dari petani. Lantaran pasokan gabah dari petani lokal di Karangasem yang terus berkurang, beberapa pemilik usaha penggilingan padi bahkan harus mencari gabah dari petani hingga ke Singaraja, Jembrana, dan Badung.
Bagus Adnyana, pemilik salah satu usaha penggilingan padi di Karangasem, kepada Bali Tribune mengakui minimnya paasokan gabah dari petani lokal di Karangasem. “Kalau gabah dari petani lokal disini di Karangasem, sangat sedikit untuk sekarang ini. Paling banyak sehari kami hanya mendapatkan sekitar 1 ton saja,” ujarnya.
Itulah alasannya dia dan pengusaha penggilingan padi yang ada di Karangasem harus berjuang untuk mendapatkan gabah, bahkan harus keluar Karangasem seperti ke Buleleng, Jembrana dan Badung. “Tadi saya ke Buleleng untuk mencari gabah. Kalau tidak begitu kita tidak bisa memenuhi kapasitas produksi ditengah tingginya permintaan beras lokal,” sebutnya.
Diakuinya, beras lokal produksi Karangasem paling banyak dicari oleh masyarakat utamanya oleh para pegawai dan koperasi. Selain harganya yang jauh lebih murah, kwalitas beras lokal kemasan produksi Karangasem mendekati beras premium, sehingga laris di pasaran. “Kami mulai dari memilih dan mencari gabah dengan kwalitas bagus, kemudian kita lakukan pengeringan, penggilingan hingga proses pengemasan beras. Kami memiliki merek sendiri,” lontarnya.
Untuk gabah, saat ini harga di tingkat petani juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari Rp. 5.300 menjadi Rp. 5.600 perkilo. Kenaikan harga gabah petani inilah juga yang menjadi pemicu terjadinya kenaikkan harga beras di pasaran. Berkurangnya pasokan gabah dari petani lokal juga membuat produksi beras produksi lokal juga berkurang padahal permintaan dari konsumen cukup tinggi.