Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Kemandirian Polri

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Kemarin, 1 Juli 2018, kita peringkati sebagai hari Bhayangkara. Hari ini, 72 tahun lalu, organ Kepolisian Republik Indonesia (Polri) resmi menjadi lembaga mandiri yang bertanggung jawab langsung kepada Perdana Menteri. Pada awalnya kepolisian berada dalam lingkungan Kementerian Dalam Negeri dengan nama Djawatan Kepolisian Negara yang hanya bertanggung jawab masalah administrasi. Masalah operasional kepolisian bertanggung jawab kepada Jaksa Agung. Tanggal 1 Juli 1946, keluarlah Penetapan Pemerintah tahun 1946 No. 11/S.D. Berdasarkan PP ini, Djawatan Kepolisian Negara pun mengalami peningkatan posisi yakni  bertanggung jawab langsung kepada Perdana Menteri. Memanfaatkan momentum hari Bhayangkara kali ini, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian melalui pesan videonya menegaskan,  Polri tetap menjadi Bhayangkara bagi negara Indonesia, demi tegaknya NKRI yang sejahtera, mandiri, dan berkadilan. Tentang posisi Polri ini, sudah sejak lama menjadi krusial. Dalam konfigurasi kekuasaan negara, kedudukan Polri termasuk cukup problematik. Fungsi penegakkan hukum yang diemban, harusnya memposisikan Polri sebagai lembaga independen. Dengan posisi independen, diharapkan Polri bisa menjunjung prinsip equality for the law. Problemnya adalah, Polri tidak bisa dilepaskan dari rumpun kekuasaan eksekutif karena bagaimanapun, lembaga eksekutif memiliki kepentingan untuk menegakkan hukum demi kelancaran pengelolaan negara. Satu hal lagi yang harus dihindari adalah bahwa jika posisi Polri independen, maka lembaga itu akan berpotensi menjadi super power mengingat tugas dan wewenangnya begitu luas; merentang melewati dua cabang kekuasaan negara yakni eksekutif dan yudikatif. Di banyak negara demokratis, posisi Polisi selalu berada dalam bentuk penyelenggara operasional; ditempatkan di bawah departemen terkait, membentuk departemen sendiri, atau membuat kementrian sendiri yang khusus mengurusi masalah keamanan dalam negeri. Namun setiap negara memiliki karakteristik dan kondisi keamanannya masing-masing sehingga format dan corak serta sistem Kepolisian di suatu negara juga berbeda. Yang terpenting dalam kedudukan Polri adalah bagaiman membangun paradigma tentang akuntabiltas pada substansi, bukan pada wadah. Posisi di manapun Polri akan terukur sejauh mana akuntabilitas Polri dapat dipertanggungjawabkan. Artinya peluang untuk tetap di posisi seperti sekarang asalkan sistem pengawasan yang aktif dapat terus dilakukan. Hanya saja, sampai saat ini masih terus berkembang opini yang mendorong Polri kembali masuk dan menjadi bagian Depdagri. Alasannya, biar posisi Polri  menjadi lebih tegas pada cabang kekuasaan eksekutif. Pendapat ini sebenarnya sengaja dimunculkan untuk mengkritisi Polri yang cenderung menjadi alat politik penguasa terutama dalam hal penegakan hukum. Konkritnya, Polri sering digunakan untuk menangkap lawan politik atau sekedar mengganggu tokoh-tokoh kritis yang diperhitungkan bisa mengganggu kekuasaan atau kelak menjadi pesaing terhadap penguasa dalam merebut kekuasaan. Fakta ini terbaca dengan sangat telanjang selama rezim Orde Baru hingga Orde Reformasi. Namun, pendapat ini dipatahkan dengan argumentasi bahwa tugas dan kewenangan sebagai penegak hukum akan lebih berbahaya jika Polri menjadi bagian dari Depdagri. Bahayanya adalah jika menegakkan hukum yang melibatkan pejabat eksekutif di tingkat kementerian saja, Polri tak dapat melakukannya lantaran posisinya yang subordinatif itu. Pendapat ini ada benarnya, namun dalam implementasi ya hingga kini, Polri masih menampilkan wajah yang tidak ideal. Sering, Polri dengan fungsi penegakan hukumnya, dimanfaatkan penguasa untuk memprotes hukum para penantang kaki tangan penguasa. Pada kasus sms Hary Tanoesoedibjo kepada pejabat kejaksaan misalnya. Harytanu diadukan oknum jaksa dengan dugaan melakukan ancaman. Bareskrim yang menerima pengaduan itu mulai prosesnya. Namun, proses hukum terhadap Harytanu cukup lama. Kasus ini akhirnya di-SP3. Hal yang mengejutkan,  kasus ini tuba-tiba dibuka kembali ketika Harytanu dan Partainya Perindo bergabung dengan koalisi Parpol koalisi dalam Pilkada DKI. Proses ulang kasus ini serius bahkan desus desus terdengar Harytanu segera ditahan. Tidak kurang akal, Harytanu lalu melakukan lobi ke tokoh-tokoh yang dekat dengan pemerintah. Beberapa hari kemudian, bos MNCGrup ini mengumumkan keluar dari kubu oposisi dan mengarahkan partainya bergabung dengan koalisi parpol pendukung pemerintah. Selanjutnya dapat ditebak, kasus Harytanu pun kemudian lenyap. Fakta lain yang paling anyar adalah kasus SP3 terhadap Habib Riziq Shihab (HRS) dalam berbagai sangkaan tindak pidana, termasuk kasus pornografi. Polisi bahkan memburu HRS yang ada di Saudi Arabia dengan berusaha bekerjasama dengan Interpol. Polisi yakin dengan segala fakta hukum yang ada padanya, HRS terlibat kasus pornografi. Ketika mendekati Pilpres dimana Presiden Jokowi sedang merekonsiliasi hubungan dengan ulama, mendadak SP3 kepada HRS terbit. Publik segera meyakini SP3 yang diterbitkan Polri ada kaitannya dengan permintaan Presiden. Ini hanya dua dari sekian fakta betapa Polri belum benar-benar mandiri sebagai Polisi negara. Ketidakmandirian ini tidak karena kesalahan Polri, tetapi kesalahan sistem. Mengapa? Polri adalah lembaga negara yang masuk dalam cabang kekuasaan eksekutif dan tunduk kepada Kepala Eksekutif (Presiden). Yang kita harapkan ke depan, Polri dalam fungsi sebagai penegak hukum, harus lepas kaitan struktural dengan Kepala Eksekutif. Posisi Polri mesti dikuatkan lagi dengan konstitusi negara khusus tentang fungsi penegakan hukum agar  tidak terganggu atau dimanfaatkan Penguasa. Untuk "mengamankan" Polri dari "gangguan" Penguasa dalam hubungan dengan penegakan hukum, maka kontrol DPR sangat diharapkan.

wartawan
Mohammad S. Gawi
Category

Belasan Ribu Pohon Perindang Kota Denpasar Diansurasikan

balitribune.co.id | Denpasar - Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar mengalokasikan anggaran sebesar Rp100 juta pada tahun 2026 untuk asuransi pohon perindang. Program ini mencakup 15.863 batang pohon yang tersebar di sepanjang jalan protokol di bawah pengelolaan DLHK Denpasar.

Baca Selengkapnya icon click

Pancasila sebagai Kompas Aksi, Bukan Sekadar Teks Suci

balitribune.co.id | Pendidikan Pancasila di sekolah masih sering dipandang sebagai pelajaran pelengkap dan kurang memiliki daya tarik dibandingkan mata pelajaran MIPA. Pembelajaran lebih sering menekankan pada hafalan, bersifat dogmatis dan miskin praktik reflektif. Akibatnya, murid hanya mengenal Pancasila sebagai rangkaian kalimat yang harus dihafal, bukan sebagai panduan moral dan dasar pengambilan keputusan dalam kehidupan nyata.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dukung Peluncuran All New Honda Vario 125, Honda Community Bali Gelar Vario Night Ride

balitribune.co.id | Denpasar – Dalam rangka mendukung kesuksesan peluncuran All New Honda Vario 125, Honda Community Bali (HCB) menggelar kegiatan bertajuk Vario Night Ride yang melibatkan sekitar 80 anggota komunitas Vario series di Bali pasa Selasa (27/1). Kegiatan ini diawali dengan city rolling menuju lokasi acara launching.

Baca Selengkapnya icon click

Lantik Direksi Perumda Pasar dan Pangan MGS Periode 2026–2031, Bupati Badung: Perumda MGS Harus Jadi Penopang Produksi dan Kesejahteraan Petani

balitribune.co.id | Mangupura - Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM) mengambil sumpah jabatan dan melantik Direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung periode 2026-2031, bertempat di Ruang Kriya Gosana, Puspem Badung, Selasa (27/1).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ketua Komisi III DPRD Badung Hadiri Pelantikan Direksi Perumda Pasar dan Pangan MGS

balitribune.co.id | Mangupura - Ketua Komisi III DPRD Badung, Ir. I Made Ponda Wirawan, ST., menghadiri acara Pelantikan Direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana untuk masa jabatan 2026-2031. Kompiang Gede Pasek Wedha dipercaya sebagai Direktur Utama, sedangkan I Made Anjol Wiguna ditetapkan menjabat Direktur Umum Perumda Pasar dan Pangan MGS Badung.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.