balitribune.co.id I Denpasar - Lonjakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah belum mampu mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali. Kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada meroketnya harga tiket pesawat akibat kenaikan drastis harga bahan bakar avtur.
Ketegangan geopolitik tersebut juga membuat banyak maskapai membatalkan jadwal penerbangan demi keamanan udara. Di sisi lain, situasi perang menyebabkan sejumlah wisatawan tertahan dan tidak bisa kembali ke negara asal karena masa berlaku visa wisata mereka habis.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Denpasar, Ida Bagus Gde Sidharta Putra, menjelaskan situasi pariwisata saat ini berada dalam posisi dualisme. Secara teori, penguatan dolar AS seharusnya menjadi daya tarik karena wisman mendapatkan biaya penginapan dan konsumsi yang lebih murah di Bali.
"Nilai uang mereka menjadi lebih tinggi sehingga bisa mendapatkan kamar dan makanan yang lebih murah. Namun, potensi ini terhambat konflik Timur Tengah yang melambungkan harga tiket pesawat. Belum lagi kepastian penerbangan yang terganggu faktor keamanan udara," ujar pria yang akrab disapa Gusde ini, Kamis (21/5/2026).
Dampak paling terasa dialami oleh pasar potensial asal Eropa yang menuju wilayah Denpasar, khususnya Sanur. Hingga kini, tingkat hunian (okupansi) kamar hotel di Sanur masih tertahan di angka 70 hingga 75 persen tanpa adanya lonjakan signifikan.
Selain menahan laju kunjungan, penguatan dolar AS ini justru membengkakkan biaya operasional (cost) sektor pariwisata domestik. Hal itu terjadi karena industri hotel dan restoran masih bergantung pada beberapa produk impor yang kini harganya melonjak tajam akibat pelemahan rupiah.