Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Krematorium sebuah Solusi atau Marginalkan Adat?

Bali Tribune / I Komang Warsa - Pendidik dan Bendesa Adat Alasnganang

balitribune.co.id | Bali adalah sebuah pulau kecil yang memiliki  keunikan dengan tradisi adat dan budaya yang sangat kental. Keunikan tradisi adat budaya yang begitu dihormati bahkan sudah menyatu dengan napas kehidupan masyarakat Hindu Bali. Tradisi yang teradatkan sebagai geokultur kosmologi Bali menjadikan adat di Bali salah satu benteng pemertahanan gama Bali sampai saat ini. Tempat suci (Pura) sebagai prahyangan, manusia Bali (pawongan) dan tanah Bali (palemahan) selalu menjadi bagian yang terkoneksi dengan desa adat di Bali dengan desa, kala, patra sebagai bentuk desa mawa cara dari 1493 desa adat yang ada. Ketiga baga tersebut merupakan satu kesatuan dalam desa adat.

Hindu dresta Bali lahir dari mem-Bali-kan Hindu dengan peradaban adat budaya bali yang adiluhung dan bukan sebaliknya, dari dan untuk meng-Hindu-kan Bali. Lontar-lontar yang dipadukan dengan ajaran ke-Hindu-an (Weda) menjadikan Hindu dresta Bali sebuah keyakinan  masyarakat asli Bali.  Dan akan menjadi sebuah riak-riak pergolakan jika keyakinan dan tradisi adat dipaksakan dimodernisasi seperti halnya krematorium yang melahirkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Hindu Bali. Berkenaan hal tersebut, pikiran jernih harus datang dari segala penjuru untuk menyikapi dengan positif dan bermakna.

Mengingat agama Hindu, adat dan budaya di Bali memang susah untuk dipisahkan apalagi sengaja diberikan sekat antara ritual adat, agama (Hindu) dan Budaya pasti menjadi prahara keyakinan. Ibaratnya agama, adat, dan budaya ibaratnya sebutir telur, kulit, putih telur dan kuning telur. Kuning telur adalah agamanya sedangkan kulit dan putih terlurnya adalah adat dan budayanya orang Bali.

Krematorium jika dirunut maknanya secara leksikal bermakna tempat membakar jenasah sehingga menjadi abu atau perabuan. Pertanyaannya apakah setiap orang Bali meninggal harus dibakar, tentu jawabanya adalah tidak. Literasi keyakinan dalam hal ini adalah krematorium dalam konteks Hindu dan dresta adat di Bali.  

Jika dikrematorium dalam makna umum tidak bisa dikatakan memarginalkan adat dan juga krematorium yang terkoneksi dengan desa adat juga tidak dikatagorikan memarginalkan adat. Krematorium adalah sebuah solusi bagi krama Bali yang beragama Hindu jika krematorium itu terkoneksi dengan adat, dan budaya Bali, tentu adat budaya yang juga terkoneksi dengan agama Hindu dresta Bali. Krematorium dalam konteks keyakinan Hindu pasti harus terkoneksi dengan adat karena desa adat mengempon Pura Khayangan tiga. Terkait dengan krematorium (pembakaran jenasah) dalam konteks Hindu adalah sebuah ritual upacara ada kaitannya dengan Pura Dalem Prajapati yang pasti masuk ikatan desa adat.

Jangan terlalu fobia dengan kata krematorium, jangan terlalu alergi dengan kata krematorium. Krematorium  jika hanya untuk membakar jenasah atau perabuan seperti mayat tanpa identitas di rumah sakit hal biasa. Sepanjang krematorium itu selalu terkoneksi dengan desa adat saat prosesi ngaben atau hanya sekadar mekinsan di geni (api) itupun bukan sebuah ancaman memarginalkan desa adat. Jika krematorium itu lepas dengan adat dan lepas dengan banjar suka duka merupakan satu ancaman bagi desa adat dan bagian dari pemarginalan desa adat. Agar krematorium menjadi sebuah solusi untuk masyarakat Hindu harus dikonekkan dengan desa adat sehingga keduanya saling menguatkan dan memudahkan.

Paket Dewa Hyang melalui jalur kremasi sebagai tren yang begitu praktis dan memudahkan menjadi satu pilihan, apakah karena simpel atau karena tidak ingin terikat oleh adat atau banjar suka duka, itu menjadi suatu pilihan? Pilihan ini jelas menjadi kontemplasi bagi orang Bali yang beragama Hindu Bali.

Pertanyaan besar, jika semua berpikiran praktis dan simpel abai dengan adat dan banjar suka duka siapa yang mengajegkan adat dan tradisi Bali, tentu tidak bisa dijawab secara personal. Fenomena ini yang membuat kerisauan beberapa orang bahwa krematorium merupakan kemajuan yang mempermudah tetapi ancaman bagi desa adat, tentu tidak bisa disalahkan juga.

Kemajuan yang merapuhkan adat yang perlu diantisipasi agar adat dan budaya Bali menjadi ajeg. Jangan karena berkarier di luar desa adat lupa dan abai dengan desa adat dan banjar suka duka sebagai marwah orang Bali. Solusinya, desa adat juga harus fleksibel lewat istilah “lelagaan” atau membeli ayahan sehingga orang Bali yang berkarier di luar desa adat tidak harus meninggalkan adatnya. Sehingga dengan alasan tidak bisa tinggal di desa adat  atau ngayahang desa, krematorium menjadi pilihan tanpa minta izin atau tidak mengkoneksikan diri dengan adat.

Hal ini harus mendapat perhatian dan pengertian dari krama adat dan desa adat setempat. Alangkah baiknya jika masing-masing desa adat mengelola krematorium untuk membantu krama desa jika ingin melakukan upacara pembakaran mayat (ngaben atau sekadar mekinsan di geni) sehingga tidak putus dengan tradisi gotong royong di adat. Fenomena krematorium bukan sebuah ancaman jika desa adat merangkul krama dan krematorium dilaksanakan atas seijin dari desa adat asal krama yang memanfaatkan jasa krematorium..

Krematorium ditempuh pasti ada beberapa penyebab dan tujuan, tidak perlu saling menyalahkan dan semua pasti ada jalan keluar. Jika adat yang kaku mari lenturkan sehingga semua berjalan seiring sejalan, paras paros. Adat harus fleksibel tapi jangan terlalu berpikir fleksibel yang berakibat merapuhkan adat dan tradisi budaya Bali yang disebut gotong royong, menyama braya..

Mari luruskan dan pertahankan adat Bali yang sudah dibalut dengan kekuatan keyakinan Hindu Bali sebagai spirit mempertebal rasa dan moderasi beragama kita. Jangan alergi dengan kata krematorium tetapi jangan juga krematorium melumpuhkan kesatuan adat Bali yang adiluhung yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Melumpuhkan, menistakan, atau mendebat adat demi modernisasi bagian dari perongrongan tanah dan dresta Bali. Berpikir mendunia tapi jangan tatanan adat budaya diubah hanya karena ingin dicap orang hebat sampai adat didebat yang menyebabkan Bali hanya tinggal nama dan tradisi adat menjadi tersumbat.

Pikiran yang tidak pernah tergoyahkan merupakan kesaktian paling puncak dalam tatanan kesatuan hidup manusia Bali “ika darma dening idep pageh nerus” dan apabila orang sampai ke pucak kesaktian dengan pengendalian pikiran yang patut dipertahankan maka semua musuh menjadi sahabat “saluiring satrunta pada bakti ring awakta” meluruskan yang bengkok, mengingatkan yang lupa dan menyadarkan yang keliru “amutter tutur pinahayu” memutar cakra kesadaran menjadi ingat “atutur” dari kelelapan tidur “aturu.”

wartawan
I Komang Warsa
Category

Kadisnaker Ingatkan Perusahaan, THR 2026 Wajib Dibayar Penuh

balitribune.co.id I Gianyar - Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gianyar I Gede Suardana Putra secara tegas menginstruksikan seluruh perusahaan di wilayah Kabupaten Gianyar untuk mematuhi Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan.

Baca Selengkapnya icon click

Badung Saka Fest 2026 Bergelimang Hadiah, Juara Pertama Dijanjikan Bonus Rp 500 Juta

balitribune.co.id I Mangupura - Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menyiapkan tambahan bonus hibah dengan nilai fantastis bagi para pemenang lomba ogoh-ogoh dalam ajang Badung Caka Fest 2026. Juara pertama dalam kompetisi bergengsi ini dijanjikan bakal menerima tambahan hibah sebesar Rp500 juta.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ramadan Bareng TRING!, Pegadaian Kanwil Denpasar Serahkan Hadiah Emas 124 Gram hingga Paket Umrah

balitribune.co.id | Denpasar - PT Pegadaian Kantor Wilayah Denpasar menyerahkan berbagai hadiah menarik kepada nasabah dalam rangkaian program Undian Badai Emas Pegadaian yang menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun Pegadaian ke-124. Penyerahan hadiah tersebut dirangkaikan dengan kegiatan Ramadan Bareng TRING! yang digelar sebagai upaya mendekatkan layanan Pegadaian kepada masyarakat sekaligus menyemarakkan bulan suci Ramadan.

Baca Selengkapnya icon click

Pesangkepan Agung Pecalang Kesiman Walikota Jaya Negara Tekankan Penguatan Kasukertan Krama

balitribune.co.id | Denpasar - Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Pesangkepan Agung Pecalang yang dirangkaikan dengan Sosialisasi Kasukertan Krama di Wantilan Pura Agung Petilan, Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur, Minggu (8/3/2026). Kegiatan ini menjadi wadah konsolidasi pecalang dalam memperkuat peran menjaga keamanan dan ketertiban berbasis adat di wilayah Desa Adat Kesiman.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ribuan Warga Padati Puspem Badung, Badung Caka Fest 2026 Berjalan Kondusif

balitribune.co.id | ​Mangupura - Gelaran Badung Caka Fest 2026 yang berlangsung di kawasan Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, sukses menyedot perhatian ribuan warga. Selama tiga hari pelaksanaan, 6–8 Maret 2026, masyarakat dari berbagai penjuru Bali memadati lokasi untuk menyaksikan penampilan 21 ogoh-ogoh terbaik hasil seleksi ketat di tingkat zona.

Baca Selengkapnya icon click

​Badung Gencarkan Aksi Serentak Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Seluruh Desa ​

balitribune.co.id | Mangupura - Pemerintah Kabupaten Badung resmi memulai Aksi Percepatan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) secara serentak di seluruh desa dan kelurahan. Program strategis ini dicanangkan langsung oleh Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, di Banjar Tegal Permai, Desa Dalung, Kuta Utara, Minggu (8/3/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.