Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Kunjungi Pengerajin Gamelan, Koster Tegaskan Perlunya Hak Paten, Bakal Fasilitasi Pemodalan, Akses Bahan Baku, dan Pemasaran

kerajinan
KUNJUNGAN - Mengunjungi sentra industri kerajinan gamelan di Jalan Raya Gong Gede, Banjar Tihingan, Desa Tihingan, Kabupaten Klungkung, Calon Gubernur nomor urut 1, Wayan Koster, melihat langsung proses pembuatan gamelan yang menjadi kebutuhan sarana upacara umat Hindu di Bali.

BALI TRIBUNE - Calon Gubernur nomor urut 1, Wayan Koster, mengunjungi sentra industri kerajinan gamelan di Jalan Raya Gong Gede, Banjar Tihingan, Desa Tihingan, Kabupaten Klungkung. Koster melihat langsung proses pembuatan gamelan yang menjadi kebutuhan sarana upacara umat Hindu Bali itu. Pada kesempatan itu, Koster mendapat keluhan dari para pengrajin. Salah satunya datang dari I Gede Suandiasa pemilik Tari Gong.

Ia memaparkan modal yang dirogohnya untuk mendirikan usaha kerajinan gamelan. Dana sebesar Rp 1 miliar ia dapat dari pinjaman di LPD dan Bank BRI. “Belum ada bantuan modal dari pemerintah. Kalaupun ada baru sebatas peralatan untuk pekerja seperti masker. Untuk menghasilkan seperangkat gamelan membutuhkan waktu minimal tiga bulan. Keuntungannya Rp 15 juta kotor. Bersihnya Rp5 juta. Untuk modal Rp300 juta,” kata Suandiasa, Kamis (8/3).

Di sisi lain, ia memaparkan, jika kerajinan gamelan di desa ini dulunya seringkali dikunjungi oleh wisatawan, karena menjadi desa wisata. Namun sejak beberapa waktu belakangan tak ada satu pun turis yang singgah. Mendengar keluhan itu, Koster mengaku sengaja berkunjung ke sentra kerajinan gamelan untuk melihat secara langsung proses pembuatannya. Sebab, salah satu program unggulan Koster bersama Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati adalah penguatan desa adat.

Perhatian lebih kepada pengrajin gamelan di mata Koster merupakan bagian dari melestarikan seni, adat istiadat dan budaya Bali. “Ke depan memang program yang diprioritaskan yakni di bidang adat, agama, seni dan budaya. Artinya, desa adat yang ada di Bali ini semuanya harus punya gamelan. Itu kan kita harus lihat produksinya,” jelas Koster. Ke depan, ia ingin agar home industry seperti ini bisa lebih berkembang.

Untuk itu, pemda harus hadir memberikan dukungan baik dari sisi permodalan, akses untuk mendapatkan bahan baku dan juga pemasaran. “Yang lebih penting adalah keuntungan yang didapat bisa lebih besar. Gamelan ini dikerjakan selama minimal tiga bulan, untungnya kotor cuma Rp 15 juta. Misalnya dikerjakan sepuluh orang sebulan per orang hanya Rp 500 ribu. Ini harus ditingkatkan,” tegas dia.

Minimal, Koster berharap pengrajin bisa mengantongi keuntungan sebesar 25 persen dari keuntungan. Ia punya jurus jitu untuk meningkatkan pendapatan itu. Ada beberapa hal yang menurut Koster bisa mengatrol keuntungan harga jual kerajinan gamelan yang diproduksi di sini. Pertama, gamelan yang diproduksi di sini bahan materialnya cukup bagus. Kedua, nilai kerajinannya cukup tinggi. Ketiga, waktu pengerjaannya memakan waktu yang cukup lama.

 Keempat, industri ini harus memiliki kemampuan spesifik. “Maka mesti dihargai. Pemerintah daerah harus memikirkan regulasinya untuk melindungi ini. Ke depan, akan dijadikan sebagai salah satu model perlindungan industri rakyat berbasis budaya, di sentra-sentra, dibuatkan perdanya, supaya hasil penjualannya lebih bernilai untuk meningkatkan kesejahteraan pengrajin,” papar Koster.

“Yang juga perlu ditangani adalah hak paten. Merk juga perlu. Kalau sudah dipatenkan, nilai jualnya lebih tinggi lagi. Ini hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk melindungi kearifan lokal seperti ini, termasuk para pekerjanya,” tambah dia. Koster menyempatkan diri mengunjungi Tempat Pemindangan Ikan (TPI) Kusamba. Koster inin melihat dari dekat bagaimana proses pemindangan ikan dilakukan.

Koster mendengarkan dengan baik penjelasan dari seorang ibu bernama Ni Ketut Sutarmi mengenai proses pemindangan. “Ikannya tidak semua dari nelayan sini, Pak. Ada juga yang didatangkan dari Karangasem,” jelasnya. Koster kemudian berkeliling melihat lebih jauh TPI ini. Dari penjelasan Ni Wayan Seki ia juga mafhum jika ibu-ibu yang tengah sibuk bekerja merupakan karyawan belaka.

 “Tempatnya yang punya ada bosnya, nyewa ke desa adat. Saya hanya bekerja di sini,” ujarnya. Koster menilai lokasi pemindangan tersebut perlu diperhatikan sanitasi dan kebersihannya, termasuk tempat pembuangan limbah. “Pemindangan ini perlu dikembangkan agar lebih higienis dan modern, sehingga kualitas ikan pindang yang dihasilkan lebih baik,”pungkasnya.

wartawan
Redaksi
Category

Grab Dorong Inklusivitas Lewat Edukasi Bahasa Isyarat dan Rompi Khusus Mitra Tuli

balitribune.co.id | Denpasar - Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional, Grab Indonesia kembali menghadirkan semangat “Teman Setara: Satu Ekosistem, Semua Bisa Tumbuh” melalui rangkaian kegiatan bersama Mitra Pengemudi, Mitra GrabMerchant, pengguna, dan karyawan internal.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Ramadhipa Siap Melesat, Jaga Asa Papan Atas Moto3 Junior Aragon

balitribune.co.id | Jakarta – Pebalap muda binaan PT Astra Honda Motor (AHM), M. Kiandra Ramadhipa, siap menghadapi putaran keenam FIM Moto3 Junior World Championship 2026 di MotorLand Aragón, Spanyol, 25–27 September 2026. Berada di posisi kelima klasemen sementara dengan 80 poin, Ramadhipa bertekad memanfaatkan dua balapan di Aragón untuk terus bersaing di papan atas.

Baca Selengkapnya icon click

Sensatia Gandeng Seven Clean Seas Bersihkan 173 Kg Sampah di Pantai Padang Galak

balitribune.co.id | Denpasar - Sensatia berkolaborasi dengan Seven Clean Seas menyelenggarakan aksi bersih pantai di Pantai Padang Galak, Bali, pada Sabtu (19/9/2026). Kegiatan ini melibatkan 75 peserta yang terdiri dari masyarakat setempat dan karyawan Sensatia, yang bersama-sama mengumpulkan sekitar 173 kg sampah dari kawasan pesisir tersebut. Sampah yang terkumpul terdiri dari 41 kg sampah organik, 35 kg sampah plastik, dan 97 kg sampah residu.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Sengketa Tanah Subak Kerdung, Kuasa Hukum Sebut Ada BAP Palsu

balitribune.co.id | Denpasar – Babak baru persidangan sengketa tanah di Subak Kerdung, Pedungan, mengungkap sejumlah fakta di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (24/9/2026). Tim kuasa hukum terdakwa Anak Agung Ngurah Darmawan menilai kasus yang menimpa kliennya merupakan bentuk kriminalisasi yang diwarnai dugaan rekayasa dokumen dan BAP palsu.

Baca Selengkapnya icon click

Keluarga Berintegritas, Rumahku Surgaku

balitribune.co.id | Keluarga berintegritas tengah menjadi impian besar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI di dalam upaya mereka memberantas korupsi di tanah air. KPK beranggapan bahwa nilai-nilai antikorupsi perlu tumbuh dan dipraktikkan mulai dari keluarga karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat di mana seseorang belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.