Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Memimpin Itu Menderita

Bali Tribune / Umar Ibnu Alkhatab - Analis Kebijakan Publik
balitribune.co.id | Ada sebuah pepatah Belanda, dan ini sering dikutip oleh para penulis yang berminat dalam hal kepemimpinan demi menggambarkan betapa seseorang yang menjadi pemimpin itu harus bersedia meninggalkan semua kemewahannya untuk menangkap suasana kebatinan publik yang tertindas dan terkalahkan oleh kebijakan yang tidak menguntungkan bagi mereka. Bahkan bersedia hidup apa adanya demi menyelaraskan diri dengan kondisi rakyat kebanyakan yang hidup dalam kesulitan akibat buruknya tingkat kesejahteraan dan rendahnya pendapatan ekonominya. Dan bahkan ketika ia memimpin dalam sebuah masyarakat yang sudah mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan tingkat kemakmuran bangsanya demikian tinggi pula, ia tidak lantas leha-leha dan berusaha memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Ia tetap menjadi pemimpin yang apa adanya, yang mencurahkan semua waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kemajuan publik, tanpa sedikitpun berpikir untuk memperkaya diri, apalagi memperkaya keluarganya. Sudah cukup baginya sebagai pemimpin yang memiliki kekuasaan yang nyaris absolut dan itu digunakan untuk kepentingan masyarakat dan bangsanya.
 
Leiden is lijden, memimpin adalah menderita, demikianlah pepatah Belanda itu berbunyi, dan tentu saja pepatah itu berupaya menjelaskan bahwa menjadi pemimpin itu bukan untuk meraih hidup senang, hidup yang bergelimang fasilitas dan tunjangan, tetapi guna mencapai hidup yang berarti, yakni hidup yang bermanfaat bagi masyarakat yang dipimpinnya. Jika kita mendalami lebih jauh, maka makna hakiki dari pepatah itu jelas menyiratkan bahwa memimpin adalah mengemban amanah, bukan menikmati kewenangan yang diberikan publik, memimpin adalah bersedia berkorban, bukan menuntut dihormati, memimpin adalah kerelaan melayani, bukan memaksakan kehendak. Itulah sebabnya mengapa setiap pemimpin dituntut untuk tidak menggunakan aji mumpung untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya, tetapi memanfaatkan aji mumpung untuk menyelesaikan semua problem yang dihadapi oleh masyarakat. Selagi ada kesempatan, gunakanlah untuk kemaslahatan masyarakat, bukan dipakai demi kemaslahatan diri dan keluarga atau kroninya.
 
Termasuk dalam kategori leiden is lijden adalah kesediaan untuk menerima kritik yang paling pahit sekalipun, bahkan secara lapang dada menerima umpatan dan fitnah yang dimuntahkan oleh siapapun, baik dari musuh politiknya maupun masyarakat biasa yang tidak menerima setiap kebijakan yang diambilnya. Kesediaan untuk menerima itu semua adalah bukti kuatnya karakter dan integritas seorang pemimpin. Sebab, dengan waktu yang terbatas, adalah mubazir jika setiap umpatan dan fitnah itu direspon, bahkan bisa disebut pemimpin yang tidak produktif karena menghabiskan waktunya hanya untuk bereaksi terhadap hal tersebut. Jika ada pikiran yang bagus dari kritik publik, maka langkah yang paling murah adalah memperbaiki kebijakan yang sudah diambil atau menunjukkan bukti keberhasilan dari kebijakan itu. Sekali lagi, kesediaan menerima segala kritik, umpatan, dan bahkan fitnah adalah bukti kuatnya karakter dan integritas seorang pemimpin, apalagi ia sendiri telah bersedia mengambil peran sebagai pemimpin, dan karena itu harus bersedia pula menerima semua isi hati publik, baik yang bagus maupun yang jelek, baik yang manis maupun yang pahit. Sepanjang isi hati publik itu menyangkut kebijakan yang diambil dan tugas yang diemban, sepanjang itu pula seorang pemimpin harus bersedia menampung dan mengartikulasikan isi hati publik itu. Tidak ada alasan untuk melawan masyarakat atau melaporkan masyarakat kepada penegak hukum, jika kritik mereka ditujukan kepada kebijakan dan tugas seorang pemimpin, meski kritiknya itu sangat pahit sampai menusuk hati.
 
Salah satu eksemplar dari leiden is lijden yang bisa kita tunjukkan adalah sosok Pak Koster. Dalam posisinya sebagai Gubernur Bali, yang telah bekerja keras, kadang tak mengenal waktu, Pak Koster kerap menerima kritik dan bahkan fitnah secara bertubi-tubi dari sebagian publik yang tidak suka dengan kebijakan yang diambilnya. Di media sosial, kita bisa membacanya, betapa bulian dan fitnah terhadap diri Pak Koster begitu riuhnya. Tetapi Pak Koster menerima segala kritik, bahkan bulian dan fitnah, yang datang kepadanya itu dengan kesiapan yang prima. Bahkan saat memberikan pidato pada acara memperingati empat tahun kepemimpinannya, ia mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah memberikan kritik keras dan pedas melalui media sosial itu kepadanya. Pak Koster justru memandang kritik itu sebagai suatu kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam pelaksanaan pembangunan Bali. 
 
Selama empat tahun memimpin Bali bersama Wakil Gubernur Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati, Pak Koster melihat seluruh kritik saran yang datang secara alamiah membangun kesadaran dirinya terhadap berbagai sikap yang dimiliki masyarakat. Pak Koster menyadari bahwa menjadi pemimpin itu penuh dengan resiko, ada yang menghargai, memuji, menghormati, tetapi ada juga yang mencaci maki, menghujat, dan memfitnah. Menyikapi itu semua, Pak Koster meletakkannya dalam ruang yang sama, layaknya lautan luas nan dalam, selalu menampung apapun yang datang, dan pada akhirnya dilebur dalamnya.
 
Tentu saja, leiden is lijden adalah sebuah resiko bagi siapapun yang menyediakan dirinya sebagai pemimpin publik. Oleh karenanya, setiap pemimpin harus mengambil sikap berani untuk dikritik dan menyadari sepenuhnya akan kemampuan diri sendiri di dalam memimpin bahwa ada lebih kurangnya, ada benar salahnya. Serta memandang kritik sebagai suatu kepedulian dan tanggung jawab bersama di dalam mengelola kepentingan dan kemaslahatan publik. Pada konteks ini, Pak Koster telah memperlihatkan dirinya sebagai pemimpin yang bersedia menderita dengan menampung semua kritikan, bulian, dan fitnah. Pak Koster meletakan semua itu dalam bejana ketulusan yang pada akhirnya secara alamiah membangun kesadarannya untuk secara ikhlas menerima berbagai sikap pribadi masyarakat terhadap dirinya. Bejana ketulusan yang dimiliki Pak Koster layaknya lautan luas nan dalam yang selalu menampung apapun yang datang, dan pada akhirnya dilebur di dalamnya. Bagi Pak Koster, berbagai sikap publik dimaknai sebagai bagian dari proses pembersihan jiwa dan raganya sehingga pribadinya yang banyak kekurangan menjadi lebih baik dan semakin matang sebagai pribadi dan pemimpin Bali.
 
Akhirnya, leiden is lijden adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang yang terlibat dalam urusan publik, apalagi ia memanggul tanggung jawab besar sebagai seorang pemimpin. Leiden is lijden adalah pilihan untuk siap ngayah secara total, lascarya niskala-sakala, tidak ada kata mengeluh selain kerelaan untuk melayani publik secara total, dicaci dan difitnah harus dianggap sebagai suplemen untuk memperbaiki kinerja, dan menjawab kritik dengan kerja keras dan cerdas. Wassalam.
 
(Jogjakarta, 6 Oktober 2023).
wartawan
Umar Ibnu Alkhatab
Category

Bupati Gus Par Tandatangani Kerja Sama Pajak, Perkuat Sinergi dengan Pemerintah Pusat

balitribune.co.id | Amlapura - Pemerintah Kabupaten Karangasem terus memperkuat langkah dalam pengelolaan keuangan daerah. Salah satu upaya terbaru adalah dengan ikut menandatangani Perjanjian Kerja Sama Optimalisasi Pemungutan Pajak Pusat dan Pajak Daerah (PKS OP4D) Tahap VII Tahun 2025.

Baca Selengkapnya icon click

Ny. Rai Wahyuni Sanjaya Hidupkan Semangat Seni Perempuan Melalui Lomba Gong Kebyar Wanita Tabanan 2025

balitribune.co.id | Tabanan - Seni gong kebyar di Kabupaten Tabanan dikenal sebagai wujud ekspresi budaya yang bernilai tinggi, mencerminkan keindahan, kekompakan, serta kedalaman rasa dalam setiap tabuhannya. Dalam upaya melestarikan dan menghidupkan warisan tersebut, Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Ny.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Penutupan AKSIKU 2025 Meriah, Lapangan Ide Dewagung Jambe penonton membludak

balitribune.co.id | Semarapura - Rangkaian kegiatan Apresiasi Kreativitas Seni dan Inovasi Klungkung (AKSIKU) tahun 2025 ditutup dengan meriah oleh gelaran Lomba Balaganjur Ngarap Tingkat Remaja di Alun-Alun Ida Dewa Agung Jambe, Klungkung, Sabtu (18/10) malam. Kegiatan ini secara resmi ditutup oleh Bupati Klungkung, I Made Satria, yang sekaligus menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba.

Baca Selengkapnya icon click

Posisi Semu Matahari Sebabkan Suhu Panas Meningkat

balitribune.co.id | Singaraja - Keluhan masyarakat terkait adanya peningkatan suhu panas belakangan mulai mengancam kesehatan warga. Banyak yang yang menduga cuaca panas terjadi karena berlangsung gelombang panas menerpa wilayah Bali khususnya Buleleng.

Lantas apa kata BMKG soal suhu panas yang meningkat ini?

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Hari Asuransi 2025 Digelar di Bali Mengusung Tema “Literasi Asuransi Untuk Negeri”

balitribune.co.id | Badung - Hari Asuransi yang diperingati setiap tanggal 18 Oktober, pada tahun ini memasuki perayaan yang ke-19. Dalam kesempatan ini, Dewan Asuransi Indonesia (DAI) menunjuk Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) sebagai Ketua Pelaksana Hari Asuransi 2025, dengan berkolaborasi bersama seluruh asosiasi perasuransian yang berada di bawah naungan DAI.

Baca Selengkapnya icon click

Road to Nusa Dua Festival 2025: ITDC Tanam 320 Mangrove di Pulau Pudut

balitribune.co.id | Nusa Dua - Kegiatan penanaman 320 pohon mangrove jenis Rhizophora Mucronata di area Pudut, Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Kabupaten Badung digelar pada Jumat (17/10) yang merupakan Road to The Nusa Dua Festival 2025 oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui The Nusa Dua bersama UPTD Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.